TAK SENGAJA JADI SASTRAWAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Jalan hidup seseorang sering kali tidak terduga. Tidak berhasil meraih cita-cita atau harapan di bidang tertentu, tidaklah berarti harus gagal di bidang lain. Itulah yang terjadi pada sosok Titis Basino PI. Masuk Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1959, ia malah tak begitu yakin akan pilihannya itu. Entah apa yang mendorongnya memasuki bidang itu. Minat untuk menjadi ahli bahasa, kritikus atau dosen pun, tak terlintas. Maka, setelah ia meraih gelar sarjana muda tahun 1962, Titis memutuskan untuk bekerja sebagai pramugari udara PN Garuda.

?Saya hanya ingin mencari pengalaman saja, agar saya lebih banyak mengetahui berbagai ragam manusia,? itulah alasan ia bekerja sebagai pramugari. Setahun lebih ia bekerja di perusahaan penerbangan itu. Pada tahun 1964, Titis menikah dengan seorang arsitek, Ir. Poernomo Ismadi. Nama inilah yang kemudian dilekatkan di belakang namanya. Jadilah ia lebih terkenal dengan nama Titis Basino PI.

Titis Basino lahir di Magelang, 17 Januari 1939. Namun dibesarkan di Purwokerto hingga lulus SMA A di kota itu tahun 1958. Dari sanalah ia kemudian melanjutkan ke Jurusan Sastra Indonesia FSUI.

Di dalam perjalanan karier Titis Basino sebagai sastrawan, kita dapat mencatat adanya tiga periode kepengarangan. Periode pertama merupakan awal kepengarangannya yang masih mencari-cari style dan kekhasan dirinya. Karya-karya yang dihasilkan Titis pada periode ini berupa cerpen. Periode kedua ditandai dengan munculnya empat karya Titis yang berupa novel. Pada periode ini Titis seolah-olah lahir kembali dengan harapan yang lebih menjanjikan. Periode ketiga merupakan masa kematangan kepengarangannya yang ditandai dengan mengalirnya karya-karya Titis dalam jumlah yang sangat mengejutkan. Bagaimana peristiwa atau kejadian sebenarnya yang menimpa Titis dalam ketiga periode itu? Marilah kita telusuri.
***

Sejak kapan Titis mulai menulis dan apa yang menyebabkan ia menceburkan diri di bidang kepengarangan ini, padahal ia sama sekali tak pernah belajar menulis sastra? Inilah pengakuannya: ?Awalnya terjadi pada tahun 1962. Ketika itu, saya masih berstatus mahasiswa. Seperti biasanya pada liburan akhir semester, saya dan teman-teman sepondokan, bermaksud mudik, hendak berlibur di kampung halaman. Tetapi, apa daya. Uang tak punya,? ujarnya mengenang masa suka-dukanya menjadi mahasiswa yang tinggal di pondokan.

Karena hasratnya ingin pulang kampung itu, Titis lalu menulis cerpen dan mengirimkannya ke majalah Sastra yang waktu itu diasuh HB Jassin. Barangkali memang sudah menjadi suratan begitu, cerpennya itu dimuat. Jadilah, cerpennya yang pertama itu, berjudul ?Rumah Dara? muncul di majalah Sastra, No. 12, Th. II, tahun 1962. Seminggu kemudian ia mengambil honornya yang ternyata lebih dari cukup untuk ongkos mudik. Demikian awal Titis memasuki dunia kepengarangan. Meskipun ia begitu senang menerima honor tulisan pertamanya itu, Titis sendiri waktu itu belum punya pikiran untuk lebih menekuni bidang tulis-menulis. Apalagi sampai bercita-cita menjadi sastrawan terkenal.

?Sungguh, saya tak pernah bermimpi menjadi pengarang. Saya bisa menjadi penulis bermula dengan hanya ingin melihat wajah dan bertemu muka dengan HB Jassin,? begitu pengakuannya. Setelah ia berjumpa dengan HB Jassin dan mendapat banyak masukan dari Paus Sastra itu, Titis mulai menekuni bidang kepengarangan secara serius. Paling tidak, ia tak sekadar mengungkapkan gagasan atau pikirannya begitu saja, tetapi juga secara sadar menyampaikan pesan tertentu yang mungkin penting untuk bahan pemikiran orang lain.

Boleh jadi lantaran keseriusannya itu pula, cerpennya yang kedua, berjudul ?Dia? dimuat lagi majalah Sastra, No. 5, Th. III, 1963. Cerpen ini, bersama cerpen berikutnya ?Hotel? yang juga dimuat majalah Sastra, No. 7-8, Th. III, 1963 dan ?Suatu Keputusan? (Sastra, No. 9–10, Th. III, 1963) memperoleh hadiah hiburan majalah itu. Dalam hampir setiap edisi, cerpen Titis kerap menghiasi lembaran majalah itu. Pada tahun 1964, satu cerpennya lagi, ?Aku Melihat Senyumnya? dimuat Sastra, No. 3, Th. IV, 1964. Namun, setelah itu nama Titis Basino seolah-olah tenggelam dalam kesibukannya menjadi istri seorang insinyur. Tak ada lagi cerpennya yang muncul.

Hampir sewindu lamanya Titis memainkan peranannya sebagai ibu rumah tangga, dan sepertinya ia benar-benar telah melupakan kegiatan kepengarangannya. Barulah pada tahun 1973, majalah Femina, No. 12, muncul lagi nama Titis Basino lagi lewat sebuah cerpennya ?Hotel? yang sebenarnya pernah pula dimuat majalah Sastra. Beberapa cerpen berikutnya dimuat majalah Horison. Itulah periode pertama kepengarangannya.

Tidak puas menulis cerpen, Titis mulai mencoba-coba menulis novel, meskipun pada awalnya sekadar untuk bacaan pribadi dan tidak dimaksudkan untuk diterbitkan. Belakangan, setelah dibaca Pak Jassin, kritikus dan dokumentator sastra Indonesia itu menganjurkan agar novelnya dikirimkan ke penerbit. Maka, terbitlah novel pertamanya, Pelabuhan Hati (1978). Sambutan masyarakat pembaca terhadap novel ini ternyata sangat beragam. Setidak-tidaknya, keberagamannya itu dapat kita cermati dari sejumlah resensi mengenai novel itu. HB Jassin, misalnya, berkomentar: ?Titis Basino penulis bergaya segar.?

Boleh jadi lantaran cukup banyak resensi mengenai novel itu, Titis pun makin terpacu untuk serius menekuni kegiatan menulis, meskipun itu dilakukan di antara kesibukannya mengurusi suami dan ke-4 putranya. Dan, pada tahun 1983, terbitlah novel Titis berikutnya, Di Bumi Aku Bersua di Langit Aku Bertemu (1983), yang disusul dengan novel Bukan Rumahku (1986) dan Dataran Terjal (1988). Sejak itu, nama Titis Basino PI makin kukuh tercatat dalam sejarah sastra Indonesia. Itulah periode kedua dalam kepengarangan Titis Basino.
***

Selepas terbitnya keempat novel itu, Titis Basino seolah-olah kembali tenggelam. Kecintaan dan tanggung jawabnya kepada keluarga, membuatnya merasa terlalu sedikit waktu yang dapat ia manfaatkan untuk menulis. ?Saya adalah ibu rumah tangga seratus persen,? katanya menegaskan kembali perhatiannya yang besar kepada keluarga. Itu pula sebabnya, Titis menganggap dirinya bukanlah sastrawan yang produktif.

Setelah suami meninggal dan anak-anaknya dewasa, kini Titis mempunyai banyak waktu luang. Terlebih lagi setelah ia menunaikan ibadah haji, ia seakan-akan begitu bebas mengumbar kegelisahannya. Maka, pada Agustus 1997, lahirlah dari tangannya sebuah novel berjudul Dari Lembah ke Coolibah (1997), sebuah novel yang menggambarkan perselingkuhan seorang ustad pembimbing dengan pesera haji di tengah perjalanan suci ke Mekah dan terus berlanjut di tanah air.

Berbeda dengan novel-novel sebelumnya yang tema ceritanya terjadi di seputar kehidupan rumah tangga, kali ini Titis melebarkan pokok persoalannya dalam konteks kemasyarakatan. Dan seperti si anak hilang yang hadir kembali di tengah keluarga, terbitnya Dari Lembah ke Coolibah, bagi peminat sastra Indonesia laksana disadarkan kembali akan kepiawaian bercerita novelis yang oleh HB Jassin dimasukkan sebagai sastrawan Angkatan 66 ini. Gaya bahasanya yang tetap memancarkan kesegaran seolah-olah sebagai representasi pengarangnya sendiri yang memang kelihatan selalu ceria dan segar. Bahkan di beberapa bagian ceritanya muncul humor-humor yang cerdas, meskipun terasa agak nakal. Sambutan masyarakat pembaca terhadap novel inipun, boleh dikatakan begitu semarak. Paling tidak, hal itu tampak dari munculnya sekitar 20-an resensi yang membicarakan novel itu. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, pada tahun 1998, juga memberi penghargaan kepada Titis Basino atas sukses novelnya itu.

Dari Lembah ke Coolibah ternyata merupakan bagian pertama dari sebuah trilogi perselingkuhan. Dua novel lainnya adalah Welas Asih Merengkuh Tajali (1997) dan Menyucikan Perselingkuhan (1998). Belakangan pada tahun 1999, trilogi ini dianugerahi Hadiah Sastra Mastera (Majelis Sastera Asia Tenggara), karena dipandang tidak sekadar memperlihatkan kejujuran sastrawannya dalam mengangkat masalah yang sering dihadapi dunia wanita, tetapi juga memperlihatkan kematangannya menggunakan teknik dan gaya bertuturnya. Sebelumnya, Titis juga dinominasikan sebagai pemenang hadiah sastra Asean (Sea Write Award) bersama N. Riantiarno dan Wing Kardjo.
***

Dibandingkan dengan sastrawan wanita lainnya –bahkan juga dengan sebagian besar sastrawan Indonesia– Titis Basino di akhir tahun 1990-an itu tergolong sastrawan yang paling produktif. Dalam waktu dua tahun, ia berhasil menyelesaikan lebih dari 17 novel yang relatif tebal. Dengan demikian, hingga sekarang sastrawan wanita yang selalu berpenampilan lemah-lembut dan bersahaja ini, telah menghasilkan lebih dari 20-an novel; sebuah prestasi yang sungguh membanggakan.

Dilihat dari penampilannya, Titis tidak hanya berhasil menyembunyikan usianya di balik kecerian dan keramahannya, tetapi juga berhasil menyimpan potensi yang dahsyat untuk terus berkarya dan berkarya. Yakinlah kita, Titis akan terus melahirkan karya-karya terbarunya. Tentu saja dengan kedalaman dan perenungan yang lebih intens. Kita tunggu saja!

*) Staf Pengajar FSUI, Depok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *