Kamuflase Terkamuflase

A Rodhi Murtadho

Kamuflase. Bagaimanapun menepisnya, pasti selalu terjadi pada manusia. Tubuh-tubuh rengkuh menjadi kamuflase setiap jiwa-jiwa yang sepi dalam kebosanan. Nanar mata nyalang, berkaca-kaca, atau melangkah di setiap rumpang pikiran. Yang pasti, sekarang, kehidupan masih terus berjalan.

Aku sebenarnya ingin hidup normal. Tentu saja sebagaimana manusia. Tapi aku tak tahu caranya hidup normal, tanpa kamuflase. Bagaimana tidak, harta dan pangkat seakan menjadi tujuan utama. Mencapainya tentu harus pandai berkamuflase pada setiap orang, bahkan pada diri sendiri. Menjadi diri sendiri seakan sulit namun bagaimanapun semua orang sebenarnya sudah memiliki diri mereka sendiri.

“Pak Abas, bakso dua mangkok,” kata Roni, pelangganku. “Pentol halus, tanpa saos, tapi pakai sambal.”
“Sambalnya,banyak atau sedikit?”
“Yang satu banyak yang satu sedikit.”

Paling tidak, sebagai yang sadar tentang kamuflase kehidupan, aku benar-benar merasa memiliki diri sendiri. Meski penjual bakso, aku menghilangkan semua gejala kamuflase yang mewabah. Meski tak sepenuhnya. Tubuh ini, yang harus bersosialisasi, bukan milikku semata. Tentu tak bisa seutuhnya kumiliki. Paling tidak aku harus berbagi dengan Mirna, istriku, sebulan sekali. Setiap saat harus kuserahkan jiwa pada yang kuasa dengan merasa mengkamuflasekan tubuh. Tak memiliki tubuh. Hanya jiwa semata.

“Mas, jangan terlalu berprinsip. Apakah kita mau makan prinsip, menghidupi Rifa’i dan Suni dengan prisipmu itu.”

“Ya, tentulah. Bagaimana kita bisa membentuk mereka menjadi manusia seutuhnya jika tidak berprinsip. Dari prinsip, anak-anakku akan menjadi manusia merdeka. Bebas.”

“Baik…baik. Tapi beras hanya tinggal sekilo. Tak ada uang untuk beli lauk.”
“Kau hutang dululah di warung Mak Jah.”
“Hutang dengan prinsip. Malu mas. Aku malu. Hutang kita sudah menumpuk.”

Aku terdiam tak mampu berkata apa-apa. Mungkin kalau dulu aku menerima tawaran untuk menjadi Lurah. Mungkin jalan hidupku tak sedemikian sulitnya. Kamidjan, bapakku, rela menjual sepetak sawahnya untuk modalku ikut pemilihan lurah. Warga desa banyak yang mendukung karena aku lulusan SMA. Sementara Jumadi, calon yang satunya, hanya lulusan SMP.

“Bas, ini kesempatan bagimu untuk naik jabatan jadi lurah,” kata bapakku, “sawah sepetak itu akan kujual buat modalmu.”

“Belum tentu saya akan terpilih. Banyak resikonya. Belum lagi jalanku sebagai lurah harus disetir. Kalau salah sedikit, sentilan pedas dari warga. Belum lagi kalau sudah pensiun dan kaya, pasti dibilang korupsi.”

“Lantas kau mau kerja apa?”
“Apa saja, asal sesuai dengan prinsipku.”

“Kau sudah punya istri sekarang. Ingat itu. Jangan terlalu berprinsip. Istrimu dan anakmu butuh makan, bukan prinsipmu.”

Bapak lantas balik kanan dan pergi. Layaknya tentara yang memimpin barisan. Memang aku dibentuk menjadi manusia merdeka. Bebas berprinsip. Tanpa kamuflase tentunya. Apa yang kukatakan dan yang kulakukan pasti sesuai isi hati. Tidak mengingkari keinginan jiwa. Benar-benar merdeka sebagai manusia.

“Mas, apa kita makan nasi putih saja tanpa lauk? Kasihan Rifa’i dan Suni. Mereka dalam masa pertumbuhan butuh gizi yang berimbang.”
“Kau hutang dulu lah. Pasti Mak Jah ngerti keadaan kita.”
“Aku malu, Mas.”
“Kalau kau tidak mau, aku saja yang hutang.”

Aku berangkat ke warung Mak Jah, tanpa kamuflase. Memang aku butuh lauk dengan jalan hutang untuk anak-anakku tanpa menutup-nutupi. Seperti dulu aku berangkat ke rumah Mirna. Kukatakan langsung kalau aku suka dan berniat untuk memperistri Mirna. Itu pun langsung kukatakan pada Mirna, juga tanpa kamuflase.

“Dik Mirna, aku suka sama adik. Dan kedatanganku ke sini berniat untuk memastikan, apakah adik mau jadi istriku.”
“Ngomong saja sama bapak, Mas.”

Mirna masuk ke dalam rumah. Tak lama berselang, Kurdi, bapaknya keluar menemuiku. Duduk berhadapan denganku.

“Ada apa, Nak Abas?”
“Begini, Pak, maaf sebelumnya. Saya ingin menjadikan Adik Mirna istri saya. Kalau boleh, saya akan mengajak keluarga. Mak dan bapak akan saya ajak ke sini untuk melamar secara resmi.”

“Mirna sudah setuju belum?”
“Dia menyuruh saya untuk langsung menanyakan pada Bapak.”
“Mir… Mir,” Kurdi memangil, “ke sini sebentar.”
“Ya, pak,” Mirna keluar dari ruang tengah, “ada apa, Pak?”
“Begini, Nak Abas ini ingin melamarmu. Apa kamu setuju?”

Mirna, layaknya gadis pingitan, terdiam dan sunggingan senyum yang tampak di bibirnya. Entah apa yang diisyaratkan. Tapi aku dan bapaknya menunggu keputusan. Hanya anggukan kecil yang kami dapatkan sebelum ia masuk lagi ke ruang tengah.

“Kamu sudah tahu kan,” jelas Kurdi, ”besok ajak keluargamu ke sini. Kita bicarakan bagaimana kelanjutannya bersama-sama.”

Di hari pelamaran, entah apa yang dibicarakan bapak dan Pak Kurdi. Tapi kulihat dari kejauhan mereka saling tertawa dan saling memainkan jarinya. Seperti menghitung. Pernikahanku dengan Mirna pun berlangsung dua minggu setelah pelamaran resmi. Tanpa persiapan yang begitu matang. Upacara sederhana ala keluarga. Tamu yang diundang hanya kerabat dan tetangga.

“Dik Mirna,” ucapku setelah kami masuk kamar pengantin, “kau sekarang sah menjadi istriku.”
“Ya, Mas.”

Suara lirih. Pandangan mata tak terlalu banyak tertuju kepadaku. Gerak yang tak terlalu banyak dan tak berarti. Mirna. Mungkin perempuan lain juga mengalami hal yang serupa. Malu-malu. Kernyit bibirnya seakan menandakan sesuatu. Menunggukukah?

Aku pun tak mampu mencairkan suasana dengan perkataan. Kucoba memberanikan diri. Melupakan rasa malu yang kupunya. Mulai kupegang tangan Mirna dan menciumnya. Pelan. Kebisingan kegiatan orang-orang yang berada di luar kamar tak terlalu mengganggu. Kurasakan tubuh Mirna mulai lunglai di dada. Melemas.

“Dik…” Bisikku pelan.

Tak ada jawaban. Hanya anggukan kecil. Bibirku pun mulai bergerilya. Tangan pun tak bisa berhenti. Ingin merasakan kelembutan tubuh. Raut muka kami pun mulai memanas. Merah. Nafas-nafas bersemburan ingin mendinginkan. Gerakan kami mulai tak terkontrol. Dekapan dan leleran keringat yang mulai muncul menyatukan tubuh kami. Melupakan rasa malu yang pernah muncul sebelumnya.

Lain dengan yang kuhadapi ketika akan bertemu dengan Mak Jah. Aku seakan memiliki beban yang tak karuan beratnya. Malu. Memang benar kata Mirna, istriku. Pantas saja kalau ia enggan hutang lagi pada Mak Jah. Tapi apapun harus aku lakukan demi anak-anakku. Aku tak mau anakku kekurangan gizi dalam masa pertumbuhan.

“Mak Jah. Saya mau hutang untuk anak saya.”
“Oalah Bas. Kalau dulu kamu mau jadi lurah, tentu kamu tak akan seperti ini, susah. Semua karena prinsipmu,” katanya.

“Ya, Mak.”
“Mau lauk apa?”
“Tahu, tempe, sama ikan asin, Mak.”
“Ini sekalian aku kasih sayur bayam untuk anakmu.”
“Terima kasih Mak.”
“Semuanya 3.500 rupiah, sayurnya gratis. Total utangmu 257.500 rupiah.”
“Ya Mak. Nanti pasti saya bayar.”

“Kapan? Kerja saja tidak. Ingat istri dan anak-anakmu. Mereka butuh makan bukan prinsipmu. Mudah-mudahan anak-anakmu kelak tidak keras kepala sepertimu. Meski punya prinsip, mereka harus mengorbankan itu jika butuh makan. Ya seperti kamu sekarang ini.”

Biasa memang kalau hutang pada Mak Jah akan mendapat banyak nasehat. Seperti kata istriku. Pantas saja kalau istriku malu untuk hutang lagi. Aku pun menghela nafas panjang memikirkan perkataan Mak Jah. Memang prinsip tidak bisa dimakan, tapi kamuflase itu layaknya membohongi diri sendiri. Menjadi orang lain dalam bentuk yang lain.

Kukatakan semuanya pada istriku. Senyuman darinya yang kudapat. Mungkin ia tahu kalau aku berpikir akan mencari kerja. Istriku terlihat bahagia dari nyalang matanya.

“Aku ingin bekerja, Dik.”

Memang selama ini kami hidup dari harta warisan ayahku. Harta yang dipersiapkan untukku menjadi lurah. Tentu saja tidak bertahan lama. Sampai kami berhutang banyak hanya untuk makan sehari-hari saja.

Entah apa yang terpikir dalam benakku. Hutang yang kian menggunung. Kebutuhan anak-anak. Dan kemlaratan yang menggiringku untuk menjadi penjual bakso.

“Mas Roni, ini baksonya, pentol halus tanpa saos tapi pakai sambal. Yang satu banyak, yang satu sedikit.”

Surabaya 14-15 April 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *