SAHIBUL HIKAYAT AL-HAYAT

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Dalam kegaduhan yang menerpa
dalam gemulung alunmu jua
kuabadikan jalinan masa
menjadi si kidung cinta.

Pitra yang baik.
Adakalanya kita menjadi tenang dan teduh, karena merasa ada di tengah keluarga sendiri. Adakalanya menjadi lembut dan pasrah, bahkan narima ing pandum, setelah merasakan dahsyatnya angin puting beliung yang mendera pondok damai kita. Dan adakalanya pula, tatkala perhatian terpusat kepada segala yang terbaik, yang tergumpal, yang kental serta pepal, maka kita menjadi lembek. Mungkinkah aku sekarang berkata begini padamu, karena banyak merasakan hantaman-hantaman dalam kalbu ini? Kalau tergoda untuk mencari jalan-jalan kecil desa-huni-sunyi?

Pitra yang baik.
Banyak di antara kawan dekat berterus-terang, alangkah baiknya apabila kita menciptakan sendiri relung-relung bahagia yang dapat diresapkan serta diabadikan. Relung-relung ini, barangkali berupa sebuah kalung emas berhiaskan batu-batu mulia, semisal jamrut dan mirah delima, atau pending bertahtakan ratna mutu manikam. Di dalamnya tertulis nama-nama dari orang yang dekat dengan diri kita, atau bisa juga rautan wajahnya, bayang-bayangnya, atau ujud apa saja yang kita sanggup mengingatnya selalu. Kukira, dulu dikau memperkirakan soal ini. Kukira, ada dalam dirimu semacam kerinduan untuk memiliki rekaman saat-saat bahagia yang begitu dalam. Tapi, apakah sempat membayangkan suatu Taj mahal dan Taman Bergantung di Babilonia? Inilah yang kembali menyentuh hati kita kini, justru ketika masa yang menggelisahkan (tapi penuh kesan manis) itu terjadi.

Pitra yang baik.
Gumpalan-gumpalan mega dari masalalu ada di jantungku sendiri. Kalau kuingin menguakkannya, aku kan mencoba sekuat daya, yang alangkah pedihnya untuk melakukannya. Kukira, Pitra merasakan pula sesuatu yang menggumpal dalam rabu, tatkala perjalanan kasih pernah kita lalui, kita sentuh dan kita pagut. Sedemikian jauhnya, ngelangutnya gagasan ini, sehingga kancah yang dibentuk serasa di atas bidang tanpa garis. Andaikata dapat mengejawantahkan kembali jelajah terhadap kehidupan, kita bisa mengatakannya dulu, seperti sesuatu yang penuh kekitrang – kendati makin sulit buat memisalkannya pula.

Pitra nan budiman.
Sekiranya percakapan musim – yang pernah kita perkenalkan kepada dunia, dan kini kita singgung sejenak – menjadi bagian dari kenangan tak terlupakan, o, sungguh indah membangkitkannya hangat. Diri kita seakan menjadi hulubalang di tengah medan perang yang kita pergelarkan ulang. Namun demikian, bukan siulnya perang itu sendiri yang jadi obsesi dari hidup yang melingkar-lingkar ini. Melainkan sikap dan geliat laku dari sang hulubalang, yang sekian puluh tahun mengatur suara-suara dari kekuatan yang kokoh. Ataukah justru kokoh, tapi menenggelamkan hingga ke dasar yang sedalam-dalamnya?

Pitra sayang.
Ada titik-singgung dari lantunan kenang dan pengharapan untuk membenahi harikini. Kuyakin, saatnya belum terlambat. Kemarin, di kala hatiku sumpeg dan kembali kuinjak pasir pantai yang lembut keputih-putihan di ujung barat kota, aku menemukan bagian cerah dari segi hidup ini. Ah, bukan sentimental, kalau bicara begini. Hanya sekedar mencuplik hal-hal yang menggembirakan, dan alangkah girangnya, sehatnya, segarnya – karena diri sempat bermain di lingkaran masa silam. Lagi pula, sesekali, kita mempertautkan kembali jasad dan ruh kita kepada alam kedamaian yang pernah kita kagumi, rujuki serta selami cukup lama.

Mengapa manusia membicarakan tentang kubur, padahal jauh di dasar hatinya sesungguhnya dia teramat takut akan kematian? Mengapa manusia berusaha mencuwik sebagian dari tatanilai yang tersuruk di balik ranjang zaman, sementara dirinya enggan untuk dilibatkan kepada peristiwa yang berhubungan dengan kebringasan el-maut yang tanpa ampun itu? Terkadang, ada yang memang musti dinyanyikan, padahal kita benar-benar ngeri untuk memperkatakannya. Terkadang ada yang teramat menyembilu hati, karena itu dirasakan perlunya untuk hidup yang bukanlah hidup itu sendiri – kehidupan yang diancangkan dengan setengah hati ternyata sama sia-sianya. Lebih indah membentangkannya, dengan batin paling siap untuk itu. Atau menjulangkannya, lantaran dirinya menyangga suatu titiwanci.

Pitra yang tersayang.
Apabila seperti keluhanmu kemarin dulu, semakin lama makin mahal kita tersenyum (ah, yang benar…!) – maka di sini pun aku kan bisa memberikan jawaban yang kurang lebih mirip. Begini: pada saat manusia enggan memberikan senyumannya kepada sesama hidup, mahal senyum kepada dunia dan seisinya, yah – pada waktu itupun dia ada merasakan sesuatu himpitan yang terberat. Himpitan, yang kau tahu sendiri, menjadi bagian dari makna hayati itu sendiri. Himpitan, kawan. Himpitan, karena orang dalam keterpanggilannya dengan situasi-situasi jiwani yang sulit ditebak, dia terjempelak. Kadang, diperlukan upaya untuk menerjemahkan penilaian kita terhadap Sang Waktu, karena di situlah terdapat bentangan yang sesungguhnya. Lewat penamaan Waktu yang meletihkan (ataupun juga memperkaya jatidiri!) maka terpenuhi tuntutan yang terbaik. Sebaliknya, manusia terlalu papa untuk penggandaan ilmu.

Pitra yang tersayang.
Dalam hal-hal yang nisbi, kibarkanlah benderamu yang lebar jembar serta perlihatkan kepada dunia, bahwasanya dirimu mampu menjadi pencetus dari katahatimu. Dalam hal-hal yang nisbi – kukatakan hal ini semata-mata buat menekankan betapa dunia terlampau lama dimainkan oleh lagu-lagu kenisbian itu, dan bagaimana kita sendiri lantas tergoyang-goyang antara yang meremang dan yang menimbulkan perkiraan, ikhwal semua, kemajemukan semata. Kemudian dirimu melangkah, seraya bergumam. Dirimu melangkah seraya meragukan temuan-temuan hari muda yang baru saja berlalu. Namun jelas, hal semacam ini pantas direnungkan, sahabatku.

Kauperhatikan, bahwasanya gambaran-gambaran dalam jiwamu adalah milik yang terpatri pada tembok kebaktian yang cukup lama juga. Kita adalah anak dari pengembaraan bakti yang mengandung secuil rasa bahagia. Kita, anak dari keping-keping pengalaman rohani dari masa yang terkadang kurang diperhitungkan jamannya. Karena itu, jangan biarkan airputih yang tenang dalam gelas di depanmu tak terjamah, karena dirimu hanyut dalam lamunan hampa. Coba, teguklah air itu, lantas tenangkan diri di tengah suasana sekeliling. Kemudian, kau akrabi jam-jam yang mendekat itu. Kuyakin, ada yang bakal terselesaikan di kala hari ini menggelayut.

Pitra yang budiman.
Pada waktu helai-helai warkah kaukirimkan padaku dari sebuah kampung nelayan yang sunyi itu, apakah sebenarnya yang tengah kaupikirkan? Kau menyebut kampung itu Jaladriseta, lautan nan putih. Hmm, terdengarnya seperti suatu sindiran yang agak menggelikan. Lautan, di manapun juga, disebut biru karena keluasannya dan kesemestaan yang dipangkunya. Buih-buih yang ditampungnya di kala datang alun-gelombang pasang, niscaya menciptakan percikan warna putih memplak. Bukan putih samudera raya itu, kawan, melainkan hanya luapan busa yang menggarang. Sedangkan sang maha-raya-air-gemair yang membentang dari sini ke suatu cakrawala tanpa watas, meronakan kebiruan nan menggelanggang – dan alangkah menghanyutkan hal itu! Kita bisa menyatu di pusat birunya.

Pitra yang baik.
Kembali kepada pasir yang halus-lembut, bumi memutih dan tatapan serba-lapang di kejauhan. Ada yang hilang dari tubuh dan sukma, kurasakan hal itu berlangsung. Kau masih terlalu remaja saat itu. Kalau kusebut sekarang: sudah berapa kali purnama, berapa kali musim semi, sayangku? Aku sendiri, kalau kuingat pada masa lampau mempunyai nalar serta pemikiran yang belum mantap. Apa yang terlekat di benak, tiada lain hanyalah rautwajahmu yang manis nan belia. Mungkin masih diperlukan proses waktu yang panjang, sebelum putik bersemi merekah, menyerbakkan harumnya. Masih dibutuhkan jangka waktu yang memberikan kekuatan rohani, sebelum bibir ini mengucapkan kepastian kata, bukan sekadar sumpah-sumpah setia yang naif. Sekali lagi, sambil merenungi air muka samudera yang jembarnya tiada terselami. Wahai, dikala segalanya telah jauh di belakang, kini kita seperti menyanyikan lagu duka yang tak tentu nadanya. Dada terasa sesak.

Kampung nelayan itu tentunya masih memiliki gubuk-gubuk beratap ilalang, dinding anyaman daun palma, dan manakala angin senja melolong panjang dalam kembaranya, dia tak lupa mengusap-usap tepian atap pondok yang ringkih. Masa itu, kita sempat bermesraan sejenak di bawah naungan gubuk nan sepi. Di tengah rungsung badai di lautan sana, terdapat badai lain yang tak kalah gemuruhnya. Itulah gelombang darah muda kita, yang payah diteduhkan. Segalanya berlangsung lembut, nyaris tanpa keperihan, apalagi kegetiran. Tapi, sekarang – kala kita coba menyimak kembali bekas-jejak yang lenyap di hamparan pasir. Kegetiran pun singgah di sanubari. Lalu aku duduk, tercenung, dan mencoba mengingat-ingat kembali. Sudah berapa musim panas? Sudah berapa musim hujan? Sudah berapa musim badai? Sudah Gemulung yang menderu-deru masih keras berkumandang, sayangku. Paling kuat deru-dera itu jadi rasa ringkih nan muncul sesekali. Ya, tatkala beberapa helai rambut di pelipis mulai memutih dan pikiran susah ditentramkan, menjelang tidur malam.

Pitra yang baik.
“Kupikir, hari makin gelap dan makin gelap juga…”
“Siapa bilang hari menggelap? Kunang-kunang beterbangan di langit. Ada dua-tiga butir bintang-gemintang di langit beludru biru.”
“Kau mencoba meneduhkan angin kencang yang bertiup?”
“Kau mencoba menyiramkan air ke api unggun dahsyat ini?”
“Bukan, bukan begitu. Tapi aku tiba-tiba merasa sedih…”
“Jangan sedih. Kita berdua menyatukan hati yang gelisah.”
“Tapi, tapi kita belum layak berjalan terlalu jauh…”
“Memang belum. Cuma saja, mustahil diri menghindarinya!”

Sekali lagi, dan sekali lagi, kalimat-kalimat yang pernah meluncur dari bibirmu dan bibirku mengiang bersipongang. Kita takkan lolos dari kepungan peristiwa lampau, betapapun telah mengabut halimun. Karena, dia sebagian dari makna yang terpahat di jantung yang masih kuat berdegup. Menjadi serpihan dari pori-pori kulit denyutan darah hayati.

Pitra yang budiman.
Tentunya, kau ditemani oleh kedua anakmu kini, yang keduanya telah berangkat remaja. Sayang, sayang sekali terlalu cepat kau menemukan batu gelang yang mengakhiri masa bahagia rumahtanggamu. Suamimu yang tua, yang bangsawan berbudi luhur, pergi dinihari sesudah kapalnya yang megah itu hancur berkeping-keping oleh badai di pelayaran musim bunga. Kuharap kau tabah dalam derita senyap tanpa pendamping. Kelak, jika putra-putramu telah menjadi dewasa, niscaya keduanya akan lebih melengkapkan bahagiamu yang terpenggal. Kau akan bermuara di laut pula.

*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *