Tag Archives: Sabrank Suparno

Karya yang Berselancar di Arus Zaman

Sabrank Suparno *

Manusia wajib menikahi zamannya, hidup satu rumah sebagai suami-istri. Sementara zaman sebagai pasangan, adalah sosok yang tak bisa tua, sedangkan manusia sosok yang terbatas usia. Lantas bagaimanakah pergolakan bathin menyikapi pasangan yang konstanta?

Gedung Kesenian Cak Besut

Sabrank Suparno

Saya membayangkan ada dialog antara almarhum Cak Besut dengan Cak Durasim. Bisa juga perbincangan dua tokoh maestro Ludruk itu benar-benar terjadi di alam kubur. Indikatornya apa? Jawabnya gampang, hingga membuat anda tidak tidur bermalam-malam. Apalagi ketika anda mengetahui analogi jawaban perbincangan dua maestro Ludruk ini sambil nyeruput kopi racikan Yu Darmani pengelola warung kopi nyentrik di pojok pintu masuk Desa Nglele Kecamatan Sumobito. Bukan sekedar rasa dan aroma kopinya yang cospleng, tapi di warung kopi Yu Darmani inilah seluruh teman penulis (seniman) baik lokal, regional, nasional, bahkan Miguel Fonsecca Horta seniman dari Portugis pernah saya ajak nyeruput kopi di warung ini.

Dari Jula Juli Jombangan hingga Ringin Contong Berbuah Berondong

Sabrank Suparno
Radar Jombang-Mojokerto, 18 Mei 2014

Lek nyang nJombang kampunge Sengon
Lemah geneng akeh wedhine
Najan gak sambang kirimo ingon
Lek gak seneng opo mestine

Puisi dan Berbagai Kasus Mutilasi

Sabrank Suparno *

Bagi penyair (sastrawan), puisi ibarat sebilah pedang. Kekuatan dan kegunaan puisi disetarakan senjata untuk melumpuhkan lawan atau menikam diri sendiri. Kedua sasaran puisi tersebut baik eksteren maupun inheren berposisi sebagai sektor incaran dari fungsi terciptanya sebuah puisi. Yang jadi pertanyaan adalah puisi yang bagaimana? Pedang yang mengapa? Pertanyaan atas puisi dan pedang tidak dapat dibatasi, sebab keduanya hanyalah alat. Namun jika puisi disejajarkan pedang, yang memegang peranan penting atas alat, adalah siapa yang memainkan pedang tersebut. Dapatkah sebilah pedang dipergunakan mengalahkan lawan secara indah dan mengesankan?

Sayap-Sayap Langit ke Tujuh

Sabrank Suparno

Ada pertalian khusus tema Padhang Mbulan 11 Maret 2012 dengan Padhang Mbulan 6 April 2012, yakni lontaran pemikiran Cak Nun mengenai tingkat kedalaman pengetahuan Nabi Muhammad. Hingga pada pertemuan April kemarin Cak Nun getol membahas ulang soal pertanyaan: Apakah Rasul mengetahui jika di planet lain ada makhluk? Sejak kapan Rasul mengetahui segala hal yang sudah dan akan terjadi dalam sejarah?