Tag Archives: Sulaiman Djaya

AL-QUR’AN, SAINS-PUISI, MIMPI EINSTEIN

Sulaiman Djaya *
sulaimandjayaesai.wordpress.com

Esai singkat, yang sifatnya diaris ini, tentu saja, merupakan tafsir subjektif saya tentang waktu dan dalam keterkaitannya dengan dunia puitis dan sains, yang tentu juga dipandang secara subjektif, dan saya ingin memulainya dengan prosa-puitisnya Alan Lightman yang ia tuangkan dalam buku Mimpi-Mimpi Einstein-nya itu:

Pantun, Lirik, dan Mantra “Api Bawah Tanah” *

Sulaiman Djaya
http://situseni.net

“Lewat tangan daratan
yang terulur ke laut
Kami memandang tanah seberang
bangsa-bangsa, aneka suku
membayang. Juga benua jauh
dan nasib yang disisihkan.”

Ihwal Puisi

Sulaiman Djaya *
radarbanten.com Mar 10, 2013

“Aku tak ingin membuat janji apa pun untuk saat ini. Tapi kutahu kala kau berdoa, di suatu tempat di dunia ini, sesuatu yang baik akan terjadi” (Hafiz dari Shiraz).

Suatu ketika Heidegger terkagum-kagum ketika membaca puisi-puisinya Friedrich Holderlin, yang kala itu, sebagaimana dalam bahasa Heidegger sendiri yang bila saya bikin longgar, telah menyadarkan kita tentang “seni melihat” yang selama ini dilupakan para pemikir dan filsuf yang telah terjebak oleh paradigma cartesianisme.

Filsafat dan Terorisme

Sulaiman Djaya
http://sulaimandjayaesai.wordpress.com/

“Untuk menghabisi banyak bangsa, dengan demikian engkau telah berdosa pada dirimu sendiri” (Habakuk 2:10). Tanggungjawab filsafat terletak pada kepekaan analisisnya dengan persoalan-persoalan politik dan sejarah, begitulah ujar Giovanna Borradori dalam bukunya yang berjudul Philosophy In a Time of Terror, yang merupakan hasil diskusinya dengan dua filsuf akbar:

Paul Celan, Candu dan Ingatan

Sulaiman Djaya*
Pikiran Rakyat, 31 Mei 2009

Sang kata, pada siapa kau pamit,
menyambutmu di gerbang.
Dan yang telah menyentuhmu
di sini-tangkai, kalbu, bunga –
di sana telah lama jadi tamu
dan tak bakal lagi menyentuhmu

(Paul Celan, “Die Feste Burg”).