Sepeninggal Gesang di Waktu Petang

Wuryanti Puspitasari
http://oase.kompas.com/

“Bengawan Solo, riwayatmu ini, sedari dulu jadi, perhatian insani,” Puluhan remaja menyanyikan lagu Bengawan Solo dengan syahdu dari atas kursi roda. Keterbatasan fisik tidak menyurutkan gairah mereka, melantunkan hingga habis lagu peninggalan maestro kerongcong, Gesang.

Mereka berderet-deret disamping rumah duka bersama puluhan orang lainnya untuk melepas kepergian sang legenda. Di bagian punggung seragam sekolah yang mereka kenakan, terpampang tulisan Sekolah Luar Biasa Yayasan Pembinaan Anak Cacat (SLB YPAC) Solo. Continue reading “Sepeninggal Gesang di Waktu Petang”

“Festival Rendra” Penghargaan bagi Si Burung Merak

Wuryanti Puspitasari
http://oase.kompas.com/

Sudah lebih dari tiga bulan WS Rendra wafat, namun sosok penyair, dramawan, sastrawan, pemikir, dan pejuang kebudayaan itu tetap hidup di hati sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya para sahabat, kerabat, pencinta seni, serta pencinta karya-karyanya.

WS Rendra yang lahir di Solo pada 7 November 1935 dan wafat di Depok, Jabar, pada 6 Agustus 2009 tersebut dicintai oleh banyak orang, karena dia dianggap memiliki totalitas berkesenian, karya yang bagus, kontekstual, dan memiliki “kegagahan dalam kemiskinan” kata-katanya. Continue reading ““Festival Rendra” Penghargaan bagi Si Burung Merak”