TEATER PAGUPON BERJAYA DI MALAYSIA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Festival Seni Teater Melayu ASEAN (Festema) 2004 berlangsung 14?19 Juli 2004 di Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor, Malaysia. Timbalan Menteri Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia, Datuk Wong Kam Hoong yang mewakili YB Datuk Seri Utama, Dr. Rais Yatim, meresmikan acara yang diikuti enam grup teater, yaitu dari Malaysia (Kelab Teater Rimba, Universiti Kebangsaan Malaysia), dua dari Indonesia (Teater Pagupon Universitas Indonesia dan Sanggar Teater Selembayung, Universitas Lancang Kuning, Riau), Singapura (Persatuan Kemuning Singapura), dan dari Muangthai Decha Group, Dechapa Hanayanukul, School of Amphur Muang, Pattani). Brunei Darussalam (Universiti Brunei Darussalam) yang semula akan mengirimkan delegasinya, ternyata mengundurkan diri.

Dengan mengusung semangat mempererat hubungan antara ASEAN demi mencapai masa depan serantau yang aman dan damai, festival ini bertujuan (1) mengumpulkan tokoh-tokoh dan penggiat teater dari negara-negara ASEAN, khasnya institusi perguruan tinggi, (2) saling bertukar pandangan tentang isu-isu yang berkaitan dengan perkembangan dan berbagai masalah seni teater di institusi bersangkutan, dan (3) melahirkan lebih banyak penggerak teater di kalangan mahasiswa yang berwibawa, berkemahiran, dan berwawasan luas.

Tampil di hari pembukaan, Kelab Teater Rimba (KTR) Universiti Kebangsaan Malaysia yang mementaskan drama Syajar karya Ismail Kassan. Muangthai yang membawakan pentas tari, dan dari Sanggar Teater Selembayung, Universitas Lancang Kuning, Riau mementaskan drama Sangsapurba karya Hang Kafrawi. Pada hari berikutnya tampil Persatuan Kemuning Singapura. Di hari penutupan (18/07/2004), Teater Pagupon mendapat kehormatan untuk membawakan karya Nikolai Gogol, ?Perkawinan?.

Dibandingkan pementasan yang sudah disajikan kelompok teater sebelumnya, Teater Pagupon tampil mengejutkan. Pementasannya yang memakan waktu dua setengah jam itu didukung oleh akting para pemainnya yang rata-rata sangat meyakinkan. Inilah sebabnya, penampilan Teater Pagupon mendapat sambutan yang hangat. Beberapa harian yang terbit di Kuala Lumpur menyebutkan, ?Teater Pagupon sudah pun mengajari kumpulan teater di ASEAN, bagaimana melakukan pentas teater yang benar.?

Dengan memanfaatkan setting panggung yang minimalis, para pemain Teater Pagupon berhasil menyatukannya sebagai bagian integral dengan tema cerita. Penataan lampu juga dibuat secara efisien, dengan memanfaatkan lampu sentral yang terus mengikuti gerak pemain. Kondisi itu diperkaya dengan bayangan-bayangan siluet yang meliuk-liuk indah dengan pergerakan antarpemain yang terlihat begitu dinamis. Dengan cara itu, interaksi antara pemain pun menjadi begitu kental. Tampak, Sutradara (Anwari Natari) berhasil memadukan teater rakyat dengan teater modern.

Sesungguhnya, naskah ?Perkawinan? karya Nikolai Gogol merupakan naskah komedi yang khas Rusia. Anwari berhasil mengadaptasinya menjadi sebuah cerita yang seperti mewakili sisi lain dari potret sebuah keluarga Melayu. Tokoh Ahmad (Hapis Sulaiman) sebagai tokoh utama tampil secara meyakinkan sebagai sosok insinyur yang tak percaya diri ketika harus menghadapi perkawinan. Kalkulasi materi yang menjadi bahan pertimbangan tokoh itu sekadar topeng dari sikapnya yang peragu. Dengan akting yang realis, bersahaja, dan penuh dengan luapan inner emotional, tokoh Ahmad tidak hanya menjadi katalisator bagi tokoh-tokoh lain, tetapi juga berhasil memancing tokoh lain bergerak dengan inner emotional yang hampir sama.

Tokoh Ambarita (Dharmestya Adyana) yang menjadi pusat cerita, meski kadangkala cengengesan, kehadirannya menjadi penting yang menggiringnya ke ruang komedi satiris. Dengan gaya yang seperti itu, ia bisa menjadi sangat menjengkelkan, sekaligus juga menggemaskan. Dengan begitu, tokoh lain yang bermaksud melamar tokoh Ambarita, seperti sengaja dijerat masuk dan kemudian dihempaskan. Permainan itu berkembang penuh konflik, ketika tokoh Ny. Eliya (Miftahul Jannah) sebagai Mak Comblang, harus bersaing dengan tokoh Karim (Daniel Hariman Jacob) yang keduanya punya kepentingannya sendiri. Maka, ketika tampil pula tokoh Raden Tatang Serabi (Asep Sambodja), tak terhindarkan konflik itu menggelinding lebih kompleks.

Dalam situasi itu, kehadiran tokoh pelaut, Dahlan (Gema Mawardi) dengan segala bualannya dan tokoh Arjuna (Widya Aryo Damar) yang berkarakter kebencong-bencongan, memperumit masalah, dan sekaligus menciptakan adegan-adegan komedi yang membuat para penonton tak dapat menyembunyikan tawanya sepanjang pertunjukan berlangsung. Belum lagi penampilan Tante Arina (Fifi Juliana Jelita) yang nyinyir dan materialistik. Konflik kepentingan antara Tante Arina yang menginginkan orang kaya sebagai suami Ambarita dan tokoh pembantu, Siti (Siti Deviyanti) yang lugu dan agak dungu, menggiring persoalan perjodohan menjadi masalah yang ringan dan lucu.

Cukup menarik peran yang dibawakan tokoh Ny. Eliya dan Karim, yang keduanya berebut menjadi Mak Comblang. Intrik dan hasut-menghasut berubah menjadi rangkaian lelucon. Dalam hal ini, Anwari terkesan sengaja mengangkat kisah mencari jodoh seperti analog dengan peristiwa Pemilu legislatif dan pemilihan Presiden. Dan kita cukup menanggapinya dengan berguyon.

Secara simbolis, Anwari seperti hendak mengangkat perhelatan Pemilu dan pemilihan Presiden tak ubahnya dengan lelucon. Tokoh Raden Tatang Serabi menggambarkan sosok birokrat yang sok humanis, sementara tokoh pelaut sebagai politikus ulung yang cenderung mengobral bualan. Hal yang sama juga tampak dengan tampilnya tokoh Ny. Eliya dan Karim yang bertindak sebagai Mak Comblang. Keduanya menggambarkan peran tim sukses pemilihan presiden yang kasak-kusuk menghasut dan mengapusi. Sementara tokoh Ahmad menggambarkan sosok intelektual yang peragu dan cenderung membuang kesempatan atas nama harga diri.

Tokoh Arjuna yang kebencong-bencongan mengusung gaya ABG (anak baru gede) yang hedonis. Ia mengharapkan istri yang cerdas dan intelektual. Tujuannya agar ia dapat hidup tenang, meringkuk di ketiak istrinya. Sementara tokoh Tante Arina yang perawan tua itu, memaksa keponakannya segera kawin, padahal ia sendiri membutuhkan itu. Apakah Anwari sengaja mengangkat kembali kasus pemilihan presiden yang lalu? Peran itu seperti sengaja dikontraskan dengan kehadiran tokoh Siti, sang pembantu yang lugu dan cenderung dungu. Kita dihadapkan pada potret sosial masyarakat Indonesia dewasa ini yang sok tahu, sok pintar, dan sok demokratis.

Dalam hal itulah pementasan ?Perkawinan? yang dibawakan Teater Pagupon menjadi kontekstual. Mengingat temanya yang seperti itu, penonton tampak begitu terlibat dengan setiap adegan dalam pementasan itu. Para pemain berhasil menarik penonton menjadi bagian dari problem yang terjadi dalam rangkaian adegan. Dengan demikian, sangat wajar jika selama pementasan berlangsung, hampir tidak ada penonton yang meninggalkan tempat duduknya.

?Teater Pagupon telah menampilkan pementasan yang seronok,? ujar Mohd. Diani Hj. Kasian, Koordinator Festival Seni Teater Melayu ASEAN 2004. ?Itulah kemuncak pementasan dalam festival ini,? tambahnya.

Keberhasilan pementasan Teater Pagupon dalam festival itu memperlihatkan bahwa teater di tanah air telah cukup jauh melampaui perkembangan teater di negara-negara ASEAN lainnya. Sayang sekali, keberadaan berbagai kelompok teater yang lahir di lingkungan kampus, sebagaimana yang terjadi pada Teater Pagupon, kerap tidak mendapat dukungan yang memadai dari institusi yang menaunginya.

*) Catatan dari Selangor, Malaysia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *