Tag Archives: Sudarmoko

SASTRA, PENERBITAN SASTRA, DAN PERSOALAN NON LITERER

Sudarmoko
staff.unand.ac.id

Penerbit karya sastra sering dilupakan dalam kajian sastra. Padahal, dalam proses penerbitan inilah banyak terjadi perubahan teks, tarik-menarik kepentingan antara penerbit dan pengarang, wujudnya pengaruh lingkungan sastra, pengendalian orientasi pembaca berdasarkan pandangan penerbit, dan juga ideologi yang sering bersinggungan atau bersebarangan.

“Kekuasaan” Redaktur Sastra di Media Massa

PENCIPTAAN DAN PUBLIKASI KARYA SASTRA
Sudarmoko
http://www.harianhaluan.com/

Kekuasaan arus utama yang digerakkan oleh redaktur sastranya ternyata masih berlangsung dan malah didukung oleh para pengarang.

Pertaruhan penciptaan karya sastra tidak hanya seka­dar estetika teks, namun juga sangat dipengaruhi oleh aspek lain di luar teks karya sastra. Sebabnya jelas, karya sastra tidak lahir dari dunianya sendiri, yang murni sastra, namun berkutat dan berjejaring dengan realitas di luar dirinya.

Masih Adakah Dewan Kesenian Sumatera Barat?

Sudarmoko
http://www.harianhaluan.com/

Sudah setahun lebih, masa kepengurusan Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) berakhir.

Artinya, tidak ada otoritas yang dimilikinya bahkan untuk sekadar membubarkan diri dan mengadakan pe­milihan kepengurusan beri­kutnya. Sebuah kondisi yang sangat tragis, yang mungkin disebabkan oleh sejumlah hal. Ada kabar yang berhembus, untuk mengadakan kongres seniman dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sedikit Gambaran Sastra Indonesia di Sumatera Barat

Tanggapan Terhadap Tulisan Darman Moenir dan Devy Kurnia Alamsyah
Sudarmoko
http://www.harianhaluan.com/

Sepanjang sejarahnya, Sumatera Barat menjadi bagian yang penting dari sedikit daerah di Indonesia yang dalam segi jumlah memberikan pengaruh penting dalam kesusastraan.

Hingga tahun 1977, kehi?dupan sastra Indonesia modern di Sumatera Barat dicatat dengan baik oleh Nigel Phillips dalam artikelnya di Indonesia and the Malay World (Vol. 5(12): 26-32),?Notes on Mo?dern Literature in West Suma?tera?.

Kritik Sastra, Kritikus Sastra, dan Latar Belakangnya

Sudarmoko
http://koran.kompas.com/

Kajian akademik terhadap karya sastra Indonesia dimulai sejak mulai dibukanya lembaga pendidikan seperti fakultas Sastra di UI berupa sekolah tinggi sastra dan budaya sejak tahun 1929, atau UGM dengan fakultas sastra, pedagogik, dan filsafatnya tahun 1950. Kita pun baru mengenal kritikus sastra seperti Teeuw, Jassin, Umar Junus, dan beberapa nama lain kurang dari 50 tahun ini. Lalu, bagaimana kehidupan kritik dan kajian sastra sebelumnya? Dan apa pentingnya membicarakan dan mengotak-ngotakkan kritikus dan apresiator sastra Indonesia?