Tag Archives: Tito Sianipar

Puisi Cinta Deavies Matahari

Tito Sianipar
http://www.tempointeraktif.com/

Latar panggung berupa layar lebar menampilkan gambar api yang menyala hebat. Di sisi lain panggung, dipasang tiga panel lukisan minimalis berukuran 2 x 3 meter bergambar batang pohon yang tinggal ranting dengan daun yang minim. Di tengah panggung, enam penampil yang mengenakan pakaian fit to body ketat berwarna hitam dibalut kain putih memainkan berbagai alat musik.

Sastra Perang Bagian dari Sejarah

Tito Sianipar
http://www.tempointeraktif.com/

Sejarawan Asvi Marwan Adam mengatakan karya-karya sastra yang mengangkat latar perang dapat digolongkan menjadi bagian dari sejarah. Menurut Asvi, terdapat kesamaan unsur-unsur sejarah dengan karya sastra.

Asvi menolak anggapan ahli sejarah Kuntowidjojo bahwa sejarah berbeda dengan karya sastra. Dimana menurut Kuntowidjojo sejarah berbeda dalam hal cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulannya. “Pembedaan oleh Kuntowidjodo itu masih bisa diperdebatkan,” ujarnya dalam diskusi Sastra dan Perang di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (5/12) lalu.

Gelas Merah

Tito Sianipar
http://www.tempointeractive.com/

Sebanyak 21 gelas merah berbaris membentuk sudut 30 derajat. Di ujungnya, bagian sudut, empat ekor capung berbagai warna hinggap di bibir gelas. Sementara itu, satu ekor capung lainnya baru muncul dari lubang. Capung-capung bercengkerama satu sama lain.

Itu adalah salah satu lukisan karya I Wayan Sujana yang berjudul Lorong Pertemuan. Bersama 14 lukisan lainnya, lukisan berukuran 180 x 145 sentimeter itu dipamerkan di Artsphere Galeri, Jakarta, 13 Desember hingga 12 Januari. Pameran itu diberi tajuk “Transparency”.

Estetika Puitis Nirwan

Tito Sianipar
http://www.tempointeraktif.com/

Lalu dengarlah topan malam
ketika aku mengintai di sudut terjauh
ketika kau mengasah kuku
ketika kau perawankan tubuhmu
ketika bundaku menjadi bundamu
ketika kau mencuri terang dari kulitku
ketika aku mencuri gelap dari kitab-kitabmu

Dominasi Puisi Liris

Tito Sianipar
http://www.tempo.co.id/

Lirisisme dalam sejarah perkembangan puisi Indonesia dinilai mendominasi semua ruang kreativitas, bahkan menghegemoni para penyair. Namun, tidak jarang juga para penyair muda yang keluar dari jalur utama itu dan membentuk tata bahasa sendiri di luar lirisisme.

Penyair Afrizal Malna mengatakan lirisisme bukanlah hal mutlak dalam menciptakan karya puisi. Afrizal, yang terkenal dengan gaya sastra materialisnya, menilai puisi liris telah menjadi imperium dalam dunia kesusastraan Indonesia.