Tag Archives: Sastra-Indonesia.com

Merekam Jejak Konflik dalam Sastra Nusantara…

Masriadi
Kompas, 10/08/2015

“Ketika jurnalis dibungkam, sastra yang harus bicara.” Ungkapan Seno Gumira Ajidarma itu tampaknya benar-benar dilakoni oleh sejumlah jurnalis dan penulis di Indonesia. Terkadang, cerita dalam konflik yang diketahui jurnalis atau penulisnya tidak bisa dipublikasikan sebagai produk berita.

Menelusuri Jejak-jejak Sumber Sastra Nusantara

Judul: Kembali ke Akar Kembali ke Sumber
Penulis: Abdul Hadi W.M.
Tahun: Juni 2016
Penerbit: Diva Press
ISBN: 978-602-391-153-0
Halaman: 388
Diresensi: Rachmanto *
Koran Jakarta, 8/2/2017

Berlari Mengejar Gagasan

Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd *
kebonagungadalahsurga.wordpress.com

DARI MANA datangnya gagasan satu tulisan?

Tentulah bisa dari rupa-rupa sumber: tak ada sumber tunggal yang wajib ditimba oleh seorang penulis untuk menggapai, menemu atau menjemput suatu gagasan guna dituang ke dalam satu tulisan. Pendapat orang per orang, ingatan pribadi atau bersama, figur manusia, pengalaman pribadi atau kolektif, pemikiran orang per orang, dan peristiwa atau kejadian tertentu yang tersebar dan terserak di lapangan kehidupan manusia, bisa menjadi sumber mendapatkan gagasan satu tulisan.

‘Tanda dan Melampaui Tanda’

Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna (2003)
Audifax *
rumahbukuku.wordpress.com

‘Tanda dan Pelampauan Tanda’, itulah yang saya tangkap dari buku ‘Hipersemiotika – Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna’ yang terbit pada tahun (2003). buku karya Yasraf Amir Piliang ini pernah terbit sebelumnya dengan judul ‘Hiper-realitas Kebudayaan’ yang kemudian ‘diterbitkan kembali’ dengan beberapa penambahan. buku ini, bisa dikategorikan sebuah pengantar untuk memelajari semiotika posmodern, atau postrukturalisme

ESTETIKA SKIZOFERNIA: KEMUNGKINAN DAN KETIDAKMUNGKINAN “MUSEUM PENGHANCUR DOKUMEN”

Dedi Sahara
mengebiriwaktu.cf

Dalam buku antologi Museum Penghancur Dokumen —dalam esai penutupnya— Afrizal Malna mengatakan bahwa “puisi dengan bahasa sebagai mediumnya, tetapi bukan berarti bahasa sebagai identitas puisi”. Dengan kata lain bahwa puisi, walaupun menggunakan bahasa, tetapi bukanlah produk bahasa. Lebih lanjut lagi Afrizal mengatakan bahwa “puisi sebagai karya seni dari pada sebagai karya sastra”.