Kalam Komunitas Kelam

Veven Sp. Wardhana
Majalah Tempo, 27 Feb 2012

Buah apel, dalam bahasa Latin, disebut malus. Tak berbeda, “apel Malang” dan “apel Washington” pun tetap saja malus. Apel adalah buah dalam makna denotatif. Yang membedakan, masing-masing dibudidayakan di perkebunan di (kabupaten) Malang, Jawa Timur, dan Negara Bagian Washington, Amerika Serikat. Itu untuk bahasa petani dan ilmu botani. Baca selengkapnya “Kalam Komunitas Kelam”

Antara Perempuan dan Wanita

Veven Sp. Wardhana *
Majalah Tempo, 14 Feb 2011

Apakah bahasa, sebagaimana umumnya ilmu pengetahuan, benar benar dan sungguh sungguh netral, tak berpihak? Sebuah adagium menyatakan: ilmu pengetahuan-juga bahasa-memang netral, yang membuatnya tidak netral adalah penggunanya. Laiknya sebilah gunting, dia bisa dipakai untuk menggunting kain, menyemai tanaman, memangkas kuku di jari, atau menancap di tubuh hingga yang tertancap bersimbah darah. Baca selengkapnya “Antara Perempuan dan Wanita”

Berbahasa (Cara) Pusat Bahasa

Veven Sp. Wardhana *
Majalah Tempo 30 Nov 2009

UNGKAPAN ”bahasa menunjukkan bangsa” secara telak dibuktikan lembaga Pusat Bahasa—jika makna bangsa sama maknanya dengan ”sebuah peradaban”. Peradaban sendiri tidaklah universal, namun berbeda-beda pada masing-masing bangsa, suku bangsa, bahkan komunitas. Pusat Bahasa boleh jadi merupakan bagian dari subkomunitas itu. Salah satu peradaban Pusat Bahasa tercermin saat menerbitkan 10 novel berbahasa Indonesia yang didasarkan legenda lama, yang berbahasa awal Jawa, Bali, Bugis, Jawa kuno, Batak, dan bahasa ”lokal” lainnya. Yang dijadikan acuan 10 penovel bukanlah ceritera yang berbahasa awal tadi, melainkan pada kisah yang sebelumnya sudah dibahasaindonesiakan. Baca selengkapnya “Berbahasa (Cara) Pusat Bahasa”

Kritik Sastra Sampul Belakang

Veven Sp Wardhana
Kompas, 27 Jan 2013

Tidak jelas, atau setidaknya saya tak punya catatan, sejak kapan buku sastra—prosa ataupun puisi—menyertakan beberapa komentar dari orang-orang yang dianggap bisa mengatrol isi buku tersebut.
Komentar yang biasa dimuat di halaman sampul belakang tersebut dikenal dengan sebutan endorsement (dukungan; endorse: mengesahkan) atau blurp (entah apa artinya dalam bahasa Indonesia). Yang paling saya ingat, cetakan kedua novel Burung-burung Manyar (1981) karya YB Mangunwijaya menyertakan komentar Subagio Sastrowardoyo, Th Rahayu Prihatmi, Satyagraha Hoerip, dan entah siapa lagi. Baca selengkapnya “Kritik Sastra Sampul Belakang”

Hamartia, Konsep Tragedi, dan “Drupadi”

Veven Sp Wardhana*
Kompas, 21 Des 2008

TANPA pemahaman dan pendalaman atas terminologi dan jabaran hamartia, kisah Hamlet karya William Shakespeare (1599-1601) hanya bakal berhenti sebagai kisah klenik atau misteri model arwah penasaran. Sejajar dengan trilogi Oedipus (Sophocles, 496-406 sebelum Almasih) akan jadi sekadar kisah suspens jika minus penyertaan hamartia. Begitu halnya dengan berderet repertoar tragedi—yang rata-rata ditulis Shakespeare—macam Macbeth, Othello, King Lear, juga Julius Caesar. Baca selengkapnya “Hamartia, Konsep Tragedi, dan “Drupadi””

CHAIRIL ANWAR, Dia Mau Hidup Seribu Tahun lagi

Veven Sp. Wardhana
http://majalah.tempointeraktif.com/

KETIKA Chairil Anwar menulis larik sajaknya dalam puisi Yang Terempas dan yang Putus, “di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.), sampai juga deru angin”, banyak orang yang membacanya yakin bahwa penyair ini mempunyai kekuatan paranormal: dia bisa meramalkan bahwa dirinya akan meninggal dunia.

Karet memang nama sebuah kompleks pemakaman di Jakarta, dan Chairil memang segera mengembuskan napas terakhirnya pada 28 April 1949; sementara puisi tersebut ditulis pada tahun yang sama. Chairil adalah legenda. Cerita lain tampak dalam peristiwa yang kemudian dikisahkan kembali oleh Evawani Alissa, satu-satunya anak Chairil?yang ditinggal mati saat usianya baru 10 bulan. Baca selengkapnya “CHAIRIL ANWAR, Dia Mau Hidup Seribu Tahun lagi”