“IPTEK MASAJAYA” DI LIMBUR PASAR

Suryanto Sastroatmodjo

Ketegangan antara doktrin yang abadi, dengan manifestasi dalam kehidupan pribadi dan sosial merupakan faktor utama dari dinamika Islami. Munculnya berbagai aliran pemikiran, mistikus dan mujtahid pada paruh akhir abad ke dua puluh ini, menunjukkan suatu pertanda betapa ketegangan yang kreatif antara doktrin yang abadi dan kemungkinan manifestasi yang beraneka ragam dapatlah berlangsung, disadari maupun tidak, suatu jalan baru, yang mungkin memiliki rentangan yang lebih lentur, tengah diretas.

Ada pertanda bahwa kedewasaan mengikuti di belakangnya. Jika jalan tadi diperhitungkan sejarah nasional kita, bahkan juga perjalanan geopolitis dunia, maka waktu akan bicara kelak, yakni suatu tahap di mana Islam sebagai kekuatan politik dan sosial-nasional, yang bekerja berbarengan untuk membangun negeri ini, seraya menetapkan prioritas-prioritas baru, sampai pada saatnya hal ini diterima sebagai konsensus bagi pihak lain.

Dalam banyak hal, maka ilmuwan kita telah membangun diri sendiri. Jikalau hal ini saya ungkapkan, maka sesungguhnya ada dua arti nan terkandung:
Pertama, bahwa kesinambungan generasi secara langsung akan bisa mempertalikan dua-tiga dasar pemikiran yang kuat, atau menyambungkan dua-tiga teori pembangunan yang lebih akurat. Karena, jalur-jalur alih-angkatan dan pewarisan budaya haruslah sanggup menjalin-anyam berbagai wawasan yang pernah menjadi kuat (atau menyangga suatu titiwanci) dan karena itu bisa diasah buat menghadapi tantangan zaman.

Kedua, jika terdapat persoalan benturan generasi, dengan atau tanpa persiapan dari kedua belah pihak untuk menanggulanginya, maka seyogyanya ada tandon yang memberikan “kursemangat” atau daya-panas yang lebih merangsang golak geliat dari setiap pihak, sehingga gesekan-gesekan dan geseran-geseran yang terjadi, akan menciptakan gaya-sikap beraturan.

Ketiga, ihwal pemurnian diri dan purisme atau kemurnian yang diketengahkan, bukanlah jaminan bagi kelompok-kelompok etnis yang ada, untuk bisa mandiri. Harus terdapat beberapa unsur lain, seperti dana yang berhasil dihimpun sesama warga, organisasi yang kokoh dan pengelolaan-pengelolaan sumber-sumber ekonomi di baliknya, yang juga menjadi dasar dari keberanian merancang beberapa program kerja. Akan tetapi, bahwa itu semua perlu, karena kita benar-benar tidak bersedia untuk berada dalam ketergantungan sampai jangka yang panjang, atau bahkan terus menerus menjadi sapi perahan kekuatan-kekuatan politik yang lain. Kalau perlu, tonjolan sikap mendireng pribadi yang terfokuskan, karena setiap fase politik yang berlangsung punya perwajahan berbeda-beda.

Tambah tua umur dunia, kita tambah sering menemukan pokok-pokok bahasan yang dilontarkan kaum sepuh, yang berkenyut-kenyut, melambung-lambung, dan malahan terjauh dari kelumrahan seorang penghuni kota biasa, bocah angon biasa, bahkan kaum miskin-papa yang tak melewatkan kicau burung di dahan-dahan ataupun juga keindahan Sabda Tuhan yang ditumbuhkan oleh danau dan lautan. Bahwasanya, kumandang kepakan itu sendiri tak selamanya indah buat dirasakan, namun ia memang perlu diperdengarkan beberapa kali, supaya manusia memiliki kerendah-hatian yang tulus, barang sedikit. Dunia tentunya akan lebih berterimakasih, bila tiap perlangkahan yang membuat kaki kita “kesandhung firman-Nya!”

Kajian antroposentris-sejauh mana Sang Insan yang berstatus pemimpin atau penguasa jadi fokus utama-sebenarnya merupakan hal yang lumrah, mengingat bahwa sejarah adalah segalanya buat peradaban. Dalam hal ini kita simak tiga buah buku dari khazanah Sastra Jawa Klasik (antara abad ke-17 hingga 19), saat sastra Jawa menemukan kristalisasinya. Pertama, Serat Ajidarma yang berasal dari tlatah Tuban dari abad ke-17, kemudian Serat Sujarah Dewaraja karya Pangeran Wijil Kadilangu, cucu Kalijaga pada abad ke-18, dan Serat Narawijaya dari masa akhir Kartasura ke zaman Surakarta.
Ada beberapa petikan sebagai berikut:
1. Sekar Sinom dari Ajidarma: “denta nglandhung wirayatna, kiswala sarjuning kapti, tulus Winayapana, dhuh gusti pandanumurthi, anung Srisadusastri, yeku wajib taberi ring kesthi, anung mring wajib sutama, tumanduk jeneng Narpati, yekti ndulu wegignya mujudken sastra”, dalam hal ini menekankan, betapa berat tugas seorang penguasa yang juga memimpin umat, lantaran ia harus menguasai prinsip Srisadusastri, yaitu terbuka atau transparan di depan publik, sebagai sikap raja yang tiada tercela, tegar dalam menguasai rasa-inderawi dan emosi diri, sehingga lancarlah berbagai rencana kerja yang tertuju kepada kemuliaan bangsa: Winayapana. Kesadaran apresiatif ini sebagai konsekuensi sosok intelektual, yaitu manusia berolah sastra.
2. Sekar Kinanthi dalam Serat Sejarah Dewaraja, yakni: “Kuneng jiwa lamun tugur, kehupadaya mramusthi, palin tapa nawung bagnya, wipasana kang nuhoni, ande arbe risang kuswala, salokanta pancar tawing”. Di sini ada istilah Wipasana yang diberi tekanan. Maknanya adalah bahwa seorang penguasa harus mempunyai calon pengganti sah, yang selama beberapa waktu dijadikan sebagai wakil utama atau tokoh susulan selain pemerintah, dan dengan cara ini, tiada yang gugur atau runtuh dalam kestabilan kekuasaan. Ini harapan yang berasal dari kaum pendeta dan kawula alit. Wawasan P. Kadilangu, keturunan Wijil Kadilangu, keturunan Sang Kalijaga.
3. Sekar Pangkur dari Serat Brawijaya yang berasal dari zaman Renaissans sastra era Kartasura akhir menjelang awal kasunanan Surakarta, yang antara lain berbicara soal Patimokasila. Umpamanya sebagai berikut: “Darmaweca kang winawas, swuh kunjana tekad luhung among siwi, dhihin suyud jati kalbu, andrema tumtum pana, Patimokasila tulus melbeng arum, sasana graha manjalma, jinem janma Nuswa Jawi.”

Demikian yang terungkap sebagai sikap.
Pada dasarnya, insan yang masih terpilih sebagai penguasa, raja atau pemimpin sejati adalah juga harus merasa tertantang berbuat bajik. Antara lain menganggap rakyat sebagai anak yang perlu dididik, didewasakan dan dientaskan hingga bermartabat. Pada segi ini, keharuman namanya akan abadi dan diluhurkan seluruh Jawa oleh suci jiwanya.

Maka demikianlah lewat tiga cuplikan dari karya-karya yang mewakili era-era budayawi, terpancar betapa gigih, utama dan gemilang pembinaan jiwa kepahlawanan, kesatriaan, kepemimpinan yang didambakan kawula Jawa khususnya dan Nusantara umumnya yang patut dikembangkan. Sesuatu yang tetap aktual.

Serat Sastra Gendhing zaman Sri Sultan Agung misalnya, berbicara tentang turasing ratu pinandhita kang banyakrawati kang wenang masesa wong sanagari (tokoh keturunan raja yang bersifat pendeta yang patut dan layak menjadi penguasa negara), dan ditambah oleh sifat kuwagang dadi wewayanganing Allah (mampu berbuat arif laksana bayang-bayang Tuhan), kemudian suatu fitrah keharmonisan alam, yang terlihat pada trahing Mentawis kang wasis-waskitha, putus ing susastra , trampil olah-kasubratan (yang merupakan keturunan Mataram yang bijaksana dan berilmu, inteletual serta menguasai derajat sastra indah lagi pula senantiasa gemar bertapa).

Hal ini sejalan dengan yang disebut dalam Serat Adigama, yakni sebagai tokoh kejuangan yang sihsamasthabuwana (punya sifat kasih sayang pada dunia sekelilingnya), dwiyacitta (mampu mengantisipasi segala situasi), sumantri (setia kepada negara dan tertib hukum yang ada), ginong pratidino tiap saat menciptakan harmoni dalam kehidupan yang mapan), dan dirotsaha (membela hak-hak si lemah atau mereka yang mendambakan perlindungannya).

Pujangga Ronggowarsito menekankan bahwa keseimbangan harmoni dapat tercipta, apabila seorang pemimpin negara adalah seperti Ajipamasa dan raja-raja Pengging Witaradaya yang paramengkawi (ahli dalam ilmu-ilmu luhur, termasuk kajian sejarah-sejarah lama), sambegana (dapat menimbang secara adil dalam melihat perbedaan antara hak dan wewenang), nawungkridha (sosok idaman yang dapat mempertemukan suara zaman kini dan irama klasika).

Sementara pujangga Yosodipuro menekankan adanya pemerintahan yang teguh dan menjamin keselamatan rakyat (amartanipura), tidak meninggalkan kaum pinisepuh dan para guru (wijangkalpa) serta cukup punya bakat inteletual sehingga mampu menangkap tanda-tanda zaman (kalantagrahita). Bukankah sebagian dari tipe-tipe ideal dari Sang Penguasa inilah yang kita harapkan tampil di setiap zaman yang penuh kemelut?

Hakikatnya, sowan atau datang menghadap raja itu dengan pengertian sebagai berikut. Pertama, apabila loyalitas tersebut berhubungan dengan kewajiban takluk dan solidaritas untuk ikut bersama-sama mempertahankan dinasti (rezim) penguasa bersangkutan maka pasowanan itu sifatnya rutin sehingga hubungan fungsional yang jadi alasannya. Kedua, apabila sowan dimaksud adalah demi menjaga kewibawaan sang raja sebagai tokoh sentral kebudayaan istana maka ini sifatnya adalah sebagai wujud tanggungjawab kolegial antar penjaga praja. Ketiga, apabila komunikasi dialogis yang ditunjukkan lewat sowan ke ibukota kerajaan, untuk dan demi pelestarian tatacara tradisional klasika maka yang jadi fondasinya adalah semacam kredio pemberdayaan terus-menerus terhadap institusi kraton sebagai kerajaan asli pribumi (core originally coourt).

Selaras dengan Patimokasila di atas maka Sang Sinuwun (Sinuhun) adalah lembaga, darimana segenap aparat dan kawula mengharapkan anugerah (panyuwunan), dan itulah makna “Sinuwun”; namun demikian juga institusi, tempat orang berguru (suhu=guru, sang arif bijaksana) dan mendambakan pendidikan, pembinaan serta menggemblengkan watak. Itulah makna “Sinuhun” tadi. Sang Raja dalam melaksanakan sabda (titah) yang horisontal-vertikal, sebenarnya secara langsung menyadari martabat-tarikhiah-insaniahnya selaku Budayawan Semesta Raya.

Dalam hal ini, makna, fungsi, eksistensi dan naluri kultur (kebudayaan) adalah tiada lain sebagai akidah yang pantas untuk direnungkan dan diakrabi oleh siapa pun, yang yakin betapa peran raja adalah Khalifah, kalifatullah, kalam Allah. Bukankah definisi-definisi ini berbicara tentang konsep budaya terpadu:

1. all cultures have one supreme aim inview, namely, enabling you to know the truth of things – sarva sastra prayojanam atma darsanam. The motive, the end ambition of all sastra isatma darsanam, insight into the Reality, the capacity to find out what the Ultimate Truth of thing if that has been the aim of every kind of sciense or humanistics studies. (Semua kebudayaan mempunyai satu tujuan utama dalam perspektifnya, yaitu untuk memungkinkan Anda mengetahui kebenaran dari segala sesuatu – sarva sastra prayojanam atma darsanam. Motivasi dan tujuan akhir dari semua sastra adalah atma darsanam, pandangan yang dalam terhadap Realitas, kemampuan untuk menemukan apa sebenarnya Kebenaran Hakiki yang ada dalam segala sesuatu. Itulah tujuan akhir dari segala macam kemajuan di bidang keilmuan, apakah itu mengenai ilmu-ilmu alam ataupun studi-studi humaniora).

2. All the branchas of discipline have only one end sarvasastra prayojanam atma darsanam. An insight into reality if the end of all kinds of discipline. All truth must be regarded as one whole. Whether you practice the one supreme persuit of truth. (Semua cabang disiplin apa pun hanya mempunyai satu tujuan akhir – sarvasastra prayojanam atmadarsanam. Suatu pandangan mendalam terhadap kenyataan adalah tujuan akhir dari semua disiplin. Semua kebenaran semestinya kita pandang sebagai suatu ketunggalan. Apakah Anda menggeluti disiplin yang ini ataukah lainnya, sebenarnyalah Anda melakukan pencarian terhadap satu kebenaran hakiki).

Dalam beberapa karyanya, Radhakrisnan menggunakan ungkapan yang sedikit berbeda, yakni sarva sastra prayojanam tatva darsanam. Antara lain hal ini dapat kita baca dalam buku True Knowledge (1978: 23) dan Faith Renewed (1979: 21-22). Dari yang terakhir ini saya sajikan sedikit kutipannya sebagai berikut:

Philisipic wisdom and scientific knowledge should go together. There is no distinction so far as the purpose Is concerned between sciences and arts sarvashsastra prayojanam tatva darsanam. Every science has for its ultimate aim nothing more than an insight into reality, the understanding of the nature of the world and the universe. That happends to be the goal of all shastras. (Kebijaksanaan filsafati dan pengetahuan ilmiah semestinya selalu berjalan dengan bergandengan. Sepanjang mengenal tujuannya, tidak ada perbedaan antara ilmu dengan seni sarvashatra prayojanam tatva darsanam. Tujuan utama dari setiap ilmu tak lebih daripada pandangan mendalam terhadap kenyataan, pemahaman tentang hakikat dunia dan alam semesta. Itulah tujuan akhir dari semua shastra).

Asas ekologi yang diajukan untuk menjelaskan proses ketertinggalan suatu kawasan terdiri atas: (i) asas dasar tentang penggunaan sumberdaya, (ii) asas dasar tentang diversitas, (iii) asas dasar tentang fluktuasi populasi, dan (iv) asas dasar tentang kompetisi interspesifik.

Di dalam ekologi yang dimaksud dengan sumberdaya adalah suatu yang diperlukan oleh ekosistem yang dengan bertambahnya sumberdaya sampai pada batas optimal atau tingkat kecukupan memungkinkan ekosistem tersebut menaikkan laju konversi energinya. Sumberdaya ini terdiri atas energi, materi, ruang, waktu, dan diversitas dengan nilai kemanfaatan yang mencerminkan interaksi di antara anasir sumber daya tersebut. Kalau ekosistem yang dimaksudkan adalah kawasan, maka ketertinggalan suatu kawasan dengan kawasan lainnya, dan juga upaya untuk mengejar ketertinggalannya tidak akan lepas dari asas sumberdaya yang dimaksudkan.

Asas sumberdaya ini juga bermakna bahwa sesuatu yang berupa energi, materi, ruang dan waktu baru bermanfaat bila ketersediaan sesuai dengan kemampuan memanfaatkannya dalam satu kesatuan kehidupan masyarakat. Asas sumberdaya juga meletakkan kemampuan masyarakat untuk mendayagunakan energi yang tersedia sebagai indikasi tingkat perkembangan seperti yang terbukti di saat sekarang adanya perbedaan yang sangat menyolok antara negara yang sedang berkembang dengan negara berkembang.

Karena energi yang dipakai dalam kehidupan dapat dikonversi dari satu bentuk kegunaan ke bentuk kegunaan yang lain dan tidak dapat dimusnahkan atau diciptakan, maka Commoner (Clark, 1975) menyatakan hukum ekologi: (1) sesuatu dihubungkan dengan sesuatu yang lain, (ii) sesuatu harus pergi ke suatu tempat lain, (iii) alam mengetahui yang terbaik, dan (iv) tidak ada sesuatu ini merupakan hal yang diperoleh secara cuma-cuma (jer basuki mawa bea).

Asas yang berkaitan dengan diversitas sangat gayut untuk menjelaskan ketertinggalan kawasan sebagai ekosistem karena tidak dapat berkembangnya keanekaan kehidupan, dan usia yang tinggi daripada populasi yang ada di dalamnya, dengan tingkat kemampuan pendayagunaan energi dan sumberdaya lain yang rendah. Ekosistem yang berkembang juga membutuhkan dukungan keanekaan rekadaya insani yang semakin canggih, sesuai optimalitasnya.

Ngruwat Angurubi Angayomi
Angruwat (menghindarkan malapetaka): menggalang upaya mengatasi keadaan buruk alam seperti tandus dan gersang, erosi dan kerusakan; keadaan buruk (bukan jahat) manusia, misalnya cacat tubuh, terbelakang, miskin harta dan wawasan (termasuk juga memohonkan limpahan kasih ilahi bagi arwah para leluhur yang belum mencapai kesempurnaan).

Secara lahiriah digalang upaya-upaya nyata yang bertahap dan berkesinambungan dalam kerja sama dengan berbagai pihak yang berkepentingan. Secara spiritual, diselenggarakan upacara sujud dan permohonan kepada Hyang Mahakuasa, agar kebijaksanaan-Nya menyucikan dan memberkati segenap warga masyarakat beserta lingkungannya. Angruwat, angurubi, angayomi antara lain terlihat pada aktivitas sinergis sebagai berikut:
(I) Baiklah mengkaji dan melestarikan tradisi budaya bangsa sendiri. Perlu pula saling tukar informasi budaya, sebab mungkin memperkaya dan menyempurnakan. Namun, naiflah menggandrungi apa pun yang bercap luar tanpa sendiri punya pijakan.

(II) Mengutamakan dan mendewasakan karya-usaha bangsa sendiri itu wajar dan perlu. Begitu pun menyerap dan mempertinggi teknologi tepat guna. Tetapi latah usaha mendatangkan rupa-rupa kalau sendiri sudah punya, apalagi sampai tidak menghargai karya-usaha bangsa sendiri.

(III) Disiplin, adil dan tegas diri mesti mendahului menegasi segala tindak menyeleweng dan merugikan, menipu dan memeras, meresahkan dan mengancam kehidupan bersama.

(IV) Perlu diutamakanlah mendidik yang kecil, lemah dan tertinggal, supaya jangan mudah diperalat, ditunggangi dan dijerumuskan. Begitu pula yang kecil mentalnya seperti suka royal, pamer dan carimuka, supaya jangan mudah memicu kecemburuan dan penentangan.

(V) Menjaga ekosistem dengan mengindahkan hukum-hukumnya serta menyeimbangkan daya alam dan pemanfaatannya, menjamin kelestarian dan kesejahteraan kehidupan. Apa jadinya kalau yang kuasa hobi upeti dan orang-orang besar perut boleh bikin apa saja di mana saja?

(VI) Memantapkan jati diri seturut falsafah dan budaya bangsa (citra diri dan citra bangsa), mesti jadi pangkal sepak terjang lebih luas. Sebab, seluas mana orang yang dayanya terbatas itu dapat mendunia, akhirnya ia pun pulang kandang.

(VII)
Memantapkan kebersamaan dan kebersatuan dengan saling mengerti dan peduli di antara sesama warga bangsa, mesti mendasari kerjasama dengan pihak luar. Tanpa jiwa kebangsaan dan kesetiakawanan yang kokoh, orang rentan terhadap godaan mementingkan diri, bahkan mungkin tegas mengkhianati bangsanya.

Para futurolog meramalkan bahwa karakteristik utama dalam merebut kondisi kehidupan yang lebih baik adalah keberanian untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan. Kepekaan untuk melihat dimensi masa depan hanyalah dipunyai oleh manusia-manusia yang unggul dan kreatif. Manusia-manusia seperti inilah yang mampu menguak dan memprediksi misteri masa depan. Usaha untuk mengubahnya tidak saja diperlukan keberanian, tetapi juga kreativitas dan kekokohan sikap terhadap filosofi yang dianutnya.

Tuntutan terhadap keberanian adalah mutlak karena tidak jarang konsep perubahan akan melahirkan satu kontroversi dan bertentangan dengan konsep nilai yang sudah ada dan dianggap telah mapan.

Untuk sampai pada keberanian mengubah nilai yang oleh teori strukturalisme genetik disebut destrukturisasi diperlukan satu kerangka pikir dan pandangan yang bersifat totalitas. Pandangan yang tidak hanya sekadar merumuskan tesis-antitesis-sintesis, tetapi harus merupakan satu dialektika yang konstruktif yang mencakup konsep pembaharuan-penguatan-perdamaian.

Dialektika seperti ini merupakan satuproses working reality sehingga diperlukan perjuangan yang berkaitan dengan unsur-unsur negasi (mengingkari-diingkari), kontradiksi (tentang-menentang) dan mediasi (diperantarai-memperantarai) yang semuanya merupakan proses dialogis-kultural.
Lebih jauh dapat disebut bahwa hakikat seni budaya dalam konteks wewah gesang langgeng tidak ubahnya dengan ajaran penghayatan terhadap konsep hubungan makro dan mikrokosmos. Konsep tersebut misalnya dapat dilihat dari konsep wirama (rhythmisch gevoel). Wirama dapat dipakai sebagai paugeran kehidupan. Dalam konsepsi musikal (gending) wirama mencakup masalah kerampakan instrumentasi musik yang satu sama lain saling mengunci dan tak terpisahkan. Estetika musikal akan muncul jika masing-maing instrumen berperan secara serempak dan harmonis.

Keharmonisan tersebut dapat meliputi tinggi rendahnya nada, lembut cepatnya tempo irama, yang semuanya dimaksudkan untuk menumbuhkan suasana nges, yaitu suasana menyatu antara musik dengan penikmatnya, trance. Dalam kaitan ini Ki Hajar Dewantara (1975) menyebut sebagai ordelijke opeenvolging van zware eeng lichte accenten met een bezielende uitwerking “urut-urutan yang teratur dari akses (nada-nada) yang berat dan ringan disertai pengembangan yang dijiwai”.

Dalam dimensi kehidupan, keharmonisan dapat merujuk pada hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan hewan, manusia dengan Tuhan. Hal tersebut merupakan hubungan kosmologis yang tidak terpisahkan, dan Tuhan diletakkan sebagai titik puncak dari pusat segalanya (Mulder, 1985). Dalam dimensi ini semua hubungan merupakan kesatuan alami yang bersifat kodrati, yang tertata sesuai dengan fungsi masing-masing sebagai layaknya keharmonisan hubungan antara siang dan malam, bulan dan bintang, berputarnya bulan dan matahari.

Dengan kata lain, keberadaan manusia di dunia tidaklah dapat dilepaskan dari kausalitas yang sudah jelas, tertata, rampak, dan runtut (orde symmetrie). Karenanya, kehidupan adalah suatu susunan yang teratur dimana peristiwa-peristiwa yang muncul tidaklah terjadi secara sembarangan atau kebetulan, melainkan merupakan suatu keharusan (Mulder, 1985). Dalam konsepsi Jawa hal tersebut adalah suatu hukum kosmos (ukum pinesthi). Itulah sebabnya, kesadaran akan konsep keharmonisan sangatlah panjang artinya.

Sekiranya, perbincangan historik lewat Seni Batik diungkap, kita bisa misalnya mendengarkan bagaimana Iwan Tirta di Jakarta pernah mengumpulkan begitu banyak motif batik, ornamen pembatikan yang karakteristik. Juga koleksi Gusti Putri Mangkunegoro, (permaisuri MN VII) di tahun 40-an hingga 70-an serta koleksi Harjonegoro di Solo.

Kalau Anda sudi berkunjung ke Museum Batik dan Museum Kraton-kraton dan batik Ullen Sentalu Kaliurang, Anda akan terpesona melihat bahwa studio komparatif antara pola-pola, motif-motif dan “tren” gaya busana batik selalu penuh dengan nuansa “perjuangan nurani”, koflik antar batin dan dimensi pengaruh-mempengaruhi antar gagasan politik dan kultural.

Sebagian antara kraton Jawa dengan luar-Jawa, antar kabupaten di Gubermenan, antar pewaris kraton trah Mataram, sampai cetusan gaya kolektor yang piawai. Dalam perbendaharaan batik klasik, intensitas penggayaan pecinta batik juga punya wadah atau arus-aliran, yang disebut Arumnilakandhi dan Arumwiyati, abad ke-19. Posisi dan disposisi seniman batik, selaku kreator di satu pihak sering berperang secara fisik dengan maecenas. (Pelindung Seni), baik raja, pangeran, bupati maupun konglomerat. Para maecenas acap melihat sisi-sisi batik dari sudut komersial dan tuntutan pasar, warna pop dan gairah muda.

Kaum kreator biasanya kepingin secara ekspresif mencurahkan ide-ide falsafi dan ruhaniah pada media batik. Bahkan, suatu masa, di abad ke-16, ketika berlangsung perang Pajang (klik pedalaman pesisir) melawan Mataram (klik pedalaman, yang bertujuan merebut pasar-pasar regional), dikenal suatu “gaya koalisi dan rekonsiliasi”, gaya kertiwalindaka, yang dikoordinir Sunan Mojoagung, yang lebih mengedepankan gagasan-gagasan mondial dan global, yang banyak menyaring kristalisasi ornamental untuk India, Timur Tengah, Persia dan Eropa.

Sehingga antara tahun 1685-1740-an (saat Kompeni Belanda menggantikan posisi Portugal sebagai wasit-siaga wilayah Asteng dan Pasifik Kidul, di samping Inggris! – batik melanglang buana, dan corak klasik nganglang praja nuswa jawa lalana adalah patron-batik paling eksklusif, dalam siklus Jawa selaku jembatan gaya antar ethnis dan antar benua.

Di sini, sistem-sistem yang mengkait langsung fenomena kultural haruslah menjadi satu hal positif yang berwacana. Di dalamnya terdapat dialog-dialog interaktif dan komunikasi dialogis yang dipahat sebagai relief sejarah. Selebihnya ungkapan-ungkapan lewat “lorong waktu variatif” yang di tengah-tengah gua sejarah pada abad-abad panjang berliku.

David Mac Clelland pada tahun 1961 pernah mengutarakan suatu teori yang sifatnya adalah pendekatan psikologis, di mana disebutkan, orang-orang di negara miskin umumnya tak memiliki apa yang disebutnya sebagai need for achievement (kebutuhan berprestasi). Pasalnya, mereka tidak terdorong untuk bekerja keras, dan mudah menyerah kalau menghadapi kesulitan, dan hal-hal lainnya yang negatif tanpa menunjang semangat pembangunan.

Ia menyebut salah satu faktor penyebab, karena dongengan kanak-kanak di negara miskin (dan berkembang) umumnya bersifat fatalistis. Cerita-cerita itu cenderung mengajarkan bahwa nasib manusia berada di tangan kekuasaan akbar-dahsyat yang sulit ditaklukkan oleh tangan-tangan insani”. Virus demikian ini dapat ditularkan tanpa sengaja, maka hendaknya cerita-cerita yang fatalistis dapat diubah sehingga berkecenderungan optimistik, dan para tokoh cerita itu mati-matian berjuang memperbaiki nasib, hingga sukses secara maksimal.

Kebudayaan dibangun bukan saja dari kerja (homo faber) yang menghasilkan infrastruktur ekonomi, melainkan juga permainan (homoludens), sehingga terbentuk semangat kelompok yang pada gilirannya lebih meningkatkan produktivitas kerja. Dalam bercerita (homofabulans) merupakan suatu permainan kelompok yang berkembang menjadi satu kesenian. Tatkala kultur baca-tulis muncul, permainan kelompok memperoleh wajah baru yang dikelola oleh sekelompok pecinta sastra (literati, dalam budaya Yunani-Romawi dan kebudayaan besar lainnya).

Lantaran perkembangan teknologi percetakan dan penyebarluasan sistem pendidikan sekolah, maka menghadapi kita semua. Politik hanya memberikan sebuah arena yang memaksakan ditempuhnya ujian-ujian keberanian khusus. Di bidang kehidupan yang mana pun, seseorang akan menghadapi tantangan keberanian, ataupun mungkin pengorbanan-pengorbanan yang dihadapinya, jika ia mengikuti hati-nurani.

Misalnya hilangnya kawan-kawan, kekayaan, kesenangan hati, bahkan juga penghormatan orang-orang lain. Tapi setiap insan harus memutuskan buat diri sendiri, jalan terbaik yang lapang. Kisah-kisah legendaris masa lampau dapat merupakan ramuannya, dapat mendidik, memberikan pengharapan, menumbuhkan inspirasi. Namun demikian, ia mustahil bisa memberikan keberanian itu sendiri, lantaran setiap orang mestilah menguji kondisi jiwanya sendiri. Terlebih jika dia hendak mengambil sikap bersejarah yang menyelamatkan dunia ini.

Garis besarnya, kehidupan pada gelombang ketiga peradaban niscaya akan lebih menimbang secara cermat luapan emosi sejauh yang dapat ditopang oleh daya gertak nurani. Dengan demikian, maka pemikiran yang utuh akan lebih dimuliakan orang. Hidup menjadi suatu pertaruhan yang benar-benar seru dan amat menentukan, manakala rekadata yang muncul dari usia-usia muda diberi kesempatan bertumbuh kembang mengikuti iramanya sendiri.

Namun demikian, juga masyarakat terus menunjang kemekaran gagasan kaum yang berangkat tua, terutama kaum yang mapan, yang ada di harungan pembudayaan sekarang. Orang-orang itu adalah kreator-kreator yang takkan bisa dicongkel begitu saja, karena peran sertanya adalah dominan dalam perkembangan lokal dan regional kemarin dan hariini. Pergeseran tentu saja ada dan dibiarkan, namun demikian haruslah masih dalam batasan sehat dan normal. Pencipta, pendulang dan penggali adalah mutiara barisan depan. Tapi para peronce dan penata butir-butir mutu manikam itu, yang meneruskan mars tanpa henti ini, dan pada gilirannya mengurai senandung!

Seperti halnya suatu kesendirian atau kesepian fisik tak bisa dibiarkan menyiksa diri, maka kesepian moral juga minta penanggulangan. Erick fromm pernah mengatakan, suatu kesepian fisik akan tak tertangguhkan, kalau dia juga serentak mengimplikasikan dan diderita sebagai kesepian moral (moral aloneness). Di pihak lain, kebutuhan akan kemerdekaan dan otonomi sebenarnya mencari keadaan yang tidak menghalangi proses individuasi, dan direalisirnya secara penuh potensi-potensi bawaan (innate) atau apa yang dinamakan the growth of self strenght, yakni bertumbuhnya kekuatan diri.

Adanya kedua kebutuhan umum inilah yang menurut pendapatnya berulang kali menimbulkan konflik dalam sejarah. Karena tiap langkah ke arah tumbuhnya individuasi senantiasa mengancam orang dengan kecemasan-kecemasan baru. Ikatan-ikatan yang tadinya kukuh kini diperlonggar. Jika kondisi-kondisi ekonomi, sosial dan politis, di mana seluruh proses individuasi insani itu tergantung, tidak memberikan suatu dasar terwujudnya individualitas, terjadilah semacam “selang-jeda”. Selang jeda inilah yang membuat kemerdekaan diri menjadi beban tak terpikulkan, yakni pada saat yang sama itu orang kehilangan ikatan-ikatan yang memberikan mereka rasa aman yang sebenarnya. Bukankah ada keterasingan budaya yang lain?

Dr. Hidayat Natatmadja, seorang ilmuwan yang kontroversial masa kini saya cuplik andaran pokoknya, yang dalam bukunya, ”Krisis Global Ilmu Pengetahuan” (Penerbit Iqra, Bandung, 1982) menulis sebagai berikut: (1). Orang yang kreatif pada prinsipnya hidup berkelana di dunia yang tidak diketahui, atau tapal batas antara dunia yang diketahui, dengan dunia yang tidak diketahui.

Untuk menjangkau ke dunia yang tidak diketahui ini mustahil rasio bisa membantu. Itulah, yang Einstein disebut sebagai jalur intuisi yang berada di pusat gravitasi kesadaran emosional. (2). Intuisi adalah sumber kelahiran dari suatu ide yang muncul dari pusat gravitasi kehidupan emosional, kehidupan spiritual yang kekuatannya ditentukan oleh intensitas memancarnya sinar Allah, yakni cinta, indah dan guna. Dengan sinar Allah inilah maka proses kelahiran suatu ide terjadi, yang kemudian diuji dan disempurnakan melalui jalur-jalur berpikir rasional.

(3). Kebijaksanaan tradisional yang dikandung oleh semua agama besar di dunia, sejak awal mengajarkan bahwa tujuan kehidupan manusia di bumi bukan memuaskan segala nafsu hayati melainkan mencari hakikat yang mengalami kemerdekaan, yang lahir dari peleburan diri dengan kesatuan metafisik alam semesta ini. Tujuan akhir adalah “kebenaran yang membawa kemerdekaan”, mencari jawaban siapa kita; mencari identitas dengan Prinsip Mutlak, yang bisa mengikat segala unsur keperiadaan menjadi suatu; sekaligus sikap religius Hidayat Natatmadja.

Soalnya, kalau masyarakat telah menerima adonan-adonan yang dipersembahkan oleh individu yang berpengaruh, maka besar harapan para pengemban kekuasaan yang ada, untuk menerjemahkan pelbagai ukuran dari waktu dan tempat itu ke dalam permukiman politik yang lebih tua. Kalau masalah ketergantungan kemudian menjadi semacam “issue nasional”, maka sebenarnya hal ini tidaklah selamanya tepat.

Sebaliknya, kita dapat mengajak kelompok-kelompok kultural yang terpecah dalam beberapa mukim itu untuk bisa merumuskan “issues” yang satu sama lain saling punya lilitan, atau bisa dianggap memiliki derajat fungsional yang pekat dan saling mendukung. Melalui penjabaran pada setiap musyawarah, dapatlah diketemukan sentuhan rasa persaudaraan dan solidaritas yang besar itu, apalagi karena kita memang memerlukan sarana peneguhan diri yang benar, kendatipun harus diakui, betapa riskannya mempertemukan ujung tombak yang tak sama tajamnya. Paling tidak, kalau terdapat resapan-pengalaman yang sejajar, maka lebih mudah untuk menggiring wadag-wadag pembangunan yang paling fleksibel.

Kesimpulan
1. Bagi negara-negara berkembang, yang biasanya ditandai dengan adanya suatu dualisme ekonomi yakni antara ekonomi pedesaan yang stagnan dan ekonomi perkotaan yang “berdikari”, maka tujuan peningkatan perekonomian secara tepat hanya dapat dilakukan melalui suatu pendekatan terhadap bidang garap “keharusan struggle for life” alam artian apa pun harus bertendensi ekonomis yang atraktif serta suatu industrialisasi yang belum tentu memiliki kerangka acuan yang signifikan dengan program-program jangka pendek yang amat tergesa-gesa. Di dalam banyak hal, maka pembangunan nasional memperlihatkan kecenderungan untuk meraih produk hasil yang bersifat konsumtif melulu, serta barang dan jasa yang tertuju kepada hal-hal yang untuk instan semata. Hal ini berakibat kepada penjiwaan semangat hidup yang juga terlalu cepat untuk segera menikmati hasil-hasil pembangunan yang maksimal (pada fase tertentu) sebagai ganjaran, sementara produktivitas jangka panjang masih tanda tanya.

2. Bila Gunnar Myrdal mengingatkan dalam The Asian Drama dan Against the Stream bahwa masyarakat pedesaan yang sensitif akan mudah tergelincir pada tujuan-tujuan sektor riil yang kadang kurang terkontrol oleh kedewasaan psikologis dan (istilah jawa-nya getas, mudah pecah) maka masyarakat perkotaan justru melihat adanya tumpang tindih (overlapping) pada satu media pembebasan (dari kemiskinan) sebagai hal yang ekstra-ordinary dan pretensius sekali. Akan tetapi, cara generasi mudah mensikapi dan mengalokasikan sumberdaya pembangunan itu sebagai anugerah yang harus terlalu cepat “dihabiskan secara massal”. Sedangkan alih teknologi sangat lamban (baik proses maupun penerapan empiriknya) dengan sandaran menuju bisnis semata. Maka yang bernama latihan-latihan manajemen, maupun managemen terpadu hanyalah berlangsung secara konvensional, pro forma, dan hanya mengikuti “selera bapak” yang fragmentaristis, bahkan kekanak-kanakan sekali.

3. Aplikasi pendidikan terhadap generasi muda, terutama soal-soal uang berhubungan dengan IPTEK di dalam masyarakat lokal dan regional, adalah berlangsung secara poin demi poin dalam target-target yang kadang ditanggapi secara sinis oleh generasi-generasi di bawahnya (yang secara kualitatif kurang meyakini daya manfaatnya) namun secara kuantitatif menjegal segi-segi atraktifnya, sehingga apa yang sebenarnya amat signifikan buat generasi muda, justru menjadi tidak menemukan “kesinambungan logisnya”, kehilangan dimensi sinergisnya. Maka kita berharap agar kreatif vermogen (daya kreatif yang bersifat individu-individu, dari pihak kawula muda, yang punya cadangan-cadangan kekuatan ekonomi yang besar.

4. Apa yang dinamakan proses alih generasi dalam komunitas-komunitas yang bersifat kedaerahan ternyata tidak lebih daripada ritus-ritus-tetral, dan kapasitas para pelatih mengikuti kecenderungan investor yang tanpa operasi teknis filosofis, tanpa adanya trend yang akseptabel. Di sini penyaluran bantuan bersifat selera sepihak, yang tidak memberikan solusi pada proyek-proyek dadakan.

5. Inovasi-inovasi pada pelatihan para pelaksana, dan pengkaderan pada bidang-bidang tumbuh kembang, biasanya tanpa adanya pinisepuh dan sesepuh ahli, melainkan sekadar para penggerak massa yang berkemampuan terbatas. Inilah yang harus kita akhiri dengan adanya kerja sama lintas sektoral yang melibatkan para teknokrat, para stakeholder yang merupakan ujung tombak pembangunan sejati, dan terutama sekali pemikir-pemikir inovatif.

6. Identitas dan jati diri para calon teknokrat, dan calon-calon pembangunan kawasan yang terdidik dan terlatih haruslah seimbang dan berwawasan ke depan. Paling tidak, mereka haruslah seorang sarjana dan aktif dalam organisasi-organisasi multi dimensional.

7. Ilmu pengetahuan (dalam acuan-acuan digital movement) dan teknologi (dalam acuan implikatoris) seharusnya dikembangkan melalui tahap-tahap elementer dan berbasis melatih “kemampuan dan bakat alam” lebih dahulu pada usia-usia SD (5-10 tahun) sedang tahap lanjutan di SLTP, sedang pembinaan bakat leadership di SD dan seterusnya. Berikanlah motivasi-motivasi dasar tentang iptek terpadu itu.

8. Dalam berbagai “chieffer” yang terakomodasikan pada workshop-workshop di desa dan desa, maka folklor-folklor dan legenda-legenda lokal haruslah dikenalkan sebagai kisah penjagaan interaktif dan perlawatan serta sukses-sukses yang bertolak dari ROH/SPIRIT innovator.

PUDYA PANGASTUTI

Lebensraum itu yang menurut wawasan William Ebenstein, ahli ilmu politik dari Princeton University dalam Today Ism (1962) adalah sebuah roce retooling generation, whom lost theos own atmosfer the days before (satu bukti sedang berubah coraknya sebuah generasi yang tentu saja adalah juga gambaran yang riil adanya. Bagi bangsa-bangsa Barat, Milenium Baru adalah suatu tradisi untuk mengungkapkan gugus-gugus impian masa lampau yang harus diwujudkan. Malahan, terdapat pandangan tentang yubilleym atau tanggap warsa dari serumpun keyakinan agamawi-teologis yang kepingin memperbaharui, menyempurnakan nasion.

Dalam sisi ini pandangan Jawa justru menyebut tentang persentuhan antara raga-raga paling tangan yang tersembul di antariksa (kosmogoni) dan efek yang ditimbulkannya adalah juga sebuah “kartikayudha” perang bintang. Perang kepemimpinan dalam konstelasi yang saling bersaing, namun juga saling melengkapi. Ramalan para pujangga Jawa sejak zaman Mpu Dharmaja (abad ke-12) hingga Mpu Prapanca dan Mpu Panuluh (era Majapahit, abad ke-15) yang disebut sebagai “wacana dibyacaraka”, yaitu komunikasi dialogis yang tergelar dalam kredo ilmiah.

Warsa baru, tahun pembebasan baru, yang juga merupakan alternatif tiap bangsa yang ingin eksis, ternyata tiada berhenti oleh retorika. Ia menuntut perjuangan umat manusia dalam dunia baru, yang dalam banyak hal merupakan kaca benggala, tiap-tiap etnis akan dapat saling menyapa dan saling merengkuh, lantaran nafas kasih yang terjangkau, dan inilah yang selama berabad-abad kita denyutkan.

DAFTAR RUJUKAN PUSTAKA
Tilaar, HAR, ”Developing Future Strategie in the Education for Teachers”, Internasional confernce on education in Asia & Pasific, Bandung Juli 3-6, 1991
Sudjatmoko, Etika Pembebasan, LP3ES, Jakarta, 1988
Gunnar Myrdal, Against the Stream Critical Essay economics , Mac Millan press, London, 1974
Irma Adelman & Cynthia Taft Morris, Economic Growth end Social Equity in Developing Countries, Stanford University Press, 1973
Serat-serat, Babad-babad, Kakawin, Sejarah, Susatrajawa.

***
Penanggung jawab tulisan oleh Penerbit PUstaka puJAngga (PuJa).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *