Menulislah untuk Mengubah Diri

Sutejo

“Tulisan itu cermin hati. Kata-kata adalah telaga. Karya itu mahkota rasa” (Sutejo)
Perahu kepenulisan tak pernah akan melawan samudera kehidupan tetapi hanyut lembut untuk menyadarkannya. (Kang Supi)
***

Usai presentasi Rabu lalu (19/2) di Mojokerto (tepatnya di XOA Resto), ada sejumlah pertanyaan dari peserta workshop begini: (i) Kala berlatih bersama para guru untuk menuliskan pengalaman, dia mampu menyelesaikan, tetapi saat di rumah mengapa kemudian macet; (ii) Apakah menulis itu membutuhkan reseach; (iii) Bagaimana cara menulis yang “kuat”; (iv) Bagaimana menulis karya yang “awet”; (v) Continue reading “Menulislah untuk Mengubah Diri”

Penulis Penjual Buku?

Refleksi Pendampingan Komunitas Baca-Tulis di Mojokerto
Sutejo

“Tugas penulis memang menulis yang berkualitas, tetapi jika tidak mengerti medan pasar, untuk apa kita menulis. Tersebab, menulis bukan sekadar idealisme tetapi juga bernilai ekonomi.” (Sutejo)
***

Sebelumnya, mohon maaf kepada para guru kehidupan yang sudah lebih dulu menulis. Ini hanya untuk menggairahkan kehidupan kata. Continue reading “Penulis Penjual Buku?”

Guru Tanpa Literasi?

Sutejo

Suatu hari, datanglah 4 orang guru ke rumah (tiga orang dari Bojonegoro dan seorang lagi dari Magetan), kemudian bercerita tentang pengalamannya berliterasi. Pertama, seorang guru Fisika ketika “meminjam” tulisan Yohanes Surya langsung diganti nama dirinya, kemudian menimbulkan masalah, bahkan harus “mempertanggungjawabkan” kesilapan akademiknya itu. Beliau dengan jujur mengakui kalau mengambil tulisan itu dan mengganti nama dirinya, tanpa mengerti bagaimana akibatnya. Ketika di Surabaya, sampai diminta untuk menandatangani pernyataan bermaterai untuk tidak mengulangi. Continue reading “Guru Tanpa Literasi?”

Lilin literasi

Sutejo
Jawa Pos Radar Ponorogo, 7/9/2017

Falsafah lilin adalah filosofi tentang pengorbanan untuk orang lain. Pengorbanan indah untuk mencerahkan kehidupan. Lilin ikhlas terbakar untuk menerbitkan cahaya kepada manusia. Lilin tak berkeluh melakukannya. Meski meleleh, lumat diri, keyakinan pengorbanannya pasti berarti. Dengan catatan, tanpa angin yang berarti, atau yang mematikannya. Continue reading “Lilin literasi”