Tag Archives: Y. Thendra BP

Cinta Siti Nurbaya

Y. Thendra BP *

HATTA, tersebutlah Datuk Maringgih pengusaha kaya dari Jakarta pulang kampung. Doi pulang dari rantau bukan tersebab rindu ingin melihat rumah gadangnya yang sudah hampir roboh dan pandam pakuburan kaumnya yang sudah bersemak. Tapi doi ingin bertemu dan melamar Siti Nurbaya.

Sejak melihat Siti Nurbaya jadi peran utama di Sinetron Cinta Siti, Datuk Maringgih jatuh hati. Mabuk kepayang. Sampai-sampai Datuk Maringgih acap kali mabuk beneran di tempat dugem hingga jackpot dan meracau, “Siti, ai lop yu, beib…”

Sajak-Sajak Y. Thendra BP

Di Senen, Berapa Jauh Manusia Berjalan?

berapa jauh manusia berjalan hingga pantas disebut manusia?

aku harus membongkar keyakinanku, buku yang aku baca
membuat aku merasa lebih baik daripada ibu pedagang yang mengaduk kopi
sopir bis kota yang menunggu penumpang di senen itu, dan udara
masih dipenuhi embun. aku harus membongkar puisi puisiku

Tradisi Yang Tak Diam: Pementasan Teater “Siti Baheram (bukan dunia luar pagar)”

Y. Thendra BP

Tiga tukang kaba di atas tiga level, tampak seperti tungku. Di tengahnya, para penari dengan rebana kecil memainkan tari Indang, serupa api yang sedang menyala. Ditingkahi dendang dan alat musik Minangkabau (Saluang, Bansi, Rabab, dan Talempong yang silih berganti). Tiga tukang kaba itu melantunkan kisah, sahut menyahut.

PERNYATAAN SIKAP FORUM PEDULI BUDAYA ALAM MINANGKABAU (F-PBAM)

http://langit-puisi.blogspot.com/

Setelah membaca dan mencermati laporan pertunjukan Teater Sakata di Harian Jogja, Senin, 4 Mei 2009, halaman 12 berjudul ?Pentas 3 Perempuan: Angkat Konflik Perempuan di Rumah Gadang??ide dan sutradara Tya Setiawaty, Sabtu, 2 Mei 2009, bertempat di Studio Teater Garasi Yogyakarta?kami menemukan kejanggalan yang sangat fatal dalam paragraf pertama laporan tersebut, yakni pada kalimat: Apalagi, adat Minangkabau yang memperbolehkan perkawinan poliandri, satu perempuan menikah dengan banyak laki-laki. (dokumentasi terlampir)

Disinterprestasi Pendendang dan Klaim Poliandri

Sebagai Adat Minangkabau dalam Pertunjukan Teater ?3 Perempuan?
Y. Thendra BP

Pementasan Teater Sakata, ?3 Perempuan? di Yogyakarta, Sabtu, 2 Mei 2009 lalu, menuai protes keras dari Forum Budaya Peduli Budaya Alam Minangkabau (F-PBAM) yang terdiri dari mahasiswa dan seniman asal Sumbar.

Hal ini dipicu oleh laporan di Harian Jogja (Senin, 4 Mei 2009), halaman 12 berjudul ?Pentas 3 Perempuan: Angkat Konflik Perempuan di Rumah Gadang? yang menyatakan bahwa adat Minangkabau memperbolehkan perkawinan poliandri, satu perempuan menikah dengan banyak laki-laki.