Posted by PuJa on May 18, 2012
Sihar Ramses Simatupang _Sinar Harapan, 29 Agu 2008 Rona jingga ditaburkan/ Kesenduan sinar rembulan ditata/ Untaian berlian di langit ditaburkan/ Kesejukan air diisi sebagai bejana kehidupan. UNTAIAN puisi semacam itu terselip di antara halaman akhir novel Martha Sinaga. Karyanya yang bertajuk Ketika Cinta Kembali memang ditampilkan dengan bahasa puitik dan cenderung populer.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on May 8, 2012
Sihar Ramses Simatupang Sinar Harapan, 5 Mei 2012 “Jika puisi dimusikalisasikan maka puisi itu akan semakin kokoh di mata penikmatnya. Puisi menjadi gagah, terutama bila si pemusik tak mengunyah betul kata-kata itu,” papar Ane Matahari mengulang ungkapan mendiang Fredie D Arsie.
Filed under: Canting
Posted by PuJa on April 2, 2012
Sihar Ramses Simatupang __Sinar Harapan, 28 Feb 2009 Di areal lapangan yang menghubungkan antara Stasiun Senen dan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, di tengah penumpang kereta api yang ingin pulang dan pergi, di antara pedagang kaki lima, pengamen dan pengemis kota Jakarta, diskusi bertajuk “Sepilihan Puisi Penyair” karya Giyanto Subagio-Kongkow Sastra Planet Senen-Labo Sastra” ini pun [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on December 14, 2011
Sihar Ramses Simatupang Sinar Harapan, 29 Okt 2011 PEMBICARAAN antara pengamat sastra Manneke Budiman dan penyair Afrizal Malna yang mengetengahkan persoalan negara, khususnya kekuasaan, memperlihatkan bahwa negara telah menempatkan warga negara dan rakyat dalam posisi yang ambigu.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on August 26, 2011
Sihar Ramses Simatupang http://www.sinarharapan.co.id/ Bulan April, 38 tahun silam, di Ketanggungan Wetan NJ VI No 165 Yogyakarta, para aktor Bengkel Teater sedang berkumpul, mengelilingi seorang seniman muda. Si seniman kelahiran Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935, itu pun berbaring menerawang. Kawan-kawannya berkumpul di sekelilingnya, berusaha menulis apa yang dia dikte dan ucapkan.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on August 21, 2011
Sihar Ramses Simatupang http://www.sinarharapan.co.id/ Bangsa yang kehilangan teks sejarah dan puisinya tak lepas dari kondisi warga negara yang saat ini kehilangan nurani dan akal sehatnya. Teks sejarah dan puisi sangat paralel dengan nurani serta akal sehat. Ketika masyarakat kerajaan dan tiap suku di daerah mengalami tekanan penjajahan oleh Belanda, sikap kebersamaan untuk menyatukannya sangatlah diperlukan.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 8, 2010
Sihar Ramses Simatupang http://www.sinarharapan.co.id/ Teaterikalisasi puisi dari buku antologi karya penyair Radhar Panca Dahana yang berjudul Lalu Batu kemarin digulirkan Teater Kosong di Gedung Kesenian Jakarta 10-11 April. Para aktor menyajikan pertunjukan yang ekspresif. Padahal, improvisasi bahasa puisi yang menjadi ”bahasa milik aktor” bukan pekerjaan yang mudah.
Filed under: Canting
Posted by PuJa on November 7, 2010
Sihar Ramses Simatupang http://www.sinarharapan.co.id/ Sebuah kampung, komunitas sastra, dengan “kepala suku”-nya Gola Gong yang pernah dikenal dengan novel remaja Balada Si Roy, merupakan komunitas yang aktif dalam hal pustaka dan regenerasi penulis. Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) yang bermarkas di Serang Banten saat ini sedang mengagendakan jadwal kesenian rutin, khususnya kesusastraan. Agenda untuk mengundang para seniman [...]
Filed under: Canting
Posted by PuJa on
Sihar Ramses Simatupang http://www.sinarharapan.co.id/ Selama ini kita lebih mengenal sajak-sajak cinta karya Khalil Gibran dan May Ziadah. Padahal, dalam kesusasteraan Indonesia dari abad ke-16, ada nama Hamzah Fansuri dan Rabiah Al Adawiyah yang karyanya tak kalah besar. Di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (27/12), kumpulan sajak karya Rabiah yang berjudul Love Undererasure (Cinta di Bawah Karet [...]
Filed under: Canting