Bayi Karet

A Rodhi Murtadho

Bayi karet telah lahir. Mengguncang seluruh percakapan di warung-warung. Memanaskan perdebatan di forum-forum diskusi pinggir jalan. Bahkan para anggota dewan melakukan rapat pleno untuk membahas isu meresahkan ini. Bayi karet. Mewaspadai ancaman politik. Meski juntrung kebenarannnya masih dipertanyakan.

Omongan merata terdengar di setiap telinga. Namun, mata belum menyaksikan. Wartawan-wartawan dengan sekuat tenaga dan secepat kemampuan menelusuri sumber isu. Tentu akan membawa para wartawan kepada bayi karet, pikir mereka. Berita heboh akan didapat. Bonus tinggi yang dijanjikan si bos bisa berada di tangan.

Bayi karet terdengar makin meluas. Bahkan sampai mancanegara. Obrolan isu. Pakar-pakar kesehatan membincangkan kemungkinan penyimpangan-penyimpangan pada struktur tubuh. Atau, pakar-pakar kerohanian membincangkan sisi lain dari anugerah, peringatan, dan bencana. Atau, pakar-pakar politik yang membincangkan kemungkinan ancaman yang lebih dari isu bayi karet. Atau, pakar-pakar hukum yang membincangkan kesahihan isu bayi karet. Atau, pakar-pakar budaya yang membincangkan kemungkinan cerita fiksi bayi karet. Atau, pakar-pakar ekonomi yang membincangkan nilai isu bayi karet. Atau, pakar-pakar pendidikan membincangkan pembelajaran dialogis.

Tak ada yang diwawancarai karena wartawan belum menemukan bayi karet. Meski sudah ekstra kerja keras. Belum ada gambar terpampang. Belum ada komentar langsung orang tuanya. Bayi yang konon bisa memanjangkan tangan dan kaki bahkan semua anggota badan. Ataupun jika dibanting malah memantul. Jika diinjak atau dilindas akan penyet sejenak sebelum akhirnya kembali ke bentuk semula.

Isu kehebatan bayi karet makin hari makin terkuak. Memanas. Makin geram ingin menyaksikan langsung. Telinga ingin mendengar ranum tangis. Tangan ingin mengelus mulus kulit dan mencubit molornya bayi karet. Menimang dan merasakan hangat ompol.

Sudah dua minggu bayi karet hanya menjadi percakapan. Namun pada hari kelima belas ada kabar yang menyentakkan setiap orang dan para wartawan. Dikabarkan bayi karet dilahirkan Suminah, istri Paijo. Sigap setiap orang memeriksa tetangga. Menanyakan nama yang selama ini belum mereka kenal. Para RT, lurah, camat, bupati, rumah-rumah sakit, gubernur, anggota dewan memeriksa nama-nama rakyat dan pasien. Ada jutaan nama Suminah dan Paijo.

Jalan setapak. Panjang menerobos sela-sela kumuh bangunan. Sesak. Kadang harus berhenti berjalan dan antri ketika bersimpangan. Ditambah rasa sengat di hidung. Sampah, bangkai tikus, bangkai kucing, tai dan pipis berserakan. Mungkin warga sudah bosan membersihkannya.

“Permisi, Pak! Bapak tahu rumah Paijo? Katanya ada di sekitar sini?” tanya wartawan berbaju biru. Ragu. Mengandalkan keuntungan.
“Rumah Paijo ada di ujung gang ini. Sampean lurus saja,” kata seseorang.
“Tapi, benar kan? Paijo ini memiliki bayi karet yang terkenal itu?” tanya wartawan berebut.
“Benar sekali. Nama anaknya Karet.”

Tanpa ambil ancang-ancang, para wartawan berloncatan berlari menyusuri gang sempit. Kamera dipersiapkan. Otak langsung berbunga mengais-ngais pertanyaan yang sudah lama terpendam. Jantung terpacu berdetak oleh gerak cepat tubuh. Nafas memburu tersengal. Aliran darah makin deras. Keringat bercucuran. Diacuhkan.

Rumah sederhana. Terlihat paling usang di antara rumah-rumah di sebelahnya. Berdinding kayu, berpagar kayu, berjendela kayu. Semua serba kayu. Rumah berarsitek kuno tegak berdiri. Meski sudah banyak retakan-retakan patahan dan lubang-lubang rayap. Genting juga sudah tak utuh. Retak dan gumpil.

“Permisi, Pak Paijo! Pak Paijo!” teriak wartawan-wartawan yang mengangkangi pintu. Menutup cahaya ke dalam rumah.

Kontan miris tangis bayi menyambut terdengar dari dalam rumah. Namun tubuh kering kurus yang nyembul keluar. Hitam legam. Bercelana pendek. Berkaos oblong. Bersandal jepit. Kumal. Jarang terawat. Terlihat masih muda namun pipi tampak ompong. Guratan-guratan tulang terlihat jelas. Kulit yang membungkus tubuh tampak sayu. Terlihat seperti tak berdaging.

“Ada apa, ya?” sambut Paijo bingung.
“Katanya bapak memiliki bayi karet, apa itu betul?” tanya wartawan berbaju coklat. Membuka percakapan.

“Ah, hanya bayi biasa saja. Adik-adik ini wartawan ya?”
“Iya, Pak. Kami ini wartawan. Boleh kami melihatnya?
“Oh, silahkan,” Paijo mengajak wartawan masuk ke ruang tengah, “Bu, ini adik-adik wartawan ingin bertemu dengan bayi kita, Karet.”

Perempuan paruh baya. Gemuk. Memakai daster yang tampak lusuh. Seperti berhari-hari tak dicuci. Muka tampak sayu berpenyakitan dan berhari-hari tak makan. Melankolis. Namun senyum menebar dan mengaburkannya. Ramah. Sedang menggendong seorang bayi yang merengek.

“Ini istri saya dan ini Karet, bayi kami,” Paijo menunjuk Suminah dan bayinya.
Bayi karet seperti penuh pengertian. Menghentikan tangis. Membiarkan suara-suara para wartawan dan orang tuanya berkuasa. Memecah sunyi.

“Jadi ini bayi karet yang banyak dibicarakan banyak orang. Seperti bayi biasa. Lantas, tentang kelebihan-kelebihan bayi karet ini, apa itu benar adanya?” tanya wartawan berjaket hitam.

“Maksud adik-adik?” tanya Paijo.
“Semua sifat karet melekat di tubuh bayi ini. Bisa memanjang. Bisa memantul…” penasaran wartawan yang berkaos hitam.

“Ah, orang-orang itu hanya membesar-besarkan saja. Bayi kami normal dan seperti bayi-bayi lain. Seperti kalian lihat sendiri,” elak Paijo.

“Tapi dari namanya saja, Karet. Pasti ada kisah dibalik nama itu. Atau mungkin memang benar kata orang-orang dan kalian sengaja menutup-nutupinya,” desak wartawan berjaket hitam.

Suminah dan Paijo saling pandang. Berisyarat melalui mata. Keduanya seperti saling bertanya. Menjawab dengan kerdipan yang dipercepat atau diperlambat. Kadang helaan nafas panjang melengkapi. Semua bibir seperti terkunci rapat. Paijo tiba-tiba menganggukkan kepala.

Suminah tiba-tiba melepas Karet dari gendongan dan membiarkannya terjatuh. Seperti dibanting. Para wartawan kaget dan spontan ingin menangkap bayi karet. Namun tangan tak sampai akibat jarak yang agak jauh. Suminah dan Paijo hanya diam. Tak ada usaha untuk menolong dan menangkap bayi karet.

Karet jatuh ke tanah dan memantul kembali ke gendongan Suminah. Tercengang para wartawan melihat pemandangan yang tak biasa mereka saksikan. Tak ada luka atau sekadar goresan di tubuh Karet.

“Bagaimana bisa begitu, Bu, Pak?” tanya wartawan berjaket hitam keheranan.
“Kami sendiri juga tidak tahu. Yang jelas ketika dukun beranak membantu istri saya, bayi ini terlepas dari gendongan. Bayi ini memantul seperti bola bekel. Makanya langsung kami beri nama Karet.”
“Tentu saja begitu adik-adik,” tambah Suminah, “sejak bayi ini di kandungan, alam tampak menjadikannya demikian.”

Lagi-lagi para wartawan tencengang. Berita baru dari narasumber. Belum diperbincangkan ketika isu muncul. Pengaruh alam terhadap kemunculan bayi karet. Tentu akan jadi topik panas untuk berita. Bonus berlipat-lipat akan teraih. Mungkin akan menggantikan gaji enam bulan kerja.

“Maksud Ibu?” celetuk keheranan wartawan berkaos hitam.

Suminah mengalihkan pandangan ke Paijo. Lagi-lagi saling berisyarat. Wartawan saling memandang. Menunggu anggukan Paijo yang berarti mengizinkan istrinya bercerita. Tak begitu lama, Paijo mengangguk.

“Sejak kandungan berusia tiga bulan, terjadi gempa. Tentu saja guncangan hebat yang saya rasakan dan otomatis bayi ini juga. Sebulan kemudian longsor bukit-bukit yang ada di belakang rumah tapi tak sampai menelan rumah ini. Mengharuskan saya harus berlari dan mengguncang-guncang bayi ini. Kebakaran di samping rumah saat usia kandungan lima bulan. Angin puting beliung yang hampir merobohkan rumah ini di usia kandungan enam bulan. Banjir sedada ketika usia tujuh bulan. Isu gunung Semeru akan meletus di usia kandungan delapan bulan. Tentu saja semua itu mengguncang tubuh, pikiran, dan hati saya. Harus sabar menghadapi.”

“Oh, karena sering adanya guncangan itu, bayi ini menjadi elastis?” tanya wartawan berbaju biru hendak memperjelas.

“Iya, kata orang-orang pintar seberang rumah, bayi ini beradaptasi terhadap alam selama di kandungan. Sering mengalami bencana alam. Jadinya bisa beradaptasi terhadap bencana alam apapun. Kami tak khawatir lagi jika bayi ini terjatuh karena akan memantul dan kembali ke gendongan seperti yang adik-adik lihat tadi. Jika nanti pun ada banjir, tentu bayi ini akan mengambang seperti pelampung.”

“Hebat banget. Pernahkah Pak Paijo bermimpi yang aneh-aneh sebelum Karet dilahirkan. Atau mungkin Ibu Suminah sendiri yang memimpikannya?” tanya wartawan berbaju biru menelusuri.

“Kalau itu Mas Paijo yang mengalaminya. Iya kan, Mas?” Suminah menjatuhkan pandangan lagi kepada Paijo.

“Ah, itu hanya kembang tidur. Tak usah dibesar-besarkan.”

“Tapi, kata dukun dan yang mengerti ilmu tafsir mimpi, anak ini memang disiapkan menjadi orang besar. Banyak dianuti orang-orang. Semacam pemimpin gitu,” imbuh Suminah di sela-sela raut malu Paijo menutupi.

Wartawan-wartawan seperti mendengar dongeng dari Suminah. Terantuk-antuk mengiyakan. Tak ada pertentangan dalam diri mereka mengenai kebenaran yang seharusnya dipertanyakan. Berita. Berita. Dan hanya berita. Meski kadang harus disiarkan melebihi batas akal manusia. Tetapi, para wartawan tak peduli dan ambil pusing. Hanya berita.

Suminah dan Paijo seperti sudah terbiasa. Memang sebelum kedatangan wartawan ratusan orang mendatangi mereka. Dan hanya itu-itu saja yang mereka ceritakan. Karet. Sebab itu, mereka tampak lancar dan gamblang seperti menjalankan skenario yang telah dipersiapkan dalam berakting dan bercerita.

Sebenarnya tak ada yang perlu dipertanyakan wartawan. Cerita yang terlantun dari mulut Paijo maupun Suminah sudah ramai dibicarakan di masyarakat. Hanya saja wartawan ingin mengecek langsung dari sumber kebenaran. Mendapat kepastian. Menyaksikan sendiri. Bonus berita baru mengenai alam dan Karet. Tentu takkan didapat jika wartawan hanya berdiam menunggu.

“Maaf, Bu. Saya kok jadi tertarik dengan cerita tentang Karet dipersiapkan menjadi orang besar. Maksud Ibu, Karet akan menjadi pemimpin bangsa ini,” tanya wartawan di tengah kelengangan yang sejenak tercipta.

“Kata para dukun sih begitu. Bayi ini sudah memenuhi kriteria menjadi pemimpin atau pejabat. Adik-adik sendiri tahu kan budaya keseharian para pejabat dan pemimpin negeri ini. Serba karet. Tangan karet, kaki karet, jam karet, janji karet, pengadilan karet. Nah, semua sifat karet itulah yang mungkin menyebabkan para dukun itu meramalkan. Karet inilah pemimpin masa depan negeri ini,” terang Suminah.

“Lantas kalian percaya dengan ramalan dukun itu?”

“Ya, kalau dibilang percaya, ya percaya. Kalau dibilang tidak percaya, ya tidak percaya. Kami ini apa sih, adik-adik. Hanya orang miskin. Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari saja susah apalagi bermimpi anak kami menjadi pemimpin bangsa ini. Tentu akan makin susah walau cuma bermimpi. Tapi bagaimanapun tak ada salahnya kan orang memiliki mimpi. Biarpun mimpi itu sangat jauh untuk dijangkau dan diwujudkan,” Paijo menanggapi dengan tenang.

Para wartawan tampak merasa terenyuh dengan pengakuan Paijo. Sungguh di luar jangkauan prediksi para wartawan. Pengertian tentang kehidupan bagi Paijo tak sekumel tampangnya.

“Ya, memang. Tak ada yang bisa menghalangi orang untuk bermimpi. Dan tak ada salahnya orang bermimpi. Itu sah-sah saja kami pikir,” imbuh wartawan berjaket hitam menyahuti. Menghibur.

“Tapi menurut ciri-ciri yang bisa ditelusuri sekarang, Karet ini mungkin saja bisa menjadi orang nomor satu di negeri ini. Sekarang saja sudah menghebohkan masyarakat. Banyak dibicarakan orang-orang. Terkenal. Tentu dengan sedikit politik akan menjadikan Karet pemimpin yang dipuja-puja,” sahut wartawan berkaos hitam.

“Kalau dipikir-pikir, benar juga kata adik-adik ini. Kami baru memikirkannya sekarang. Kalau boleh tahu, seberapa terkenal anak kami ini sekarang?”
“Wah, sudah sampai mancanegara.”
“Uh, terkenal kamu, Nak. Tidak seperti Bapak dan Ibumu,” Paijo dan Suminah memandang Karet lekat-lekat sambil tersenyum.

Wartawan ikut tersenyum. Saling memandang. Tampak bahagia. Namun Karet hanya diam di tengah tawa. Seperti tak ada ekspresi wajah sama sekali. Bahagia, sedih, takut, marah, bingung tak terlihat. Beku pada kerdipan mata dan pandangnya.

“Kalau begitu, boleh kami ambil gambar Karet untuk dipampang di majalah, koran, televisi, dan seluruh media-media lain. Biar Karet makin terkenal.”

“Oh, silahkan. Silahkan!”

Kamera yang sudah dipersiapkan difokuskan pada Karet. Namun sebelum menjepret, Karet meronta. Tampak enggan diabadikan gambarnya. Tubuh Karet tiba-tiba memanjang. Tangan, kaki, leher dan semua bagian tubuh memanjang. Mencari pintu-pintu dan jendela-jendela untuk mengeluarkan kepala, kaki, dan tangan. Wartawan kebingungan hendak memotret. Kepala ada di balik pintu dapur, tangan di luar jendela, kaki menjulang keluar pintu depan. Kalaupun dipotret, hanya ada bagian tertentu dari tubuh Karet. Untuk memperoleh gambar utuh tubuh Karet tentunya harus menggabungkan bagian-bagian gambar yang diambil. Totalitas tubuh karet tak bisa didapat. Kalaupun dipotret dari jarak jauh, akan menjadi samar seperti rekaan.

Paijo dan Suminah memelas dalam pikir. Senyum kecut di muka. Mereka tahu kalau Karet enggan dipotret. Tak ingin terkenal semu semata. Sementara kebutuhan sehari-hari tidak terpenuhi. Harta ludes akibat bencana tak pernah dipikirkan. Orang-orang datang hanya bertanya tentang Karet dan kelebihannya. Pekerjaan Paijo yang tak pernah tetap, tak pernah dipertanyakan. Mengais rejeki dengan bercucuran keringat lebih dulu. Belum lagi harus mengobatkan Suminah karena penyakit kronis yang mendera.

“Pak, Bu, apa yang terjadi pada Karet? Kok molor tak karuan seperti ini.”

“Ini biasa dia lakukan jika merasa sangat kesal dan marah. Atau mungkin juga malu. Ini juga yang membedakan dengan bayi-bayi lainnya. Karet seakan sudah mengerti apa yang dibicarakan orang-orang dewasa. Mengerti keluh kesah orang-orang dewasa. Dan kami tak tahu, setiap ada orang datang kemari dan bertanya tentang dirinya, Karet selalu memanjang,” terang Suminah.

“Kok bisa begitu ya, Pak. Apa karet marah jika berita tentang dirinya disebarluaskan. Atau mungkin malu? Atau mungkin Karet tak suka dengan kehadiran kami berombongan seperti ini. Rame-rame dan bisa mengganggu ketenangannya?”

Hening tercipta. Tak ada secuil kata yang terlontar dari mulut Paijo dan Suminah. Pandangan mereka alihkan untuk menelusuri tubuh karet. Tersenyum pada mata kepala Karet di balik pintu. Pikir Paijo dan Suminah, jelas saja Karet marah. Kelu kesah orang tua yang serba susah tak pernah diungkap. Tak ada yang pernah menanyakan tentang perut, sudah terisi makanan atau belum. Tak ada yang pernah menanyakan jatah makan esok. Atau tentang susu yang sangat kurang. Mungkin karena Suminah sakit-sakitan dan jarang makan. Air susu tak lancar keluar. Yang jelas mungkin Tuhan menyiapkan karet memiliki perut karet. Setiap saat bisa diisi makanan dan setiap saat kuat jika tak ada makanan. Bayi karet bernama Karet dengan perut karet.

Malang, 4 Mei 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *