Posted by PuJa on May 23, 2012
Beni Setia http://www.lampungpost.com/ SASTRINA yang baik, kamu bertanya dan sekali lagi bertanya: Apa makna dari sertifikasi seniman dari Negara bagi aku. Jawabannya sederhana sekali, aku tidak tahu dan tidak ingin ambil pusing. Kenapa? Karena, pertama, dalam hal sertifikasi itu ada subjek yang punya otoritas melakukan sertifikasi, serta ada si objek yang subordinan dan baru eksis [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Dwi Rejeki http://www.suarakarya-online.com Beragam karya seni budaya asli masyarakat Papua belakangan ini mulai terancam punah. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan pada suatu saat nanti seni budaya masyarakat Papua itu hilang begitu saja karena tidak adanya regenerasi.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Renny Meita Widjajanti http://www.suarakarya-online.com/ SEMUANYA berkelebat bagai putaran seluloid. Bayangan sosok perempuan itu datang kembali memenuhi benak saya. Bibirnya yang selalu dihiasi dengan senyuman, membuat saya terkesan hingga saya tak mudah melupakan. Tiba-tiba dada saya terasa sesak, sulit bernafas. Mata saya pun terasa perih dan berair. Setiap malam saya sulit memejamkan mata. Pikiran saya selalu [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Ahmad Zaini _Radar Bojonegoro, 13 Mei 2012 Tak ada pilihan lain bagi Ila kecuali hanya satu. Dia harus tetap di rumah menjaga adiknya. Dia harus memandikan, mengganti pakaian, menyuapi makan adiknya ketika sudah waktunya makan. “Glodak!” suara benda jatuh.
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Jurnal : Tijdschrift Voor Indische Taal- Land-En Volkenkunde. Deel LXXVIII Judul Tulisan : De Plechtigheid “Waterscheppen” in Bolaang Mongondow Monajoek Polat Monondeaga Pengarang : W. Dunnebier Penerbit : Koninklijk Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Wetenschapen Tahun Terbit : 1938 Peresensi : Rahmi Hattani
Filed under: Resensi
Posted by PuJa on May 22, 2012
Sri Wintala Achmad Fajar hari. Ponsel berdering. Winarko terbangun dari tidur. Menuju meja kerja. Di mana ponsel itu berada. Mengangkatnya. Melihat sejenak nomer pengirim di layar yang belum tercatat di dalam phone book. Memencet key ‘Yes’. Hatinya bergetar. Winarko menempelkan erat ponsel itu di telinganya. “Hallo!”
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on May 21, 2012
Saifur Rohman Cerpen-cerpen Indonesia mutakhir diwarnai oleh komodifikasi yang bisa disingkat dengan jimat “cerpen koran”. Bentuknya ringkas, isinya padat, dikemas dengan gaya yang unik, selesailah. Seperti membuat pop mie; cepat saji, segar, dan gurih. Di tengah-tengah komodifikasi itu, kumpulan cerpen bertajuk Ritual (2012) karya Han Gagas sesungguhnya bisa diapresiasi sebagai sebuah perlawanan yang betul-betul berani [...]
Filed under: Edisi Khusus, Esai
Posted by PuJa on May 20, 2012
Mahwi Air Tawar http://cerpenkompas.wordpress.com/ 1/ Ia bergegas. Tangan kirinya menyingkap ujung sarungnya hingga beberapa inci dari mata kaki. Layaknya seorang penari memainkan satu komposisi. Berlenggak. Pinggulnya bergoyang ke kanan ke kiri, melangkah pasti sambil menjejaki jalan setapak perkampungan. Sementara lentik jemari tangan kanannya mengapit sisi bundelan kain agar tak tergelincir dari kepalanya.
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Damhuri Muhammad * Kompas, 15 Maret 2009 SEBERAPA jernih raut wajah mencerminkan kejatidirian yang paling asali? Lelaku, sifat dan tabiat barangkali memang dapat tergambar dari garis-garis wajah. Dalam realitas yang menyehari, pertanda amarah biasa digambarkan oleh rona muka merah-padam, begitu pun keramahan, tertandai dengan raut wajah yang bersih dan berseri-seri.
Filed under: Esai