Tag Archives: Soeprijadi Tomodihardjo

Malaikat Bernama Armagedon

Soeprijadi Tomodihardjo*
http://www.jawapos.com/

KETIKA gereja berperan sebagai penggerak kekerasan terhadap para pembela kebebasan, Friedrich Schiller (1759-1805) justru tampil dengan mengambil sikap sebaliknya. Dia menjunjung tinggi kebebasan. Dalam sebuah analisis filosofisnya, sastrawan klasik Jerman itu berujar: ”Bagi umat manusia, tak ada sesuatu yang lebih hina daripada membiarkan diri menjadi korban kekerasan. Bahkan, siapa secara pengecut bertekuk-lutut di depan kekerasan, dia mencampakkan kemanusiaannya sendiri. Sebaliknya, siapa yang melakukan kekerasan terhadap sesama manusia, patut diragukan rasa kemanusiaannya.”

R Y A N

Soeprijadi Tomodihardjo*
http://www.jawapos.com/

SAYA tak ingat lagi kalimat dia selengkapnya, namun ketika Ambar menelepon, saya tahu pasti, pengakuan itu bukan orang lain yang mengucapkannya, melainkan si anak muda: ”They are my parents.” Sejak itu tiada lagi sesuatu yang perlu saya ragukan.
***

Barangkali sudah lama anak muda itu berada di tepi jalan sana, tetapi saya baru tahu ketika berdiri di balik gorden jendela ruang depan. Di bawah cahaya remang kekuningan lampu jalanan, ia coba membaca tulisan yang agaknya tidak jelas pada selembar kertas, lalu diselipkan dalam saku di balik dada jaketnya.

Tembok

Soeprijadi Tomodihardjo*
http://www.jawapos.com/

BEBERAPA minggu sejak bertemu juru rawatnya belum juga saya pe?nu?hi janji menjenguk lelaki itu. Kesibukan kerja menjelang tutup buku bulan Desember ini rasanya bukan alasan la?gi karena sudah berkali-kali saya sampaikan. Akhirnya pada hari tak terduga ketika handphone meringkik-ringkik di ikat pinggang, saya segera membetotnya. Tiba-tiba terdengar suara juru rawatnya.

”Tuan harus menengoknya. Saya sudah bebe?rapa kali beri tahu dia, Tuan berjanji akan me??nengoknya. Sekarang saya ulang harapan sa?ya demi rasa kemanusiaan. Bukankah dia ber?asal dari negeri Tuan? Bulan lalu kakinya di?amputasi di Amsterdam.

Hemingway

Soeprijadi Tomodihardjo*
http://www.jawapos.com/

ERNEST HEMINGWAY (1899-1961) merupakan pengarang cerita pendek, novel, dan roman Amerika paling menonjol pada zamannya. Riwayat hidupnya memuat juga sejumlah puisi, namun puisinya jarang dikenal di ranah sastra dunia. Hingga akhir 1925, hanya muncul sekitar 25 puisi, yakni puisi-puisi remaja angkatannya. Dr Hans Bastian dalam pengantar untuk buku S?mtliche Gedichte -kumpulan puisi Hemingway terbitan Rowohlt, Hamburg-Jerman- mencatat, selain ke-25 puisi tersebut, ada 70 puisi lagi yang ditemukan, berupa coret-coretan atau catatan di kertas-kertas buram yang agaknya disisihkan begitu saja oleh sang pengarang. Namun, semua itu perlu diperhatikan jika kita ingin mengenal pribadi Hemingway seutuhnya.

Sastra Eksil, Adakah?

Soeprijadi Tomodihardjo
http://www.sinarharapan.co.id/

Dalam penalaran selintas yang tiba-tiba mengundang keraguan menghadapi masa depan, ada sejenis penyakit kronis yang selama ini diderita kaum eksil Indonesia, yakni home sick: rindu kampung, kangen keluarga.

Penyakit ini sudah 40 tahun lebih melanda mereka. Saya bukan dokter tetapi sumber data Dinas Kesehatan di Jerman mencatat, banyak Gastarbeiter menderita penyakit heimweh, ya home sick itu. Tetapi para Gastarbeiter (bukan Indonesia tapi Turki, Yunani, Itali, Spanyol dsb.),