W.S. RENDRA: SPIRIT SASTRA DAN SOSIAL

Ilham Roesdy *

Tanggal 7 November 2016, pada acara “Tadarus Puisi” di Taman Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, saya disuguhkan beberapa naskah puisi seorang maestro besar, WS Rendra. Sebuah gerakan “One Day for Rendra” lahir sebagai bentuk antusiasme sejumlah mahasiswa Fakultas Adab untuk mengenang perjuangan para sastrawan bangsa. Sebuah penyadaran yang sengaja dibentuk bertepatan dengan hari lahir sang sastrawan WS Rendra, yaitu pada tanggal 7 November 1935, sekaligus untuk mengenang jasanya kepada bangsa Indonesia. Continue reading “W.S. RENDRA: SPIRIT SASTRA DAN SOSIAL”

Eksistensialisme Kepenyairan W.S. Rendra (Willibrordus S. Rendra)

(Catatan HUT WS. Rendra, 7 November)
Muhammad Muhibbuddin *

“Mana itu seniman Islam? Islam ‘kan tak punya Beethoven, tak punya Mozart, Picasso?’, begitulah ledekan Rendra terhadap seniman Muslim, Syu’bah Asa, sekitar 1970-an. Mendengar ledekan penyair Si Burung Merak itu, Syu’bah Asa, yang saat itu menjadi mahasiswa IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, hanya diam saja. Selama bergaul dengan Syu’bah, Rendra mengaku sendiri sering meledek, mencandai dan mem-bully seniman Muslim itu, namun orang yang di-bully itu nampak tidak merespon; cuek; tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Sikap Syu’bah yang pasif dan cuek itulah yang membuat Rendra justru penasaran. Continue reading “Eksistensialisme Kepenyairan W.S. Rendra (Willibrordus S. Rendra)”