Posted by PuJa on November 19, 2010
Zainal Arifin Thoha http://www.kr.co.id/ LAMA sudah sebenarnya orangtuaku, terutama ayah, menyuruhku agar segera berbaiat dan masuk tarekat, sebagaimana tarekat yang dianut oleh orangtuaku. Namun sejauh itu, aku belum juga melaksanakan permintaan beliau. Bukan aku bermaksud membantah dan apalagi menentang perintah orangtua, melainkan aku merasa bahwa diriku masih terlalu muda. Selain itu, aku pernah bermimpi, dan [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on November 17, 2010
Zainal Arifin Thoha http://www.kr.co.id/ ”Pertanyaan senantiasa harus dibisikkan ke setiap manusia di balik acara-acara televisi. Karena upaya untuk menanam televisi lebih dalam ke ruang keluarga, akan senantiasa dihadapkan pada persoalan nilai-nilai yang mengalir sepanjang waktu seperti sungai” (Garin Nugroho, Kekuasaan dan Hiburan, 1995).
Filed under: Esai
Posted by PuJa on April 30, 2010
http://sastrakarta.multiply.com/ ZIARAH DOA Dan doa adalah Persembahyangan dalam ziarah Menali hasrat penuh sedekap Bersujud diri merambah akrab Lalu salam sewangi kembang Bagi kiri kanan tiada pandang Dan zikir senantiasa sumilir Mengalirkan cinta dari hulu hingga hilir
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on February 6, 2009
Zainal Arifin Thoha http://hidupbersamabencana.wordpress.com/ SUDAH hampir sebulan ini, burung gagak berkaok-kaok mengitari daerah kami, terutama di malam hari. Konon, kata para sesepuh, bila burung gagak berkaok-kaok di malam hari, seperti itu, adalah pertanda akan ada kematian. Tetapi, fenomena burung gagak itu tak hanya terjadi di daerah kami saja, melainkan di daerah lain, menurut kawan saya, [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on January 31, 2009
“Bisa dihitung hanya satu-dua dalam sejarah; pesantren yang ditinggal mangkat muda sang Kyainya, masih tetap berjaya. Beliau (Zainal Arifin Thoha) yang telah dipanggil kekasih-Nya, namun pamornya senantiasa harum mewangi dalam dunia kepenulisan di tlatah Yogyakarya” (Catatan PuJa). http://sastrakarta.multiply.com/ ADALAH DARAH tetapi bagiku puisi adalah darah dan engkau begitu maksa merampasnya
Filed under: Puisi