Posted by PuJa on May 9, 2012
DENDAM TERDALAM berkelabat kabutku kaurekahkan rindu paling sembilu, menjulur panjang seluhur lelaku kasih sayang, dengan leluasa renungku meruang menafsir cinta serupa sihir. aku bermukim di rahim terdalam tempat kau melesakkan dendam, aku terdiam di redam ranum ronamu yang dulu selalu kukulum, kuibaratkan kau api yang rindu di dalam tungku, melepas hawa hangat di lelubuk kalbu.
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on April 26, 2012
TADARUS JARAN GOYANG membuka sebuah kitab dan merapalnya dalam tanda-tanda pada jalan gaib yang diselimuti kabut-kabut waktu bermula dari bisikan hasrat dalam satu ruang keramat kau tiupkan ruhmu pada hati yang kemarin beku di muara sepi dan sunyi sajakmu
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on April 22, 2012
GUA HIRA demi rongga yang tercipta sebagai gua yang hadir dari sejarah tua mengisyaratkan ketakberhinggaan dalam ruang riung yang tak raib oleh riap kekhusukan juga waktu yang tak henti tersedu karena wahyu gunung, yang kepadanya bersemayam kegundahan menciptakan tempat senyap dalam berkholwat menjadi dermaga saat mula wahyu diterima
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on April 17, 2012
http://balipost.com/ Seloka Tentang Luka -ayunda Dewi Linggasari- dan bunga-bunga pun luruh bersandar di pundak latar bagai jemari subuh teguh merengkuh fajar engkau penyair yang menepi bersuluk dalam lubuk sepi dalam hatimu tak kuasa menahan getar
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on April 16, 2012
http://www.lampungpost.com/ Rerumput Kami sungguh ingin tumbuh dari subuh ke subuh, kami ingin tumbuh menentang langit mau runtuh, rebah ke tanah, dan menimpa kali yang maha rusuh, di pinggiran kami.
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on March 15, 2012
http://oase.kompas.com/ MANCING -melamun di atas jembatan madiun 1, Melempar senar tafakur. Jauh dan dalam Ke kedung renung. Memancing ilham Di pucuk malam, luruh serpih perasaan Hanyut di arus bengawan ketiadaan
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on March 14, 2012
KATARSIS :/Hadi Napster Apa itu kehidupan ? Kehidupan itu kematian yang merintih saat ianya, kematian tahu doa adalah kandil kepedihan serupa semangat seperti dedaun gugur, jatuh di tanah jadi humus.
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
Memapah Kota Yang Dibangun Dari Harum Tubuh :Untuk Gadis Banyuwangi Adinda, masihkah kau mengelilingi danau rindu tempat Surati bersemayam. Harum Surati menebar wewangian pada malam ganjil aku mengenang wajahmu. Mata yang ditumbuhi bunga-bunga kenanga pada kota yang di bangun dari tubuhnya. Maut yang lahir dari rasa sesal atas laku diri dan cinta menjadi duka.
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on February 10, 2012
http://www.suarakarya-online.com/ Cacing Tanah – Ria Rossiana bukan karena kau sampah maka aku mencintaimu yang menghumus tanah dengan rindu-rindu tumbuh dengan jantung terbelah menengadah untuk sesuatu yang serba biru yang kupungut kemudian kau usut yang kutabur kemudian kau gembur lalu aku menyusu dari rahimmu
Filed under: Sajak