Balada-Balada, Suryanto Sastroatmodjo

http://media-sastrajatim.blogspot.com/
BALADA WURAGIL BUGIL

I
Salam sejahtera bagi Yang Esa!
Salam sejahtera bagi Yang Tunggal
Aku berbenam antara sembur cahaya suminar
Aku mengacu bumi bulat tanpa seteru

Kembali pundakmu di hincit nyinyir
Walau relungmu berbuku-buku
Tapi santunan jauh dari kehendak kutub!

II
Maka porak-porandalah barisan bergenderang
tatkala senyap-serangan memilih landung
dalamnafas tualang. Dalam bibit-bibit sakit

Kegusaran merobek desa-desa sejuk
dan kemiskinan ada di pelupuk
entahkan rela tanpa bismillah, kawan
Wuragil Bugil melatah di palangan Cinta

III
Aku merasuki dentum-dentum perant dunia
kendati jaman yang rengkah belum terundur
dari proklamasi bapa-biyung. Tercabut syaraf lembutnya

Deram-derum airterjun di pesawangan
tengok Wuragil Bugil bersiram
Meraup bayu, menguncur lelehan getir
persis abad berlalu kembali terpapar!

IV
Esok pekan jadilah perjalanan kereta senja
kita bakal memungkasi fatwa musim. Berkah mukmin
ditawarkan oleh Wuragil Bugil, si senantiasa jujur
melempangkan aksara hidup sebagai keterbukaan angan

Maka akan lebih sempurnalah pertarungan
pabila lampah para santri di watas danau
kemudian sigap mengunci. Biarkan lukadiri
Bisa jadi, apa yang terniat jadi rahmat
hanya Kyai mendaratkan sesuluh
seperti Wuragil Bugil pernah tertampar jajal!

BALADA TUAK TEMPELAK

I
Haleluya! Sempana buat si penjaja dosa
kini kulihattrotoir kotaku layu
percak-percak sehabis hujan tengah-hari
lumpur memenuhi lratan. Haleluya,ya Walikota

II
Gerimis telah menitis di punggung serunting
kala ketergesaan diharung gagasan
Ada pada kitiran buih, dan angin cenderung murka
Sesudah buah gori terakhir jatuh berdembam
membuyar sarang kucing-kucing liar di kaki pohon

III
Bikin tempelak selagi usia berdekap
atau padka kepingin mengucup embun
Dan di sana: bulan kesiangan jadi pigura
atas dataran huma dilekati rumpun buluh
dan di atas paya-paya, berdiri aku, Tuak Sejati

IV
Busa yang merumuh waktu makan siang
nampaknya sudah mengucapkan ‘Spada!’
Pada Tuan, sang percaya. Pak Tuan, sang pembual
nanti menagih singgahnya bapa tersayang

V
Dan alangkah awet jepitan rambutmu, adik
sebentar kulihat rambutku rontok sehelai-sehelai
Di ulang usia elahiran, di tubuh makin keropos
di kala anak-anakku berangkat dewasa dan bengal
Aku ingat akan Tuak Tempelak di gerimis pegunungan
aroma kulitmu, ciuman bibirmu hangat

VI
Misalkan pelabuhan wangi telah tertutup
kita tentunya menghitung rontok dan gemeletuk
Karena toh pengaruh gaib dari lelaki jantan
cuma sekedar memasak kata berenda pupus
Nyaris lenyap selubung lohor

VII
Gugurlah sudah ramalan tetua-tetua
yang barusan membiar jemaat kecewa. Ada dendam
lolos begitu saja, sementara bangkitmu gemuruh
Maka selagi bohong jadi sepatah jolong
membinar wajah yang keriput dan ompong.

BALADA LOLONG SANG SONA

1
Itulah dia: tinggalan Dang Perkasa Bumi
namun alangkah jauh dan pepat
Seraya memulihkan bentuk tubuh
lalu menjawab tanya: Siapa Bunda Maria?

2
Demikian kelopak matamu, dinda
melepuh oleh biar-sangkal nan dangkal
Sedangkan harap dan tiarap jadi satu
membungkus telapuk telapak lapuk
Tanda kita tambah tua tanpa terasa

3
Iman tak bisa dirembug gamblang
walau kepalsuan bakal direjam kutuk
Lewat Alkitab segalanya diaduk
lewat Alkitab segalanya dicaduk

4
Bangunkan dari akar bersumber tirta
pabila nyata nalar hanyut dipelimbahan
Aku pun pekerja teramat lamban. Terkeping liring
serta membalut beban bisul dengan perban kuning
Kini mengomel tentang benteng Paris tumbang

5
Belungkur melingkari tubuh telanjang
Izinkan kami menggayut perjalinan terimakasih
Walau masih terang pelita di zaman akhir, yakinlah
bukan musti menggoreng pernyataan shahih
yang perna kubabat sendiri. Ya, alangkah hanyir!

6
Sang Sona-pengembara dari lumpur ke lumpur
bertaring antara tinja dan dekil ruang-nista
Namun pabila tuan tatap matanya, Gusti
Sang Sona nan tabah dan hati resik
takkan pernah tumbang selepas diterkam lawan

7
Serta-merta aku menuding dada sendiri
waktu berbual-nakal, berebut tulang, terbanting papa
Agaknya di kaki Sang Sona, malah tanpa lolog panjang
kendati kalbu yang bolong sudah sejak dulu melolong-gonggong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *