Puisi Gelap Holocaust

Sita Planasari A
http://www.korantempo.com/

Butuh waktu setahun untuk menggarap terjemahan karya-karya Celan.

Jakarta – Empat pria berjalan dalam temaram panggung. Kemudian ada yang terdiam, ada yang menandakkan kakinya hingga berbunyi seperti barisan serdadu yang tengah berbaris. Ada pula yang melayangkan cambuk ke udara hingga terdengar rintih suara manusia yang terluka dan seorang, yang lain terjerembab di lantai, berusaha merangkak dengan kepayahan.

Suasana kelam semakin mencekam ketika selarik, dua larik, dan seluruh isi puisi Fuga Maut karya penyair Paul Celan dibacakan dalam berbagai aura dramatik oleh mereka. Siksaan demi siksaan tergambar pedih di atas panggung yang tak pernah terang itu.

Adegan ini menjadi bagian dalam acara peluncuran terjemahan buku puisi karya penyair berbahasa Jerman Paul Celan (baca: Tselan) di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (5/12) malam. Drama tersebut dibawakan kelompok Cassanova dari Bandung yang mencoba memberi makna baru bagi puisi-puisi gelap Celan, yang sebagian besar terinspirasi dari pembantaian terhadap kaumnya, Yahudi, di kamp-kamp konsentrasi Jerman.

Buku ini merupakan seri ketiga dari Seri Puisi Jermanyang diterbitkan oleh Horison, setelah penerbitan kumpulan puisi Rainer Maria Rilke dan Bertolt Brecht. “Buku ini melengkapi genre penyair Jerman. Sementara Rilke mewakili penyair romantis dan Brecht membawakan protes-protes sosial, Celan mempersembahkan kegelapan,” kata Agus R. Sarjono, penyair yang juga menjadi editor buku ini.

Agus mengakui, tak banyak orang Indonesia yang pernah mendengar namanya, apalagi karyanya. Namun, menurut dia, dalam khazanah sastra bahasa Jerman, bahkan dunia, Celan dan karyanya menempati posisi terhormat. Fuga Maut sebagai puisi terjemahan dari Jerman bertajuk Todesfuge dianggap oleh publik sastra dunia sebagai karya puncak suatu zaman. Bahkan disetarakan dengan lukisan Guernica karya Pablo Picasso.

Paul Celan lahir dengan nama Paul Antschel pada 23 November 1920 di Kota Czernowitz, Bukowina, yang saat itu menjadi bagian dari Rumania. Ia putra tunggal pasangan Leo dan Friederike Antschel, yang berdarah Yahudi. Perjalanan keseniannya memuncak ketika kedua orang tuanya menjadi korban dalam kamp konsentrasi Jerman pada 1940-an.

Rasa bersalah karena kematian orang tua serta bangsanya mewarnai puisi-puisinya, meski cinta kelam pun ada di sana. Ia yang tak pernah menjadi warga negara Jerman ini mati bunuh diri dalam kondisi mengidap sakit jiwa. Pada 1 Mei 1970, tubuhnya ditemukan dalam arus Sungai Seine, Prancis, tempat akhirnya ia bermukim.

Bersama penyair Jerman Berthold Damshauser, Agus bekerja keras selama hampir setahun untuk menerjemahkan 40 puisi Celan. Puisi-puisi dalam buku bertajuk Candu dan Ingatan ini sebagian besar diambil dari buku kumpulan puisi Celan yang berjudul Mohn und Gedachtnis. “Puisi-puisi Celan sangat sulit diterjemahkan ketimbang Brecht. Tenaga dan pikiran kami betul-betul terkuras untuk dapat memahaminya,” ujar Agus.

Pilihan untuk menerjemahkan Celan berasal dari ketertarikan Damshauser terhadap karyanya yang gelap. Bahkan ia melakukan pembacaan puisi Celan dengan diiringi musikalisasi karya musisi Jerman, Peter Harbemehl. Ketertarikan itu pula yang mendorong perupa asal Priangan, Herry Dim, untuk melukiskan larik-larik puisi Celan dalam berbagai lukisan hitam-putih. Baik lukisan maupun musikalisasi tersebut dapat dinikmati para pembaca dalam buku ini.

Lukisan Herry dalam bentuk audiovisual mengiringi pembacaan puisi-puisi Celan bersama musikalisasi Harbemehl. Baik Damshauser maupun Agus membawakan beberapa puisi, seperti Mandorla/Mandorla, Espenbaum/Pohon Espe, Zu Zweien/Sepasang, ataupun Stille!/Kesenyapan.

Kegelapan Celan juga tak mudah dimengerti Herry. Selama tiga bulan, ia berusaha menerjemahkannya dalam lukisan, hingga menemukan keindahan yang membuatnya jatuh cinta. “Yang membuat Celan dan kita (Indonesia) sama adalah kita sama-sama memiliki lakon-lakon kematian, meski dalam bentuk berbeda tapi memberi kepahitan yang sama dalam,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *