PARA AMATIR YANG PEMBERANI (I – II)

Untuk Penulis Pemula Juga Diriku Sendiri
Nurel Javissyarqi*

(I)
Yang tampak di hadapan kita, bisa ditulis bercorak bobot termiliki. Realitas angan, kejadian sekitar pun pengandaian tak masuk akal, dapat dirumuskan sesuai nalar perasaan. Analisa pendek pula diberangkatkan, sebelum badai kelupaan, hantu keputusasaan.

Inilah kesederhanaan hidup. Semua boleh menulis, asal tak bertolak hati nurani. Kegunaan nalar kalbu dijalankan. Menulis juga bermakna membaca, mengkaji diri, menyimak gejolak emosi. Setidaknya tak menghantam lewat tangan, tetapi berani menulis kejujuran.

Usah canangkan cita terlalu dini, kegiatan menulis tak mengganggu pekerjaan lain, yang telah digeluti. Daripada bengong ngelamun, menangis tanpa juntrung. Ambillah selembar kertas demi kesejatian nafas. Sebaiknya kita percepat pemberangkatan ini.

Menulis hal mudah, karena telah mengenal huruf, tanda baca dan faham rangkaian kata menjelma pengertian. Usah menyelidik terlalu, yang tertulis sudah ditulis orang atau belum. Menulis tak lebih melukis memuntahkan emosi, serta pertimbangan dari pantulan penalaran. Anggap sebagai kegiatan pemberitaan, bahwa di sekitar kita ada kejadian yang tak patut dilewatkan.

Tak mungkin kita merekam seluruh peristiwa bergumul dalam kehidupan, dengan merawat ingan terus-menerus. Alangkah sia-sia jika tak menulis seumur hidupnya, meski di buku harian. Sebab keluhan hidup terhadapati akan kental mewarnai kelak. Jikalau ditulis, kalimah itu yang merawat kepribadian.

Ini sekadar berani, tiada takut dicemooh bermutu atau tidak. Yang jelas, tiap gurat memutiara patut dihargai. Jangan sekali-kali anggap remeh tulis sendiri meski pun buruk, itulah tangga mengingat kebodohan. Dengan berjalannya waktu bersungguh, sedikit demi sedikit kita pelajari kejiwaan diri.

Tidak perlu mendatangi psikolog, dukun pun sejarawan. Kala mulai menulis, itulah sejarah awal, kejiwaan pertama dan kita menjadi peramal bagi diri sendiri. Olehnya, rawatlah karya pertama bertinta emas. Agar menghargai kebodohan muasal, sebagai kecerdasan tak terduga, tidak tersangka sebelumnya.

Aku tak miliki bahan ketika menulis ini. Nyata mengalir, padahal bermodal berani. Mari perturuti jemari agar kenang memutiara, yang kelak semua membaca dengan kekhusyukan, seperti kita dalam kepungan keheningan. Usah bernalar jauh, gelas di dekat menceritakan kegunaanya. Kursi, lantai, langit-langit pun buku-buku berserak bisa diajak bicara. Kala dialog bermunculan, itulah diri sesungguhnya dan besok lebih jernih dari hari ini.

Kejadian sekitar ialah informasi berharga, maka tulislah. Sebab ingatan kita tak sanggup mencatat seluruh. Dengan menulis kita dapati apa yang jadi keinginan, harapan niscaya cemerlang jika dituangkan. Alangkah lebih baik berani menulis, daripada sang cerdas yang ngoceh, namun ditinggal tidur para pendengar muak.

Menulis itu realitas kecerdasan kita yang bodoh, maka bersungguhlah agar tak jadi bahan tertawaan langsung. Simpan-koreksi berulang, sebelum dipublikasikan. Jika sekiranya berani menampilkan meski bobrok, kemukakan. Sebab malu sesal awal, guru paling keras mengajarkan bahwa kesungguhan hidup ialah niscaya.

Kita sulit menulis sebab tak banyak rekaman kata di batok kepala, tak ingat semua dalam kamus. Di sini tak anjurkan menyuntuki kamus, bacalah buku apa saja. Kata-kata luwes kegunaanya, jikalau merasakan makna kata yang sedang tertulis. Penghayatan kata antara kita mungkin beda, maka jangan hawatir perbedaan makna. Sejati itu milik kita, dan para peneliti kita biarkan bekerja dengan daya tangkapnya yang indah.

Camkan, lebih baik pemula daripada lihai menulis. Karena kelihaiannya, tidak memunculkan kejujuran karakter. Melupakan kesejatian, sebab perturuti kelincahan. Lantas pengendapan berkurang sedari kepribadiannya paling intim. Sedang pemula tidak mempunyai warna selain corak termiliki. Langkah kita kesadaran tapak demi tapak. Yang melesat di kedalaman angan impian murni, kekal dalam sanubari.

Jika mereka baca karya kita dengan seleranya, kita juga punya kesenangan beda. Atau memang cara pandang berbeda, maka usah hawatir perbedaan. Yang dibilang baik orang lain, belum tentu bermutu di hadapan kita. Setiap insan miliki timbangan, ketika melangkah di alam penulisan. Olehnya, ayo berangkat menulis, agar memiliki penilaian lebih baik untuk diri sendiri. Daripada menyadong pandangan orang lain.

Kita bisa tulis puisi, prosa, novel, balada, hikayat, sejarah, filsafat, psikologi, musik, matematika dan sebagianya. Tidakkah ilmu bisa dipelajari, “ilmu katon” istilah orang Jawa. Dengan logika dasar yang ada, kita berangkatkan pemahaman hidup dengan apa yang dituliskan. Usah hawatir dianggap amatir. Sejatinya semua insan amatir, ketika jiwanya menyadari kerentahan, kekurangan. Seperti saat-saat mencret, tentara gagah berani sekali pun, tak bisa berbuat apa-apa ketika sakit perut.

Usah cemas berbeda faham. Lebih baik para amatir yang menggenggam kejujuran. Daripada yang lincah menulis, namun telah tergadai logikanya dengan yang tiada kaitannya nurani, sebagai landasan pemberangkatan menjadi manusia beradab.

(II)
Percaya tidak, pendahulu kita pernah bilang menulis itu mahal. Tiba-tiba lainnya bicara, mengarang itu gampang (bersenyum sinis). Yang lain menganggap kita instan. Padahal sebelumnya menakut-nakuti kita para pemula. Memangnya hanya mereka yang memahami kata bekerja. Di sini suntuk masing-masing, bersayap pengetahuan diberikan tuhan. Jikalau ada menghalangi, anggap sebagai penutup rahmat.

Mereka ternyata ragu, sejarah waktu dapat menentukan nasib karya. Olehnya, jangan dengar ocean yang menjegal langkah. Mari bersungguh tak mereka saja mampu. Jangan tertunduk yang suka dibesarkan, kita sama bernyawa. Ingatlah, kesuntukan dua tahun, melebihi yang berleha sepuluh tahun, perkalikan itu. Dan jangan biarkan tersita perkataan merongrong. Yakinlah mampu, terus berkarya!

Bagaimana gelapnya sejarah sastra indonesia dengan Pram kurang diperhitungkan. Tapi sebab kegigihannya, orang luar menerima dan sastra kita baru melek membaca karyanya. Sekali-kali jangan mengemis, kita bisa bikin sejarah, mencipta dunia yang di dalamnya tiada penjegalan pun hantu-hantu tak masuk akal.

Kesungguhan timbangan amal, menggoyang takdir tak mapan bathinnya. Niat ibarat magnit menyedot jarum di dekatnya, mampu getarkan lempeng besi walau mata tak melihatnya. Tancapkan niat, getarkan bumi berkeyakinan melampaui. Keyakinan kita melesakkan wajah-wajah buram.

Sastra bukan hanya milik mereka, kita lahir di bencah nusantara untuk memperkaya khasana dunia. Ayo beramai-ramai menabur bebijian pendapat, hanya penabur kelak mendapatkan. Tidakkah waktu kekinian lebih purna serta luas jangkauannya, inilah keniscayaan sekarang!

Bacalah buku-buku guna tak dipermainkan pendapat, terutama sejarah dunia dan teorinya. Agar tak dipandang remeh orang-orang yang duduk dikursi. Jangan lelap sebelum tancapkan keyakinan di kedalaman karya. Bacalah, biar sanggup tertawa atas bukit yang memberi petuah.

Sejarah tidak berdialog pada kita kecuali berkarya. Biar mereka anggap remeh, terus bersungguh. Kita diberikan tuhan nyawa, dengan itu seimbangkan tanah air tercinta, bahwa bukan mereka saja.

Mari lahap keilmuan sedari penjuru sekuat daya, agar tahu sudut mereka duduk berlantang mengeluarkan pandapat. Amini saja, namun jangan luma kewajiban berkarya. Terus sampai mereka muak melihat langkah-langkah kita!

Di sini bukan merendahkan kerjanya, sebab meremehkan seperti sundel bolong. Mudah ditujah lewat pintu kapan saja, arah mana pun. Kita mantabkan langkah, agar tak tersendat pendapat sekilas, dari sehabis pulas mendengkur kekeyangan.

Tidakkah tuhan anugerahi nyawa sekali. Saat tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, akan dipolitisir waktu-waktu pembodohan. Sebenarnya kita punya nyawa rangkap tapi wujudnya berbeda. Itulah kesungguhan, kegigihan pantang mundur meski api melumat, walau hujan banjir menenggelamkan simpanan.

Harta paling nyata hanyalah ilmu, dengannya dunia hancur lebur dapat dibangun kembali. Nyali tak lekang nyawa bersarungkan badan. Jangan terkecoh jembatan layang ciptaan. Mari membaca filsafat ilmu, agar bathin tegak sentausa.

Meyakini hasil penelitian, percaya sehabis mempelajari, terus menyelami identitas, agar tak mudah mengamini secara bathin pendapat lain. Sebab kebenaran kerap dimanipulasi, ketika tiada aliran pemahaman lebih. Seair kali mandek, warnanya berubah keruh.

Sekali menjawab pertanyaan, di sutu terbaca. Maka jangan sering menuruti, kalau iseng tak masalah demi mengecoh menyenangkan. Sebab tampang dunia kelihatan di jaman kekinian. Bacalah berbathin dan selidiki penuh kewaspadaan.

Mengamati ucapan yang meremehkan, sepertinya lupa pernah muda. Pun lalai kalau energi pemuda lebih daripada yang cepat lelah sebab usia. Kelemahan kita hanyalah keraguan. Jangan ragu hidup sekali dan mati itu pasti. Bukankah keyakinan percepat segalanya?

Terus membaca menulis sampai teler mendekati gila berkali-kali. Di sana temukan manfaat, dari teknik hingga menimbang ruh karya. Pecahnya isi kepala melancarkan berkata-kata dalam penalaran bathin. Istilah jawa “wes ngerti padange ndonyo” atau sudah faham terangnya dunia.

Ketika kandungan otak membuyar, pemahaman awal sepasir berserakan. Dengan sekop sungguh diangkut. Lalu direkatkan bersemen niat, bersama baja keyakinan. Peristiwa pecahnya sarang nalar hampir mendekati turunnya ilmu laduni.

Kurangi tidur sedapat mungkin, membasuh muka berkali-kali. Kasih mata ini sedikit garam kalau berani. Atau incipi asam Jawa biar jika diserang kantung membuta, bisa mengelak. Terus membaca meski kantuk, sebab alam kantuk sanggup menancapkan ingatan sedalam sukma. Jangan sering pakai bantal, itu mengurangi dinaya ingatan.

Itu sekadar contoh, aku yakin kita miliki kegilaan masing-masing untuk melahirkan karya. Ini tegur sapaan amatir pemberani. Untuk akhiri ocean, mari perbaharui niat kesungguhan pagi. Anggap belum mengerjakan apa-apa, sehingga tak sungkan menghadapi situasi apa pun. Tergerus hasrat tumpul kesumat menjelma kasih. Keputusasaan pada yang tak pernah terbentur. Rasakan kegagalan secorengan muka atas belati sendiri.

Semakin mengalami, kian kuat menahan apa saja. Singsingkan rasa malu, sebab separuh kesalahan dihasilkan dari situ. Alangkah indah dianggap remeh pun betul. Lewat ini darah kebodohan menggejolak. Tanah kehadiran butuhkan pengorbanan, darah juang tumbal semangat. Yang menyerahkan nyawa demi ilmu, merdekalah pemahamannya.

*) Pengelana suka menulis, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *