PUISI SURABAYA: HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Umar Fauzi *
Surabaya Post, 23, 30 Agustus 2009

Membaca sejarah sastra (baca, perpuisian) Indonesia –pun mungkin kesusastraan dunia– dengan cara sederhana adalah membaca pengotakan zaman, sebagai khazanah yang coba dimitoskan ke dalam angkatan-angkatan atau periodeisasi kesusastraan. Dari bentukan angkatan/periode itulah, kritikus –secara sadar maupun terpaksakan– menemukan benang merah hingga layaklah disebut sebagai sebuah angkatan bla-bla-bla kesuasatraan Indonesia. Continue reading “PUISI SURABAYA: HABIS GELAP TERBITLAH TERANG”

Merayakan Chairil, Mengenang Pram

Umar Fauzi
surabayapost.co.id

Seperti berbagai pengultusan peringatan hari-hari besar atau hari bersejarah lainnya, kesusastraan Indonesia juga tidak luput dari tradisi tersebut. Bulan sastra atau oleh Sapardi Djoko Damono disebut sebagai hari sastra itu, jatuh pada bulan April, tepatnya pada tanggal 28 April. Peringatan ini ?sekaligus? untuk mengenang sang maestro sastrawan Indonesia Chairil Anwar. Dengan perkataan lain, nama besar Chairil dijadikan momentum sebagai hari Sastra Indonesia. Pada bulan ini diselenggarakan oleh berbagai pihak baik komunitas sastra maupun lembaga pendidikan berbagai macam kegiatan kesusastraan. Continue reading “Merayakan Chairil, Mengenang Pram”

Angkatan Baru Penyair Surabaya

Umar Fauzi*
http://www.surabayapost.co.id/

Estetika gelap itu mungkin akan atau sudah berlalu, dirasakan atau tidak, beberapa penyairnya mulai sedikit ?jenuh? dan membelot meski tidak secara terang-terangan dan malu-malu pada pola pengungkapan baru, tengoklah misalnya puisi Mashuri, setelah Pengantin Lumpur ?setidaknya yang terbit di media-media nasional dan lokal beberapa tahun belakang? seperti dua puisinya yang termuat antologi Pena Kencana 2008, misalnya. Continue reading “Angkatan Baru Penyair Surabaya”