Tag Archives: Samsudin Adlawi

Iwak Pitik, Iwak Tempe, Iwak Peyek

Samsudin Adlawi *
Majalah Tempo, 18 Nov 2013

Iki iwak pitikBeberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman gambar yang menarik melalui telepon seluler. Gambar hitam-putih yang berupa goresan tangan yang sederhana itu lebih mirip karya siswa taman kanak-kanak terdiri atas tiga gambar berbeda, tapi terangkai dalam satu cerita. Gambar pertama berbentuk ikan laut.

Pinurbo Memeluk Agama

Samsudin Adlawi *
Majalah Tempo, 2 Mei 2016

Manusia religius lazimnya memiliki kecenderungan untuk bisa sedekat mungkin dengan Tuhan, terutama ketika menjalankan ritual berdoa. Hal itu wajar. Sebab, dalam pendekatan ilmu bahasa, antara Tuhan dan manusia sebagai ciptaan-Nya memang sangat dekat. Keduanya berasal dari satu akar kata dalam bahasa Arab yang sama, yakni khalaqa. Dari khalaqa berkembang kata Khaliq (pencipta). Dalam ejaan Indonesia ditulis “Khalik” dengan huruf “K” menggunakan huruf kapital karena merupakan sebutan untuk Tuhan. Di depan kata “Khalik” biasanya didahului dengan kata “Sang”. Dari khalaqa juga lahir kata “makhluk” (ciptaan/yang diciptakan).

Binatang yang Memperkaya Bahasa

Samsudin Adlawi *
Majalah Tempo, 16 Des 2012

Binatang punya sumbangsih besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Selain serapan dari bahasa asing dan daerah, banyak kosakata untuk istilah dan ungkapan dalam bahasa Indonesia berasal dari binatang. Istilah atau ungkapan yang menggunakan nama binatang itu kebanyakan dipakai untuk mewakili ekspresi, baik negatif maupun positif.

Kata yang Berkembang Biak

Samsudin Adlawi *
Majalah Tempo, 26 Agu 2013

DALAM urusan bahasa, masyarakat Indonesia termasuk yang paling kreatif. Di tangan orang Indonesia, satu kata bisa beranak-pinak. Meski secara fisik fonemik berbeda seratus persen dengan induknya, anak-anak kata baru tidak meninggalkan tali pertautan dengan induknya. Anak kata baru itu ada yang berasal dari serapan kata asing, dari padanan kata Indonesia sendiri, bahkan dari bahasa daerah.

Puisi-Puisi Samsudin Adlawi

MEMUTAR SAMPAN

adakalanya arah sampan harus putar haluan
tapi kapan? ketika gelombang meradang?
ketika badai menerjang? ketika cadik patah sesisi?
atawa ketika kukukuku tajam angin mencabik layar?

ah tidak, ku putar haluan ketika karat bersikujur
di tubuh seketika gigigigi rontok satusatu lalu
menggoreskan lubanglubang di sekujur sampan