Andrea Hirata: Kita dalam Krisis Keteladanan

Triyanto Triwikromo
suaramerdeka.com

FILM Laskar Pelangi “yang bakal diputar secara serentak di seluruh Indonesia” 25 September diperkirakan akan ditonton jutaan penonton menyusul kesuksesan novelnya yang telah dinikmati oleh lebih dari 1 juta pembaca. Namun sungguh mengejutkan, di tengah kegemuruhan kabar indah itu, Andrea Hirata, sang novelis yang juga telah melahirkan Sang Pemimpi dan Edensor (nominator Khatulistiwa Literary Award 2007), serta Maryamah Karpov (yang sebentar lagi terbit) memutuskan berhenti menulis. Mengapa? Berikut petikan perbincangan dengan pria berlatar belakang “ilmu ekonomi” di sebuah kafe riuh di Jalan Setiabudi, Bandung, belum lama ini.

Mengapa harus berhenti menulis pada saat nama Anda menjulang dan novel Laskar Pelangi difilmkan oleh Mira Lesmana dan Riri Riza, produser dan sutradara penting Indonesia?

Setelah selesai menulis tetralogi Laskar Pelangi kesulitan terbesar yang dihadapi ternyata saya harus mendapatkan pembaca Indonesia yang sangat personal, sentimental, dan cenderung emosional. Saya setuju dengan pendapat yang menyatakan, “You are what you write” (Anda adalah apa yang Anda tulis), but in term of capacity, not in term of integrity. Saya capai berhadapan dengan orang-orang yang membaca Laskar Pelangi dan menyangka saya sebagai seorang alim. Saya keberatan terhadap orang-orang yang memprofil saya sebagai alim ulama atau orang baik. Hal itu menimbulkan perasaan tidak nyaman. Hal itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa saya mulai malas menulis novel lagi. Hal kedua yang menjadi alasan saya ingin berhenti menulis adalah pembajakan. Sudah jutaan eksemplar buku saya dibajak. Hal ketiga berkait dengan pemahaman pembaca atas beberapa hal, misalnya mengenai film. Sebagian besar pembaca tidak setuju Laskar Pelangi difilmkan.

Mereka punya film sendiri di dalam kepalanya dan tidak mau film itu menjadi rusak karena interpretasi para sineas. Mereka tidak menyadari betapa yang dinamakan adaptasi itu adalah penyesuaian. Mereka selalu menganggap film itu harus sama dengan bukunya. Saya justru tidak setuju. Jika film harus sama dengan buku, buat apa bikin film? Saya lebih setuju jika sineas berbakat sekelas Riri Riza dan Mira Lesmana memperkaya buku itu.

Harap diketahui, keputusan saya untuk memfilmkan Laskar Pelangi membutuhkan waktu panjang. Bukan sekadar keputusan komersial. Jika hanya ingin mendapatkan miliaran rupiah dalam waktu cepat, karya ini dulu sudah saya berikan kepada salah seorang produser yang tertarik dan menawar.

Baiklah…ada baiknya kita berbicara tentang kultur pembaca Indonesia. Apa pemahaman Anda tentang hal itu?

Ya, kultur pembacalah masalah kita saat ini. Saya yakin pembaca sastra kita tidak lebih dari 150 ribu orang. Mereka itu adalah orang-orang yang benar-benar mengamati perkembangan sastra, membaca resensi, dan menyediakan dana khusus untuk membeli novel.

Begitu Laskar Pelangi terjual hingga 125 ribu eksemplar dan menjadi national best seller, ia mengalami slowing down. Begitu muncul di Kick Andy, penyerapan publik atas buku itu tidak terbendung. Setiap minggu Laskar Pelangi dicetak hingga 20 ribu eksemplar. Ini ledakan dahsyat yang memungkinkan buku itu terbeli hingga 1 juta eksemplar.

Namun, orang yang membeli buku itu belakangan, bukanlah para pembaca sastra. Mereka membaca karena terimbas oleh satu sensasi ?terutama oleh media. Hanya, yang perlu diketahui, pembaca-pembaca selain yang 150 ribu itulah yang merepotkan. Mereka senantiasa menganggap buku dan pengarangnya sebagai satu paket yang tak terpisahkan.

Karena itulah saya kemudian bersimpulan, kesuksesan itu tidak selalu mendatangkan kegembiraan. Banyak hal yang hilang dalam kehidupan saya dan kian menakutkan. Wilayah pribadi saya diserang…Saya berkali-kali dikirimi pakaian dalam wanita…saya hendak dijadikan sebagai pemuda pelopor. Aduh…saya bukan orang semacam itu. Saya hanyalah seorang muslim yang ingin berjuang menjadi insan terbaik, tetapi sekali lagi saya bukan ustad, saya tersiksa oleh pencitraan-pencitraan ngawur semacam itu.

Milan Kundera pernah mengawal karya hingga ia membuat semacam panduan untuk membaca karyanya. Anda tak tertarik melakukan hal serupa?

Saya sebenarnya pernah membuat hal semacam itu. Saya pernah punya keinginan membuat buku Lebih Dekat dengan Penulis Laskar Pelangi. Namun saya kira pembaca Indonesia tidak akan peduli. Mereka akan sulit berubah.

Jangankan membuat buku semacam itu. Aduh, sineas memilih pemain yang tidak sesuai dengan bayangan pembaca saja, sudah dianggap sebagai sebuah kesalahan besar dan mereka marah-marah.

Padahal jika saja mereka tahu betapa Laskar Pelangi dibuat dengan semangat apa adanya tidak mengidealkan tokoh dan cenderung memarodikan tragedi, seharusnya mereka tak memaksa saya untuk menjadi pahlawan dan idola mereka. Dan ini memang problem struktural. Bangsa ini sedang mencari pahlawan. Bangsa ini sedang mencari inspirator. Ini yang menyebabkan Laskar Pelangi laku ?bukan karena saya jago menulis. Kita ini sedang mengalami krisis keteladanan. Orang-orang yang kita kagumi dulu, eh belakangan mencuri juga. Jadi ketika pembaca menemukan tokoh-tokoh ideal dalam cerita, mereka jatuh hati secara tidak rasional. Ini lebih sulit lagi ketika mereka sudah menokohkan pengarangnya. Menghadapi hal itu, kebijakan manajerial kami berubah. Pada 2009 saya dan manajemen benar-benar ingin berhenti berkeliling dari kota ke kota karena semua undangan bermuara pada ceramah. Atau kalau ada yang tetap memaksa mengundang, saya akan memberi tarif Rp 50 juta. Ini bukan untuk pamer. Saya hanya ingin harga dan apresiasi terhadap novelis seharusnya sekelas dengan para motivator.

Semoga ada penulis lain yang bisa merebut momentum ini. Sastrawan juga harus keluar dari lubang narsisisme agar novelnya bisa memiliki artikulasi yang lebih luas. Laskar Pelangi, misalnya, kini telah menjadi film. Salah satu puisi di dalamnya akan dijadikan lagu oleh salah satu legenda musik Indonesia. Dan lebih dari itu, ada juga yang akan mengubahnya menjadi naskah teater.

Perlu diketahui dibaca oleh lebih 1 juta pembaca tidak membuat saya bangga. Semua itu tidak ada artinya karena jumlah penduduk Indonesia lebih dari 250 juta jiwa. Ini berbeda dari film. Film yang sukses satu bulan bisa mengeruk 6 juta penonton. Jika masuk ke televisi, ia bisa ditonton oleh 150 juta orang. Karena itu dalam masyarakat yang belum sadar membaca, buku adalah debu.

Karena itu tantangan sastra adalah menemukan segmen pembaca baru. Sastra harus bisa masuk ke kaum eksekutif. Di Amerika di koper-koper para eksekutif bisa saja kita dapati The Lord of the Ring.

Apakah ketika Laskar Pelangi jadi film, Anda tak mendapatkan masalah serupa? Bukankah pembaca dan penonton Indonesia nyaris tidak berbeda?

Ada tiga jawaban yang bisa saya berikan. Pertama, dalam hati kecil, saya yakin masa depan film Indonesia justru akan melibatkan para novelis. Para novelis akan banyak berperan. Beberapa film yang sukses secara mutu dan laku, berasal dari novel. Kedua, film Laskar Pelangi memang memiliki potensi besar untuk semakin menokohkan saya, karena para sineas “Riri Riza, Salman Aristo, dan Mira Lesmana” menceritakan saya. Ini memang timbul problem lagi. Namun, Riri cukup proporsional melihat saya sebagai pribadi. Riri tidak membuat film religius. Ia membuat film tentang semangat. Dengan begitu, saya berharap penonton tidak akan menokohkan saya. Ketiga, adaptasi Laskar Pelangi dalam film, bisa memberi pelajaran kepada para novelis bagaimana seharusnya mereka menulis “setidaknya mengapa para novelis tidak membuat cerita sebagaimana para sineas membuat film”

Jadi film ini justru akan menyelamatkan Anda?

Selama film ini menangkap apa pun secara wajar Laskar Pelangi, saya akan selamat dari sikap sentimental para penonton film.

Karena alasan agar wajar jugakah Anda kemudian menjadi supervisor penulisan skenario?

Ya…saya kira pada saat memutuskan bekerja sama, saya menghormati otoritas masing-masing. Yang penting novelis tidak perlu ikut-ikutan dalam proses pembuatan film. Namun, sineas harus memastikan bahwa film ini didukung oleh novelisnya. Jika mereka tidak memedulikan visi novelis, mereka sama saja mengabaikan pembaca yang bakal menjadi penonton potensial film tersebut.

Sejujurnya saya puas dengan script yang mereka buat. Mereka telah mendapatkan substansi dari buku saya.

Film ini dengan demikian lebih merupakan respons atas teks Anda?

Film ini lebih merupakan adaptasi yang dilengkapi dengan riset yang kuat. Bahkan mereka menemukan hal-hal baru yang belum saya tulis di dalam buku. Hasil riset justru memperkuat. Riri tidak memvisualkan Laskar Pelangi, tetapi telah melengkapi buku itu.

Anda yakin semua pembaca Anda akan menonton film ini?

Saya kira begitu karena mereka umumnya terpengaruh pada gambaran saya tentang tempat dan karakter. Saya kira mereka harus menonton karena akan mendapatkan hal-hal yang tak terbayangkan. Ini sebenarnya merupakan kisah sehari-hari orang Indonesia.

Apakah filmya juga akan membuat penonton mendapatkan hal-hal yang inspiratif?

Ya. Riri sangat memiliki sense of humor tinggi sehingga film ini inspiratif. Riri membaca teks dengan cerdas karena telah menjadikan film ini sebagai film beraksentuasi Melayu yang sangat manusiawi. Riri bahkan menemukan metafora baru “antara lain mobil di pinggir jalan yang tak selesai diperbaiki sepanjang film berlangsung” yang sebenarnya ingin memvisualkan sebuah korporasi yang salah urus.

Kalau kultur pembaca berubah, apakah Anda akan tetap menulis?

Saat ini saya akan tetap memutuskan berhenti menulis. Naskah Maryamah Karpov sudah saya berikan kepada penerbit dan saya meminta editor lebih teliti karena saat menulis saya sudah dalam kondisi jenuh dan setengah hati. Sebenarnya ada tiga buku yang sudah siap saya tulis. Ketiga buku itu: tentang biografi Bu Muslimah, perjuangan perempuan perampok Melayu, dan sepakbola. Buku-buku ini beride nakal dan liar yang memungkinkan saya tak kehabisan kata untuk menjadikannya sebagai karya-karya tebal. Namun, kutukan pembaca yang menyiksa, telah menjadikan saya memutuskan break, berhenti menulis, apa pun risikonya.

Biografi Andrea Hirata
Kelahiran Belitong

Pendidikan:
– lulus Jurusan Ekonomi Universitas Indonesia
– Master of Science di Universite de Paris, Sorbone, Prancis dan Sheffield Hallam University, Inggris.

Pekerjaan:
– pekerja di Kantor Pusat PT Telkom, Bandung

Karya-karya:
– buku Teori Ekonomi Telekomunikasi
– novel Laskar Pelangi
– novel Sang Pemimpi
– novel Edensor
– novel Maryamah Karpov
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *