ESTETIKA CERPEN MELAYU SINGAPURA

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Nama Suratman Markasan, bagi pembaca Indonesia, barangkali saja masih agak-agak asing. Sesungguhnya, sastrawan penting Singapura ini, sudah dikenal luas, setidak-tidaknya di Malaysia, Singapura, Brunei, dan Riau. Ia termasuk salah seorang pemenang SEA Write Award yang diberikan tahun 1989. Penghargaan itu, tentu saja merupakan bukti prestasi kepengarangannya yang berdasar pada pertimbangan kualitas karya-karya yang telah dihasilkannya. Sedikitnya, enam penghargaan telah diberikan berbagai lembaga kepada karya-karya Suratman, baik yang berupa cerpen, puisi, atau novel.dan setakat ini, ia telah menghasilkan tiga novel, tiga kumpulan cerpen, dan dua kumpulan puisi, belum termasuk yang terhimpun dalam antologi-antologi bersama.

Di kalangan sastrawan Indonesia, terutama mereka yang sering mondar-mandir Malaysia?Singapura, nama Suratman Markasan, nyaris menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lawatan mereka, jika melakukan perjalanan ke Singapura. Ia sudah dikenal dengan sangat akrab. Bahkan tempat tinggalnya di Kota Singa itu laksana sudah menjadi ?hotel percuma? bagi sastrawan Indonesia, jika mereka mampir ke rumahnya.

Kiprah Suratman Markasan sendiri di bidang sastra sudah dimulai sejak awal tahun 1950-an. Ia yang termasuk sebagai generasi kedua sastrawan Asas 50,[1] memang turut aktif?bersama Masuri SN dan sastrawan Singapura lainnya yang bergabung dalam Asas 50?dalam menyemarakkan kesusastraan Malaysia masa itu. Ketika ia lulus Maktab Perguruan Sultan Idris[2] tahun 1950 dan kemudian menjadi guru di Singapura, ketika itu pula pusat kegiatan kesusastraan Melayu dan aktivitas kebudayaan Melayu secara umum, justru berada di Singapura. Dengan demikian, selepas ia lulus maktab itu, ia memperoleh kesempatan yang luas untuk secara aktif menjalankan kiprah kesastrawanannya. Sangat kebetulan pula, ketika itu, Asas 50 baru saja ditumbuhkan. Maka ia pun pada tahun 1954, masuk dan tercatat sebagai anggota sastrawan Asas 50 dan kemudian ikut terlibat sebagai pengurus organisasi itu. Jadi, keterlibatannya dalam dunia sastra, sudah dimulai saat Singapura menjadi pusat bahasa kegiatan sastra dan ketika bangsa Melayu sedang bergejolak menyongsong kemerdekaannya.

Dalam lomba penulisan novel tahun 1958 yang diselenggarakan Dewan Bahasa dan Pustaka, novel Suratman Markasan yang berjudul Tak Ada Jalan Keluar terpilih sebagai pemenang hadiah penghargaan.[3] Novel itu kemudian diterbitkan penerbit Merican & Sons tahun 1962. Mengenai kiprahnya dalam bidang cerpen, Suratman Markasan barhasil pula menempatkan cerpennya ?Pergi dan Datang? terpilih dan masuk ke dalam Bunga Rampai Cherita-Cherita Pendek Angkatan Baru berjudul Mekar dan Segar (Oxford University Press, 1959).[4]

Pada saat antologi cerpen itu diterbitkan, konsep mengenai cerita pendek, baru memperoleh bentuknya yang jelas.[5] Penerbitan kumpulan cerpen itu sendiri, belum begitu populer dan kalah jauh dibandingkan dengan penerbitan novel. Menurut catatan Safian Hussain, dkk.[6] kumpulan cerpen Mekar dan Segar adalah kumpulan cerpen yang kesembilan yang terbit pada dasawarsa 1950. Jadi, dalam sepuluh tahun (1950?1959) hanya sembilan kumpulan cerpen yang diterbitkan. Satu petunjuk betapa penerbitan kumpulan cerpen belum begitu mendapat tempat dibandingkan dengan penerbitan novel.

Demikianlah, konsep cerpen dalam kesusastraan Malaysia, memang masih berusia muda, masih baru meskipun sudah mencapai usia setengah abad lebih. Walaupun di sejumlah surat kabar dan majalah sebelum perang, penulisan cerpen sudah mulai dilakukan, pengertian mengenai cerpen itu sendiri dan tradisi penerbitan kumpulan cerpen, baru berkembang selepas Malaysia merdeka. Cerita sebelum perang, misalnya, dikatakan pula sebagai cerpen. Tetapi, novel-novel pendek yang sesungguhnya lebih tepat dikatakan sebagai cerpen, jika diterbitkan dalam bentuk buku, dikatakan, bahwa buku itu terdiri dari beberapa novel. Selepas memasuki tahu 1950-an itulah, pengertian novel dan cerpen, sudah lebih jelas.

Meski begitu, mencermati tradisi penulisan cerpen Melayu sendiri dan menempatkannya dalam konteks sejarah sastra Malaysia, kelahiran cerpen Melayu justru mendahului kelahiran novel. Dan, seperti juga ragam sastra lainnya, proses kreatif kelahiran cerpen Melayu, nyaris selalu berkaitan dengan situasi sosial yang terjadi pada zamannya.

Dalam konteks tersebut, dapat dikatakan bahwa tradisi penulisan cerpen Malaysia pada awalnya sangat dipengaruhi oleh faktor sosio-kultural yang melatarbelakangi dan sekaligus melatardepaninya. Latar belakangnya adalah bermunculannya sejumlah majalah dan surat kabar yang memang menyediakan rubrik cerpen. Bahkan, tidak sedikit profesi kesastrawanan justru yang menceburkannya ke profesi kewartawanan. Atau sebaliknya, banyak wartawan yang kemudian terlibat aktif dalam bidang sastra, menulis puisi atau cerpen, karena surat kabar atau majalah tempatnya bekerja memerlukan cerpen dan puisi yang akan dimuat. Akibatnya, tidak sedikit yang profesinya rangkap: sastrawan dan sekaligus juga wartawan atau sebaliknya, wartawan yang lebih dikenal sebagai sastrawan. Itulah sebabnya, pertumbuhan dan perkembangan cerpen, dikatakan bergandengan dan selari dengan pertumbuhan dan perkembangan pers Melayu. Salah satu faktor penyebabnya lantaran kebutuhan akan tenaga wartawan, bersamaan pula dengan kebutuhan akan tenaga kesastrawanan.

Demikian, profesi sastrawan, boleh dikatakan sejajar dengan profesi wartawan, karena kedua profesi itu memang dibutuhkan untuk penerbitan surat-surat kabar dan majalah. Dari situlah kemudian lahir sastrawan-wartawan atau wartawan-sastrawan.

Di luar profesi sastrawan-wartawan, tidak sedikit pula guru yang secara sadar ingin menyampaikan nasihatnya melalui karya-karya sastra. Karya sastra, dalam ragam apapun, disadari dapat menjadi alat pendidikan. Oleh karena itu, sastra mesti memberikan pendidikan dan tidak sekedar sebagai hiburan. Cerpen tentu saja termasuk di dalamnya, mengingat ia dapat dipublikasikan lewat surat-surat kabar atau majalah. Di situ pula banyak guru, teristimewa guru lulusan Maktab Perguruan Sultan Idris, menceburkan diri dalam bidang sastra. Kesadaran itu juga bergandengan dengan kesadaran kebangsaan yang menuntut guru memainkan peranan sosialnya, bahkan bila perlu terlibat aktif dalam pergerakan kebangsaan untuk mencapai kemerdekaan. Faktor inilah, salah satunya, yang melatarbelakangi penceburan sejumlah guru dalam bidang sastra.

Sementara, jauh sebelum itu, tokoh-tokoh pergerakan juga aktif menyuarakan semangat perjuangannya lewat karya-karya sastra. Pada dasawarsa tahun 1950-an, keterlibatan itu menjadi begitu penting justru ketika Singapura menjadi pusat kegiatan kesusastraan, kebudayaan, dan belakangan, politik. Oleh karena itu, sejak awal pertumbuhannya sampai menjelang kemerdekaan Malaysia, kesusastraan Malaysia dimeriahkan oleh empat kelompok sastrawan, yaitu sastrawan-wartawan atau sebaliknya, sastrawan-guru, sastrawan-pejuang atau tokoh pergerakan, dan sastrawan yang tidak merangkap profesi apa pun atau sastrawan yang memang mengandalkan hidupnya dari profesi kesastrawanan.

Dengan keempat kategori kesastrawanan itulah, sastra benar-benar menjadi salah satu alat perjuangan. Dan kesadaran bahwa sastra dapat dijadikan sebagai salah satu alat perjuangan-pendidikan itu, makin memperoleh momentum yang baik ketika sastrawan Asas 50 menempatkan konsep ?sastra untuk masyarakat? sebagai salah satu perjuangan mereka mencapai kemerdekaan bangsa. Itulah latar depan yang menempatkan sastra, dalam hal ini cerpen, dapat digunakan sebagai alat perjuangan-pendidikan.

Dalam suasana kesemarakan seperi itulah, Suratman Markasan memulai kiprah kesastrawanannya. Cerpennya, ?Pergi dan Datang? misalnya, meskipun tidak secara langsung bersinggungan dengan masalah kebangsaan, pesan moral dalam mengangkat kehidupan wong cilik tampak kental menggayuti cerpen itu. Dalam sebagian besar khazanah kesusastraan Malaysia, keberpihakan terhadap masyarakat miskin, seolah-olah menjadi tema penting. Dengan demikian, persoalan dalam sastra Malaysia tidak lagi mengangkut eksplisit atau implisit, melainkan jatuh pada keberpihakan tadi. Di situlah jelas estetika sastra Malaysia mendapat tempatnya yang luas.

Selepas Kuala Lumpur menjadi ibukota Malaysia dan menjadi sebuah negara sendiri yang berdaulat tahun 1965, kesusastraan Malaysia (Melayu) belum juga banyak bergeser dari estetika seperti itu, termasuk juga kesusastraan Melayu di Singapura. Estetika yang demikian itu, juga tidak ditinggalkan oleh sastrawan-sastrawan Malaysia yang memilih menjadi warga negara Singapura dan tidak ikut hijrah ke Malaysia. Bahkan, kedudukannya yang kini menjadi minoritas di Singapura, memaksa sastrawan Melayu di Singapura tetap bertahan dengan estetika demikian, meskipun masalahnya kini sudah sama sekali berbeda dengan masa lalu.

Kumpulan cerpen Kembali kepada Al-Qran karya Suratman Markasan ini, juga tampaknya masih terikat pada estetika tadi. Tetapi menjadi sangat signifikan jika kita menempatkan sosok pengarangnya sebagai warga minoritas di Singapura. Apakah ia menyuarakan aspirasi dan kegelisahannya sebagai sosok manusia marjinal dan terpinggirkan, sebagai warga Melayu yang terluka oleh sejarah, atau sebagai manusia dengan problem kemanusiaannya yang universal? Bagi kita, di Indonesia, apa pula yang menarik yang bisa menjadi bahan pemikiran kita? Berbagai pertanyaan lain tentu saja dapat kita deretkan lebih panjang lagi. Tetapi persoalannya bukanlah pada deretan pertanyaan itu, melainkan pada bagaimana kita menyikapi kumpulan cerpen ini dalam kerangka estetika yang telah menjadi tradisi yang melatarbelakanginya.

Ada sebelas cerpen dalam antologi ini yang beberapa di antaranya, mesti diakui, cukup mengejutkan jika kita tempatkan dalam konteks sosial bangsa kita. Cerpen pertama yang berjudul ?Si Hitam? misalnya, menggambarkan betapa sebuah keluarga terpaksa menolak kehadiran anaknya yang terlibat kasus ganja. Terlepas dari sikap pengarangnya yang cenderung menyalahkan tokoh orang tua, kecanduan anaknya pada dadah (ganja) dianggap sebagai sebuah aib besar yang telah mencampakkan martabat keluarga. Lalu, bagaimana dengan keluarga Indonesia yang anaknya terlibat narkoba? Apakah juga ada rasa, bahwa anaknya tela membuat aib besar yang mencoreng martabat keluarga?

Demikian juga, salah satu cerpennya yang lain, berjudul ?Tiga Surat Wasiat? misalnya, sungguh membuat kita?sebagai warga bangsa?harus mempertanyakan kembali nila-nilai kemanusiaan kita. Seorang pemuda?bekas pecandu ganja?yang telah kembali insaf dan berusaha mencari jalan untuk menyadarkan teman-temannya dari ketergantungan barang haram itu, mati tertembak. Tewasnya pemuda itu ternyata menjadi berita utama di berbagai harian. Masyarakat juga ikut membincangkan perihal kematian pemuda itu dengan berbagai tanggapannya; ada yang prihatin, ada yang menyalahkan polisi, bahkan ada pula yang berusaha meneliti lebih jauh latar belakang pemuda itu.

Sebuah keamtian sia-sia telah terjadi. Tetapi persoalannya bukanlah terletak di situ. Bagaimanapun juga, peristiwa itu menyangkut nyawa manusia; sesuatu yang paling berharga dalam diri manusia melebihi apapun. Nyawa tidak dapat digantikan oleh apapun juga. Dan kini hilang lantaran sebuah tembakan! Cerpen Suratman Markasan agaknya dapat menjadi cermin bagi kita: jika di Singapura tewasnya seorang manusia bisa menjadi berita besar dan menjadi wacana publik, pertanyaannya: bagaimana dengan kita? Di Indonesia, kematian akibat salah tembak, sungguh sudah menjadi cerita usang. Sebab, tanpa ada berita pun, kita sering kepergok peristiwa seperti itu, bahkan lebih dahsyat lagi.

Satu cermin lain yang dapat kita tarik bagi kehidupan sosial kita tampak dalam cerpen ?Rumah?. Dikisahkan, Dr. Atmo, seorang tokoh partai, telah memanfaatkan kekuasaannya untuk mendapatkan sebuah rumah mewah. Ternyata, tindakan itu ditentang keras tidak hanya oleh teman-temannya, tetapi juga oleh pihak keluarganya sendiri. Sebuah rumah hasil penyelewengan itu, telah membawa Dr. Atmo dihinggapi serangkaian keglisahan yang bermuara pada kegilaan. Sebuah rumah hasil penyelewengan telah membuat Dr. Atmo gila, lalu bagaimana dengan pejabat dan elit politik kita?

Secara keseluruhan, tema yang diangkat dalam antologi cerpen ini dapatlah dibagi ke dalam dua bagian besar, yaitu tema keagamaan dan tema sosial. Dan ke-11 cerpen yang bertema demikian itu, dikemas Suratman dengan menyisipkan kisah-kisah simbolik, mimpi,atau sejarah. Dalam beberapa cerpen, kisah-kisah simbolik, sebagaimana tampak dalam cerpen ?Jam Ajaib? dan ?Pintu? misalnya, mengingatkan kita pada kisah para sufi. Sayangnya, Suratman lebih banyak memanfaatkan dialog, dan bukan deskripsi peristiwa. Akibatnya, kisah simbolik yang sebenarnya potensial menciptakan suasana mencekam, tidak tereksploitasi secara maksimal, sebagaimana tampak dalam cerpen ?Virus? dan ?Bush Meminang Puteri Ledang?.

Keseluruhan cerpen dalam kumpulan ini, memang cenderung memanfaatkan dialog ketimbang deskripsi. Boleh jadi lantaran itulah, maka cerpen-cerpen dalam kumpulan ini terkesan berpanjang-panjang. Meskipun demikian, dalam cerpen ?Kembali kepada Al-Quran?, ?Jam Ajaib?, dan ?Malam Penentu?, dialog justru penting, tidak hanya untuk menciptakan konflik, tetapi juga untuk menyampaikan kritik sosialnya. Dalam ketiga cerpen itu, tampak pula bahwa agama seringkali hanya dijadikan sebagai label atau sekedar ritus sosial untuk menutup-nutupi kemunafikan.

Tidak dapat lain, antologi Kembali kepada Al-Quran karya Suratman Markasan ini, mesti ditempatkan dalam kotaknya sendiri yang mempunyai latar belakang dan latar depan sosio-kulturalnya, yang juga tidak terlepas dari tradisi estetikanya sendiri. Dengan cara demikian hendaknya menempatkan antologi cerpen ini dalam kerangka sosiologis kehidupan masyarakat kita, maka kehadiran antologi cerpen ini menjadi penting sebagai cermin untuk mengukur moralitas dan keberadaban bangsa kita sendiri. Sebuah cermin bening yang memantulkan wajah kita jadi sedemikian buram. Dalam persoalan moralitas dan keberadaban, agaknya bangsa kita memang mesti lebih banyak bercermin pada bangsa lain. Antologi cerpen inilah salah satu cerminnya.

Bojonggede, 31 Agustus 2000
——————————
[1] Suratman Markasan tercatat anggota Asas 50 tahun 1954 dan terus aktif dalam organisasi itu sampai tahun 1994. Jadi, meskipun sejak tahun 1965, Singapura memproklamasikan kemerdekaannya dan menyatakan memisahkan diri dari Malaysia, keberadaan Asas 50 tetap dipertahankan. Bahkan sastrawan Malaysia yang tidak lagi tinggal di Singapura, baik mereka yang semula menjadi pengurus Asas 50 atau yang hanya anggota biasa, tetap mendukung keberadaan Asas 50.

[2] Maktab Perguruan Sultan Idris dikenal sebagai sebuah institusi pendidikan tempat lahirnya tokoh-tokoh pergerakan Melayu. Dari maktab ini pula tumbuh dan berkembang ide-ide nasionalisme yang kemudian menyebar ke wilayah Semenanjung Tanah Melayu. Sastrawan-sastrawan terkenal Malaysia sebagian besar juga lulusan maktab ini.

[3] Novel lain yang juga mendapat hadiah serupa dalam lomba itu?sekedar menyebut salah satunya?adalah karya A. Samad Said, berjudul Gerhana I & II. Novel ini kemudian pada tahun 1961 diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka dengan judul Salina, mengikuti nama tokoh utamanya.

[4] Dalam cerpen itu, Suratman Markasan menggunakan nama pena Suman Mali. Boleh jadi, cerpen ini bukan cerpen Suratman yang paling awal mengingat Asraf yang menjadi editor dan penyusun antologi cerpen itu melakukan pemilihan berdasarkan cerpen-cerpen terbaik dari sastrawan Angkatan Baru yang menjadi anggota atau pengurus Asas 50. Suratman sendiri mulai terjun ke bidang sastra sekitar tahun 1952-an, dua tahun setelah ia menjadi guru di Singapura.

[5] Othman Puteh mengatakan: ?Dalam paroh pertama tahun 1950, cerpen Malaysia mulai memperoleh bentuk yang agak jelas dan konkret.? Othman Puteh, Cerpen Melayu selepas Perang Dunia Kedua (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1983), hlm. 221.

[6] Safian Hussain, dkk. Bibliografi Sastera Melayu Modern 1952?1980 (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1985)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *