Tag Archives: Usman Arrumy

Puisi-puisi Penyair Nizar Qabbani melalui Usman Arrumy, Dea Anugrah, Fazabinal Alim

Persoalan terjemahan buah karya puisi berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia
Nurel Javissyarqi *

Bismillahir Rahmanir Rahim… Sebelum merantak (merambat, menjalarnya sejenis api membakar daun-daun kering) nun jauh. Perkenalkan saya sekadar pengelana yang tak tahu menahu bahasa teks lain ‘kecuali’ bahasa Indonesia, yang ini pun masih terus mengalami perkembangannya, jadi apapun karya-karya terjemahan yang saya kunyah, makan (baca), otomatis tak paham secara persis kebenarannya, hanya meraba (ngincipi, kadang terlanjur lahap) sekaligus berjarak di sisi bercuriga,

Ketika Usman Arrumy Salah Memasuki Kebun Nizar Qabbani

Fazabinal Alim *
basabasi.co

Pada 11 Juni 2017, Dea Anugrah menulis tentang terjemahan puisi-puisi Nizar Qabbani yang meragukan di www.tirto.id. Ia membandingkan tiga buku terjemahan puisi Nizar Qabbani yang berjudul Puisi Arab Modern, Surat dari Bawah Air, dan Yerusalem, Setiap Aku Menciummu.

Puisi-Puisi Usman Arrumy

Suara Merdeka 17 Mei 2015
SENANDIKA KAMA

Setiap kali aku menghadapi puisi
Aku ingat dirimu yang menyimpan ketabahan bumi

Melalui gunung aku tahu cara merenung
Lewat lembah aku diajari cara merendah
Dan angin terus berhembus, mengelus segala yang aus
seolah membimbing bagaimana cara mencintai dengan tulus

TIGA CATATAN UNTUK BUKU MANTRA ASMARA

M.S. Arifin

[1]
Mantra Asmara: ‘Us(ma)n Arrumy dan (M.A) yang Merah’

Mantra Pembuka
Mendedahkan tinta, melumerkan rasa, menitipkan makna pada penggal kata, itulah menulis. Ia adalah kegiatan untuk meragukan sesuatu dengan berdasar keyakinan akan sesuatu. Menulis adalah upaya uzlah dari keramaian kata-kata menuju kesunyian rasa.

Sita

Usman Arrumy *

Dengan menyebut nama cinta, yang dengannya Manusia dapat merasakan Tuhan hadir dalam setiap desir. Aku berlindung dari kebencian dan dendam yang menjerumuskan.

Alif laam miim. Cinta itu, tidak ada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi mereka yang setia melaksanakan perintah kekasihnya. Yaitu mereka yang mempercayai kenangan, menegakkan rindu, dan menyerahkan hatinya.