Tag Archives: Taufiq Ismail

Kontribusi Sastrawan bagi Pendidikan Bangsa

Taufiq Ismail *
suaraleuserantara.com 12 Juli 2013

Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang sering melakukan perjalanan dinas ke luar negeri, punya kebiasaan membelikan buku untuk diberikan sebagai oleh-oleh kepada rekan-rekannya di kabinet. Ini cerita awal tahun 1990-an.

Membaca Kepeloporan Taufiq Ismail

Ahmadun Yosi Herfanda
Republika, 25 Mei 2008

SASTRAWAN Taufiq Ismail agaknya ingin menegaskan lagi kata-katanya, “Tanpa buku tidak mungkin saya jadi pengarang.” Dan, tanpa karya (yang diterbitkan menjadi buku), tak mungkin orang mengukuhkannya sebagai pengarang, sebagai sastrawan.

BUDAYA MALU DIKIKIS HABIS GERAKAN SYAHWAT MERDEKA

Taufiq Ismail *
https://komunitassastra.wordpress.com/

Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia, naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai 1998 ketika reformasi meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membuka lebar pintu dan jendela Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini digantikan angin yang semakin kencang dan arus menderu-deru.

Ada Racun Dalam Lirik Puisi Mutakhir Taufiq Ismail

Martin Aleida*
http://boemipoetra.wordpress.com/

“HU AR Rini Endo. Saya baca di Internet undangan diskusi sastra di PDS HBJ (Jum 25/3, 15:30), judul atasnya memperingati 100 hari Asep Semboja, tapi judul berikutnya yg lebih penting “ttg pengarang2 Lekra.” Moderator Martin Aleida dg 2 pembicara. Saya terkejut. Ini keterlaluan. Kenapa PDS memberi kesempatan juga kpd ex Lekra memakai ruangannya utk propaganda ideologi bangkrut ini, yang dulu ber-tahun2 (1959-1965) memburukkan, mengejek, memaki HBJ, memecatnya sampai kehilangan sumber nafkah?

Plagiarisme Taufiq Ismail

http://boemipoetra.wordpress.com/

Catatan: Coba perhatikan kedua sajak di bawah. Sajak pertama adalah karya penyair Amerika bernama Douglas Malloch (1877 – 1938) dan sajak kedua konon karya penyair Angkatan 66 Taufiq Ismail. Pada “sajak” Taufiq Ismail tsb memang terdapat beberapa perubahan kata tapi perubahan tsb tidak membuat sajak itu menjadi sebuah sajak “baru” apalagi menjadi karya Taufiq Ismail! Paling tidak sajak kedua di bawah lebih pantas disebut sebagai “sajak saduran”. Mengklaim “sajak saduran” tsb sebagai karya sendiri adalah sebuah penipuan dan pencurian Hak Cipta seniman aslinya!