Posted by PuJa on January 14, 2012
GELEGAR DI BALIK HALILINTAR Bermandi hujan bersabun angin; Terbelalak jiwaku digertak halilintar Sampai terjaga oleh tanya gemetar… Hai, hujan… Hangat dan payau airmu segarkan aku, Kenapa kau semprotkan kilat?
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
http://lampungpost.com/11 Nov 2011 Kepada Burung-Burung Gereja di Semulijaya Teruslah berceloteh ucapkan selamat datang pada matahari dan biarkan sisa embun merencanakan kematiannya sendiri ayo mengepaklah kibaskan angin di ujung sayapmu dan senandungkan langgam pagi bening yang kerap lembab di mata jalang lelaki sepi
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on January 6, 2012
HAMPA Masih juga hampa Nyala matamu dusta Tapi segala gerak peristiwa Lebih suka memperkosa; Menelanjang hatiku: UntukMu (Jogja,2004)
Filed under: Esai
Posted by PuJa on December 28, 2011
Sepasang Mata di Hadapan Bejana sepasang mata kehilangan air mata ia lupa di mana menaruhnya tatkala Tuhan mengajak bertukar kata tapi aku telah menemukannya di lorong-lorong doa lalu kutuang di bejana melindunginya dari Candik Ala tanpa janji dan puisi menyala cahaya
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on October 23, 2011
Di Sebuah Ruang Kau tersipu ketika tembang kanak-kanakmu mengalun kembali di antara kering ilalang lewat lirih suara dan tiba-tiba menjelma ajal. Kau tersipu ketika tak setitikpun derai gerimis singgah lalu memendarkan kesahajaan dan kesetiaan daun jendela yang senantiasa berkabar bahwa jalan setapak menuju ziarahmu tak lagi berkelok.
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
Senja, Gadis Kecil dan Ilalang pada sepi yang belati ketika senja menyapa kau datang dengan segenggam ilalang yang resah: tentang kelukaan Dedes atas Arok yang menikam Ametung dari belakang di bumi mereka mendekam dalam bayang kejayaan Singosari.
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
Daun Saka dari Surga Daun saka, tlah jatuh dari surga ada saka di balik pintu, jelma hening dari rapuh ada saka di balik jeruji erat, rupa beban berlabuh berat
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/ Alnagi selalu kau bangunkan aku dengan sepi dan api padahal belum tunai mimpi terbuai di malam yang gulita katakan padaku bagaimana bertahan dari resapan air hujan jika setangkup atap pun sudah tak ada
Filed under: Sajak