Ajaran Kebijaksanaan Gus Zainal

Jawa Pos, 24 Agustus, 2008
Judul Buku: Gus Fadhil Bertutur
Penulis: Zainal Arifin Thoha
Penerbit : Pustaka Insan Madani, Jogjakarta
Cetakan : 1, 2008
Tebal : xii + 291 Halaman
Peresensi: A. Yusrianto Elga

”Salah satu jalan yang paling gampang menuju Tuhan ialah dengan cara menolong dan membantu orang lain.”

Itulah pesan terakhir Gus Zainal -sapaan akrab penulis buku ini, Zainal Arifin Thoha– kepada santri-santrinya yang disampaikan lewat secarik tulisan yang ditempel di sebuah dinding.

Kalimat tersebut memang sangat pendek. Tetapi mempunyai serpihan makna filosofis dan sufistik yang penting kita renungkan bersama. Gus Zainal, yang juga seorang kiai muda adalah salah satu budayawan yang sangat produktif dalam menulis. Puluhan buku baik yang bercorak fiksi maupun non-fiksi telah ditorehkan. Sayang, kiprah dia tidak terlalu lama. Di usianya yang relatif muda, 35 tahun, Gus Zainal dipanggil Yang Mahakuasa pada 14 Maret 2007 di rumahnya, PP Mahasiswa Hasyim Asy’ari Jogjakarta. ( Jawa Pos, 18 Maret 2007).

Sisi lain yang paling unik dari kehidupan dia selain kegemarannya dalam menulis ialah kesahajaan dan kesederhanaannya dalam bergaul dengan siapa pun. Sikap hidup demikian bukan berarti menggambarkan latar belakang sosial-ekonomi yang pas-pasan. Gus Zainal bukan seorang fakir atau yatim piatu. Dia adalah putra seorang kiai desa yang kaya raya. Tetapi walaupun demikian dia tetap mengedepankan sikap kesederhanaan, kemandirian, dan kepedulian kepada sesama.

Sebagaimana diakui sendiri oleh Gus Zainal dalam salah satu bukunya, 3 M: Muda Muslim Mandiri (2005), sikap tersebut sengaja dia lakukan sebagai wujud kesadarannya dalam menumbuhkan etos kemandirian dengan jalur kepenulisan sebagai medium kreativitasnya.

Kesederhanaan, dengan demikian, adalah kata kunci untuk memahami siapa sosok Gus Zainal yang sebenarnya. Sikap hidup yang dia pilih ini mengingatkan saya pada kisah Nizam al-Mahmudi -seorang sufi yang kaya-raya tetapi memilih hidup sederhana. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan amat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan.

Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa Nizam al-Mahmudi mempunyai kebun subur berhektare-hektare dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi ratusan keluarga yang bergantung padanya. Tingkat kemakmuran para kuli dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan usianya.

Salah seorang anaknya suatu ketika pernah bertanya, ”Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Nizam al-Mahmudi mengemukakan tiga alasan: ”Pertama, karena betapa pun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-hari ia cuma mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya. Dan, ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya, ia akan kurang bersyukur kepada Allah.”

”Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih selesai. Kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Apalagi Ayah dan Ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?”

”Ketiga, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma/gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat? Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahkluknya. Dan, dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan hanya keserakahan seorang manusia saja.”

Demikianlah kisah hidup seputar Nizam al-Mahmudi yang telah banyak mengilhami perjalanan Gus Zainal. Sikap hidup yang sederhana adalah wujud dari pemaknaannya yang mendalam ihwal esensi dari kehidupan ini. Bagi Gus Zainal, yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana kita mampu bersikap peduli kepada sesama. Sebab, orang yang memilih peduli pasti hidupnya diberkahi (hlm. 151).

Buku Gus Fadhil Bertutur ini sebenarnya merupakan kumpulan esai pendek Gus Zainal yang lebih banyak menyoroti masalah kepedulian sosial. Apa yang terangkum dalam buku ini merupakan fakta sehari-hari yang dialami penulisnya sendiri. Itulah sebabnya kenapa kemudian tokoh Gus Fadhil dalam buku ini tak lain adalah penulisnya sendiri.

Dengan karakter tulisan yang sangat khas, dialogis dan kritis, buku ini penting kita baca sebagai referensi dalam menjalani kehidupan yang kian runyam dan menantang. Buku ini sekaligus juga menjadi ”kado perpisahan” Gus Zainal dalam mengabdikan dirinya khususnya kepada santri-santrinya yang dengan tulus telah dibimbing menjadi penulis-penulis muda berbakat dengan spirit kemandirian. Sebab, sebelum buku ini diterbitkan, Gus Zainal sudah wafat. Dengan demikian, ajaran-ajaran kebijaksanaan dia yang terekam dalam buku ini merupakan warisan intelektual sekaligus warisan spiritual yang sangat berharga. (*)

*) A. Yusrianto Elga, alumnus PP. An-Nuqayah Sumenep, Madura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *