Amuk Tun Teja

Riau Pos, 15 April 2007
Marhalim Zaini

Tanpa mengetuk pintu, tanpa mengucap salam, seorang perempuan renta berkebaya lusuh masuk ke kantorku, dan langsung duduk di kursi tepat di depanku. Dari tatapan matanya yang sipit dan hampir terjepit oleh kulit kelopak-keriputnya, ia tampak sedang memendam sesuatu yang teramat dalam. Dan dari mulutnya yang masih tersisa warna merah sirih, melompatlah peluru kata-kata.

“Air dalam bertambah dalam/hujan di hulu belum lagi teduh/hati dendam bertambah dendam/dendam dahulu belum lagi sembuh! Sampai hati kau, Tuah! Kau renjis -kan minyak wangi guna-guna itu ke ranjangku. Pengecut itu namanya!”

Alahmak, orang tua gila mana pula ini? Pagi-pagi berpantun-pantun menuduh orang sembarangan. Mulutnya bau gambir pula. Kok bisa-bisanya sampai tersesat masuk ke kantorku?

“Begitukah cara seorang pahlawan besar yang diagung-agungkan menaklukkan hati seorang perempuan? Tak adakah cara yang lebih jantan? Aku ini perempuan, Tuah! Perempuan yang sama dengan perempuan lain di dunia ini. Sama-sama punya hati dan perasaan yang kapan saja bisa luluh untuk menerima cinta dari seorang lelaki. Tanpa harus memakai guna-guna! Kau sama sekali tak romantis, Tuah! Tak pernah kau datang dengan jantan kepadaku, dengan bersungguh-sungguh dan menyatakan cintamu padaku. Malah kausuruh si Inang menyampaikannya padaku. Apa kau tak bernyali, Tuah? Padahal konon kau pendekar bukan-main sakti. Aku dengar sejak kau berumur sepuluh tahun, kau bersama empat sahabatmu sudah mengalahkan dua puluh tujuh penyamun. Hebat betul kau, Tuah! Kau juga ‘kan yang mengalahkan Taming Sari, tokoh tersakti di Jawa itu? Tapi masak hanya untuk meluluhkan hatiku, kau harus pakai guna-guna! Malulah, Tuah, malu!”

Wah, kacau. Siapa sebenarnya orang tua ini? Orang gila mustahil bisa bercakap begini. Kenapa pula dia hamburkan sakit hatinya padaku? Bagaimana caranya aku harus menjawab? Ah, pagi yang sial! Sudahlah di rumah biniku tadi pagi marah-marah tak tentu arah, kini datang pula entah siapa, juga marah-marah, lebih tak tentu arah…

“Ya, kau memang panjang akal, Tuah! Apalagi dalam hal mendapatkan perempuan dengan cara yang tak jantan. Kau juga ikut membantu Sultan Melaka mempersunting Raden Mas Ayu, putri Batara Majapahit itu ‘kan? Lalu anehnya, kemudian dengan lugu kauserahkan juga aku pada rajamu sebagai istri yang entah keberapa. Itu demi memulihkan nama baikmu di mata raja ‘kan? Dan juga dengan cara yang tak jantan, kausuruh aku makan sirih guna-guna supaya aku membencimu dan berpindah hati pada rajamu.” Terbatuk-batuk, kembali bercakap, “Ya, betul-betul lelaki aneh kau ini, Tuah! Apa jangan-jangan kau memang tak punya hati ya? Tak punya perasaan cinta terhadap perempuan? Tapi…apa kau sekarang punya bini, Tuah?”

Ini sudah keterlaluan namanya. Banyak betul cakap orang tua peot ini. Aku pula dibilang tak jantan, tak punya hati, tak punya perasaan. Bini aku saja sekarang dua, hampir tiga. Anak aku hampir tujuh, apa tak cukup bukti bahwa aku ini pejantan tangguh. Dan patut diingat bahwa tak pernah sekalipun aku pakai guna-guna untuk dapatkan bini. Ah, mengarut betullah orang tua ini.

“Nah, lagi-lagi kau tak bisa menjawab. Diam macam batu. Tapi kau ahli berdiplomasi. Ayo mana ilmu kau itu, Tuah. Tunjukkan padaku. Amarah Raja Majapahit yang tidak senang putrinya telah dipermadu saja bisa kauredakan, apalagi aku. Kau ‘kan juga pernah diutus ke Cina, mengalahkan tujuh pemain pedang Jepang yang ulung, membawa gajah-gajah di Siam untuk Raja Melaka, lalu kautundukkan juga kesultanan Trengganu dan Indrapura. Mestinya, untuk seorang perempuan macam aku ini, tentu tak sesulit menundukkan raja-raja, Tuah! Kenapa pula kaupakai guna-guna! Betul-betul tak habis pikir aku, Tuah! Lalu kauanggap apa sebenarnya aku ini? Kauanggap perempuan itu apa, Tuah! Barang mainan yang bisa dengan mudah dipindah-tangankan? Egois betul kau ini, Tuah! Aku tidak terima!” Kembali batuknya kambuh.

Nah, baru tahu dia. Siapa pula suruh berceramah, memarah-marahi orang yang tak tahu ujung-pangkal. Rasakanlah batuk rasa lempok tu!
“Hei, sampai hati betul kau ini, Tuah! Orang terbatuk-batuk kau malah tersenyum-senyum. Kau mengejek aku, Tuah! Kau merasa telah menang, dan bangga dengan segala kehebatan kau itu? Aku tidak terima, Tuah! Aku tidak terima! Aku kini datang hendak menuntut pertanggung-jawabanmu sebagai laki-laki yang telah dengan seenaknya menyerahkan aku pada raja. Padahal aku sama sekali tak pernah mencintainya. Dan harus kauketahui, Tuah, bahwa sirih guna-guna yang kauberikan pada aku itu, tak pernah aku makan. Aku masih menyimpannya sampai sekarang. Ini dia!” Mengambil bungkusan kecil dari celah kutangnya. “Ini, Tuah! Inilah sirih yang pernah kauberikan padaku dulu. Aku sengaja tak memakannya, karena aku tahu bahwa sirih ini berisi guna-guna. Dan dengan sengaja pula aku berpura-pura terpikat dengan raja seolah sirih guna-gunamu telah bekerja dengan baik dan meresap ke dalam jantung hatiku. Aku hanya ingin melihat kau bahagia, Tuah! Hanya itu. Hanya hendak melihat senyummu mengambang, dan dengan bangga menyerahkan aku kepada raja. Saat itu, aku memang bodoh, mau saja berkorban untukmu. Karena, dan ini adalah satu hal penting yang harus kauketahui, bahwa aku saat itu sangat mencintaimu, Tuah! Rupanya, cinta memang bisa membuat orang gelap mata, sehingga bersikap yang tidak semestinya!” Matanya mendung.

Alahmak, kasihan juga orang tua ini! Patah hati rupanya. Lama-lama aku tengok-tengok, wajah orang tua ini memang masih menyisakan garis-garis kecantikan. Bibirnya, hidungnya, alisnya, aduhmak, memikat nian. Andai saja dia masih seumur denganku, entahlah apa jadinya. Kalau mau jadi istri keempat, tak apa juga. Wah, menangis pula dia. Bisa gawat ini.

“Aku tahu, kau pasti senang melihat aku menangis ‘kan? Semua lelaki memang begitu, senang kalau melihat perempuan menangis. Karena ia merasa menjadi hero, merasa tangguh, merasa telah menang. Kalau sudah begini, aku betul-betul merasa tak berguna lagi. Aku benci dengan airmata ini, aku benci!”

Apakah menurut Anda, aku harus mendekatinya, dan menenangkannya, supaya dia berhenti menangis? Oh, tidak. Aku tak mau ambil resiko. Aku tak tahu siapa orang tua ini. Yang aku tahu, kalau orang tua seumur dia ini, ya memang suka nyanyok alias pikun. Tapi kenapa dia harus nyanyok di kantor ini? Di depan aku? Dan menganggap aku ini bernama Tuah? Siapa pun si Tuah itu, peduli apa aku. Yang pasti dia adalah lelaki masa lalu yang telah menyakiti hati perempuan tua ini. Lalu apa hubungannya dengan aku? Tak ada. Ya, tak ada sama sekali. Aku bukan Tuah, namaku Dolah. Apa karena aku ini beristri banyak, sama seperti raja yang dia sebut-sebut tadi? Entahlah. Lalu sebaiknya apa yang harus aku lakukan sekarang? Mengusirnya? Ah, meskipun aku ini agak mata keranjang, aku tak pernah menghardik orang tua. Tak sampai hati rasanya.

“Tuah! Kau bisu ya? Apa kau tak melihat perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu. Apa tak ada bahasa-bahasa syair pelipur lara yang bisa kaubisikkan ke telingaku, yang membuat hatiku yang gundah gulana ini sedikit terobati? Kau memang kejam, Tuah! Kau memang tak pandai menjaga perasaan perempuan. Ini, sirih guna-guna ini, aku kembalikan pada kau. Ambil!” melempar bungkusan kecil. “Aku ingin melihat kau yang memakan sirih itu, Tuah! Aku ingin kau membenci raja dan mencintai aku. Ayo, Tuah! Makan sirih itu!”

Mampus aku. Apalagi ini? Macam-macam saja nenek pikun ini, aku pula disuruhnya makan sirih. Betul-betul kacau.
“Kenapa? Kau tak mau memakannya? Kau takut karma terjadi padamu? Kau takut membenci raja dan mencintai aku yang sudah reot ini? Ayo, makan sirih itu, Tuah!”

Bagaimana ini? Apa aku harus turutkan juga keinginan gila perempuan ini? Memakan sirih? Jangan-jangan ada racun pula dalam sirih ini. Matilah aku. Ah, tidak. Aku tak mau diperintah seenaknya oleh seorang perempuan reot yang tak tahu diri ini. Ini kantorku, aku bos di sini, dan dia tak berhak memerintah aku sembarangan. Sudahlah dia memakan waktu kerjaku terlalu banyak untuk mendengarkan dongengannya, kini memaksa aku pula untuk yang tidak-tidak. Ini betul-betul keterlaluan namanya. Tak bisa dikasih hati lagi nampaknya. Apa boleh buat, aku harus tega mengusirnya.

“Apa? Kau marah padaku? Kau tak mau memakan sirih itu? Baik. Baik. Aku akan memaksamu makan sirih itu, Tuah!” Mengeluarkan sebilah keris dari balik baju, berdiri dan berjalan perlahan mendekati Dolah. “Kau masih kenal dengan keris ini, bukan? Ya, keris sakti Taming Sari yang kaurampas dulu, Tuah!”

Ups! Ini kerja gila! Gila! Menodongkan keris pula dia. Apa maunya perempuan ini? Ah, kalau aku tak mau juga makan sirih ini, apa dia berani membunuhku? Tidak. Aku tak mungkin mati di ujung keris itu. Dan aku tak mungkin tinggal diam seandainya dia benar-benar hendak menusukkan keris itu ke perutku. Rasa-rasanya aku masih sanggup kalau cuma sekedar mematahkan lengan si nyanyok ini. Penjara? Aku tak takut penjara. Yang jelas, aku tak salah. Aku hanya membela diri karena sedang berada dalam keadaan terdesak.

“Kenapa, kau takut? Atau kau heran, kenapa keris ini bisa berada di tanganku sekarang? Padahal dulu keris ini telah lesap dari tanganmu, bukan? Juga karena gara-gara kau hendak menyelamatkan mahkota raja yang jatuh dan tenggelam ke dalam laut. Setelah itu, bencana-bencana besar pun datang, Tuah. Kauingat, bagaimana Melaka diserang Portugis? Kau terluka, bukan? Dan sekarang, apakah kau hendak merasakan sakitnya luka itu kembali? Bagaimana sakitnya jika keris menikam tuannya sendiri? Ayo, Tuah, makan sirih itu atau kau harus mati di ujung keris ini?”

Ayolah, aku tak takut nenek renta! Mau menikamku, tikamlah. Kupatahkan lenganmu….
“Bagaimana, Tuah, tak enak bukan jika harus memilih sesuatu yang bukan keinginan kita? Buah simalakama. Dan beginilah agaknya, perasaanmu ketika hendak bertikam dengan Jebat. Tapi kau harus melakukannya karena kauanggap Jebat mendurhaka. Dan bagaimana rasanya, ketika kau berada di posisi Jebat, Tuah? Makan sirih atau harus bertikam? Kalau pedas pada kita, takkan manis pada orang, Tuah!”

Bangsat, orang tua ini, ayo mendekatlah kalau berani. Peduli apa aku dengan Jebat, dengan Tuah, atau dengan siapapun. Yang jelas, kalau kau berani menusukkan keris itu, aku takkan tinggal diam.

“Tuah, betul-betul tak mau kaumakan sirih itu? Tak mau, Tuah! Berarti kau memang tak pernah mencintai aku ‘kan? Atau kau lebih baik mati dari pada berkhianat dan membenci raja, begitu? Lebih baik mengkhianati hatimu sendiri, Tuah! Kau mendurhaka, Tuah! Kau mendurhakai hatimu sendiri. Dan jika memang itu pilihanmu, baiklah, aku akan memilih jalan ini! Kalau menunggu gelombang tidur, sampai kiamat takkan ke laut! Hiyaaap!!!” Menusukkan keris ke perutnya sendiri.

Ya, Tuhan. Apa pula ini! Hei, Nenek! Ya Ampun, kenapa pula kau harus bunuh diri! Aduh, bagaimana ini? Hei, tolong……tolong……tolong……***

Pekanbaru-Riau, 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *