Balada-Balada, Suryanto Sastroatmodjo

BALADA GAGAK RIMANG

_
Pada jelaga paling hitam, Gusti
Sandang lelakon telah semayam
Biar nanti malam bintangku ketawa
lantaran pentil mempelam jatuh tengah hari
mengusik tidurku di kerakal jalanan desa

_
Akulah penikam itu, bapa! Akoni akon terlongok
Lha wong belum sepertiga menit doaku terbang
dan sang penunggang datang tergopoh
Kini lengkap pelana dan jubah pradah
O, bakal menembus malam kakiku nyongklak

_
Dan tida ?kan gamang perlawanan
ada di sanggar-sanggar jumagar. Leleh lili kakang
Kala langkah kuayun, dan pagi cengkring
meninggalkan senyap berdering

_
Lebih bakal tempelak-menempelak nanti
pabila kisah Dang Mantri Pamungkas
terakhir menggiring cicak
terakhir melingsir tandak berpupurtebal!

_
Kilah dan kiat di pupuk
sedang tongkat punden terobat-abit
Alangkah panjang gores pengakuan di
kais di anjungan griya rongsok
Menyanyikan demam geraham, kala Jum?at Kliwon
loncatan senyap malamcengkar. Diriku terpenggal

_
Santuni dia,para kanak dolanan
yang mengimbang juluk-jaluk taktercurah
Kemudian, pada tawar-menawar liar. Tikam jangkar ,
atilah Dang Mantri Pamungkas
Kugelintir butir pelanangannya
hingga tales-tales apesnya merembes

_
Pagut-rengkuh pada subuh taubat
Gagak Riamg rebah bagai bersujud
Ah, ah, ah-depan kubur Den Ayu Manyul
menyatakan senapa tawar. Ada yang dinanti
Sang Penunggang yang terpenjara dalam kandung!

BALADA JAGO KEPRUK

_
Nilai dan semburan garam
kusangkut di tenggorok berborok
Tapi kenapa tuan tak gumregah
buat kentong pincang gelagapan?
Aduh, ?nak jabang, lihat sepinggan ceper
gumletak tak terjamah
Sementara gurung asat, hidung terjongkat
upil-upil yang mengering congkal

_
Ayuh, para sahabat-di mana gapaian mawar
dalam demam kita, dalam dendam serokah
Melilitkan sabuk gatal di perut
Melilitkan bengkung di sengkelut
Tengok, biyung, ada gelagah terbentang wiyar
di kaki lazuardi nan sepuh nian!

_
Aku membilang terimakasih pada sungai dan kedung
atau batang-batang alang-alang, bebatang genjer
Mematahkan sorak dalam dada
memalang kayu glugu dikuncungan pondok
takkan berpaling pada dunia lain

Mungkin Dursasana dan Kartamarma
memasrahkan topeng kepada bunda semasa bocah
Dan Demang Sapujagat, pemilik aji Singabanda
baru kini menyeleh selendang ke pundak sengkleh!

_
Warna bukit lorkulon tak lagi kunyit
tapi kembara si anak manusia dipungkasi
Selewat satu oktaf dari gending Pandelori
tarian sukmaku nan lilipit
jadi cuwer dan terus menetes: tes, tes, tes,tes, toooos!
Galap cuaca musim gugur
kutabuh dongeng senggang-ladang
Hanyapun pabila kentong pincang memalik
maka aku diseret pulang oleh poyangku

_
O, Allah, dubillah setan! Siapa pernah durhaka
tak sekelumit jeritku di Lebaran tanpa puasa.

BALADA SI BAGUS

1
Dan daratlah maka laut mati
menangkap bumi, menyeka butir-butir keringat
nan membilang kesyukuran syahdu
Sampai senggama pun enggan dicopot
dari liang cahaya gupita

Mungkin sebuah lanskap wening
tak lagi memburai nuansa cengkar
Gebalai si miskin hingkang
dari wilayahtubuh kawitan

2
Tiada yang menyerupai maut
diundi oleh curiga dan kendala
lamun gumingsirnya peradaban
pada juang kirbalik ratu rawit
yakni si kecil, juga si bagus
Kawula masa nan menabuh genderang

Jurai suminar lagu sasmita
demikian sayuk dalam relungcita
Suara segera menjauh,kian jauh
tinggal puing kenangan pada maya

3
Si Bagus, justru dari si paling alit
di kala kobaran api menukik pemantik
Lalu sapa darinya, dan tarik tali kekang
biar bak kuda bendi menuju pesisir
Aku rangkum lawatan gumulir

Wasana kata-di sini ornamen sendu
makin mengocak geliat-gemulut lindur
Sampai pun rasa getun menyiksa
khalayak yang mengasihi satwa-satwa

4
Maka inilah Si Bagus: ikhlas berada di antara lembu jantan
atau mengunyah dedak seperti mulut anjing belang
Karena lepas berbaring letih di bawah pohon zaitun
Si Bagus memanggil bapak dan emak
yakni: dekap dan tiarap di alun-alun kebungahan.

BALADA RAHADYAN AMBARKATON

I
Cekar-cekor ?lah dituliskan pada lempeng tembaga
Dan padu sudah tuang-tindihan tatah-sungging
Kala batin bergempa,oleh kerinduan sarat

II
Dicebgkal oleh lindu, dilindas musibah nasib
Rahadyan Amabarakaton oncat dari dalem-ageng
Semilir-anglir langkahnya lilir
Waktu gunem diugemi para penagih pajak negeri

III
Pesanku pusat memusing pengot
Atas landasan kayu-kayu atos dan garing
Dekatlah padaku, buahhati.di samping Nyi Ratu Sepuh
Mendekap romo, mendendang syair Kusumastuti

IV
Riak-riak Bengawan Sore. Olak-alik pagina lontar
Menyepuh ungu tubuh kita yang telanjang, oh, oh, oh
Menjelang panen cangkih nan akbar
Menjelang tunainya tugaswenang Dang Wali Negeri

V
Dan sang denok, dulu lelap di pangkuan gusti
Sekadar mencantekan waham gairah perawan sayuk
Dengan kalam tajam menggurat lontar
Secoret kemakluman terhadap dongeng purba

VI
Mengakencana, kulanuwun, Denmas! Satu suara bergema
Aku membisu sampai pupuh ketiga suwuk
Lantas iketku gadungmlati kibuka pelan
Laras jiwa temungkul, sigeng malam macapatan ini
-Lerem,lerem ayem, dan wedang jahe, kuih bolu
Menggelontar tenggorokanku. Kuingan kisah Wong Agung Menak
Pemenang langgeng hayati. Hmmm,kuolak-aliklontarputih!

VII
Rakit batangpisang membelah riak Bengawan Sore
Denmas ngapurancang, tapi mata menyelidik senja dingin
Di bekas dermaga,seekor anjing batuk-batuk kecil
Mengajak bercanda juragan: Rahadyan Ambarkaton

VIII
Tamu-tamu tersibak waktu melepas jenazah Kanjeng
Sementara antara poyang-payingan Sang Ambarkaton
Menutupkori dengan selarak hijautua. Wajah merengut
-Alangkah sepi, diajeng Kusumastuti enggan kembali

IX
Sudah tertebussekarmayang dari kubur pengantin muda
Ada kumandang guyubmu: mamapah Dyan Ambarkaton ranjangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *