Bau Kematian

Jenny Ang
http://www.jawapos.com/

APA yang bisa kukenang dari seorang pria yang meninggal tadi pagi, yang jatuh telungkup dengan kedua tangan tertekuk di samping badannya yang basah karena siraman gerimis? Pemandangan itulah yang kulihat ketika aku membuka jendela flat-ku untuk merasakan gerimis yang jatuh dengan telapak tanganku. Aku berteriak dan berlari turun untuk menolong pria ini. Para penghuni flat bermunculan untuk mengetahui apa yang telah terjadi dan ternyata dia sudah meninggal. Ia meninggal begitu saja, dengan sekantong belanjaan yang berisi bahan makanan yang masih berserakan di sekitar tubuhnya. Kacamatanya pecah remuk tertimpa wajahnya sendiri. Kepalanya sedikit berdarah karena terbentur aspal yang keras. Tubuhnya masih terasa hangat ketika aku memeluknya. Aku tak kuat membopongnya meskipun aku ingin. Beberapa lelaki dewasa kemudian memindahkan tubuh pria ini ke sebuah bangku panjang di dalam bangunan flat dan aku mengantungi kacamatanya yang pecah.

Serangan jantung, kata seorang dokter yang tinggal di lantai bawah. Aku mengangguk maklum. Tidak heran, bagi pria-pria seusia kami, alasan apa saja bisa digunakan sebagai penyebab kematian. Segera aku menghubungi petugas sosial dan dalam beberapa menit mereka telah datang dengan membawa sebuah peti mati yang tak bisa disebut indah. Salah seorang petugas memegang pergelangan pria itu dan berseru keras: waktu kematian sembilan dua puluh! Sementara seorang petugas lainnya sibuk mencatat-catat di atas selembar kertas. Aku memaksa para petugas itu untuk mengganti baju pria ini dengan pakaian yang lebih layak dan aku sendiri yang membersihkan darah di kepalanya dengan hati-hati. Kusisir rambut peraknya dengan rapi dan terakhir kupakaikan kacamatanya yang pecah (Aku kuatir dia tidak bisa melihat dengan jelas di ‘sana’ tanpa kacamatanya ini). Dengan cekatan dan tanpa banyak bertanya, para petugas segera menaikkan peti yang berisi jasad pria ini ke dalam mobil. Aku segera naik dan ikut di dalamnya. Mobil mulai bergerak dan aku menatap pria yang terbaring rapi dalam rumah abadinya.

Tak ada bau kematian yang menyelimutinya. Aku menajamkan inderaku sekali lagi. Tak ada bau kematian di sini. Yang ada hanya aroma yang menyenangkan, sesuatu yang menguakkan kenangan masa kecil, di mana musim panas yang datang terasa sangat menyenangkan. Wangi yang mengingatkan aku di mana langit berwarna biru dan hujan tidak turun selama berminggu-minggu. Harum manis segar yang mengingatkanku akan sederetan selai di dapur ibu, yang diam-diam selalu kucelupkan jariku ke dalamnya karena tak tahan ingin mencicipinya. Bukan aroma dingin kelabu yang biasa menyelubungi kematian orang-orang seperti kami.

Mobil berhenti. Para petugas bergegas turun dan orang yang bertugas mencatat-catat terlihat masih sibuk menulis. Tak lama kemudian, dia menyuruhku membubuhkan tanda tangan di bawah tulisannya. Peti ditutup. Seseorang yang berpakaian seperti pendeta dengan sebuah kitab di tangannya datang menghampiri. Dia dan para petugas lainnya kemudian membopong peti mati tersebut menuju tanah lapang, di mana sebuah lubang menganga menunggu untuk diisi. Aku sempat tergoda untuk berpesan kepada mereka, alangkah baiknya jika aku mati nanti aku bisa dikubur di sebelah pria ini, tapi tak jadi karena kupikir ini bukan saat yang tepat. Gerimis masih setia mengikuti kami sampai akhirnya peti itu mulai diturunkan ke dalam liang kubur.

Doa yang paling umum mulai dilantunkan:

”Der HERR ist mein Hirte, mir wird nichts mangeln.” Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

”Er weidet mich auf einer…”

Dan bait-bait selanjutnya terdengar seperti gumaman yang ditujukan pada diri sendiri. Tak ada tangisan, tak ada penghiburan atau semacamnya. Ringkas dan cepat.

”Amen.”

Gundukan tanah basah di samping liang kubur mulai dikembalikan ke asalnya. Tentu saja, pada akhirnya tanah itu menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Selesai sudah. Kami membubarkan diri. Surat pernyataan kematiannya telah berada di saku mantelku. Apalagi yang bisa kulakukan? Pertama, mungkin aku akan berusaha menghubungi adik perempuannya yang tinggal di daerah bekas Timur untuk mengabari kemalangan ini. Kedua, aku akan mengunjungi kamarnya dan melihat apa saja yang ditinggalkan pria ini. Ketiga, mungkin aku akan mencari cara untuk mengenang pria ini. Pria yang hingga diturunkan ke dalam liang kuburnya belum dapat kurasakan bau kematiannya.

Aku tiba kembali di kamar flatku. Keadaanya masih seperti tadi sebelum kutinggalkan. Jendela yang terbuka kubiarkan tetap terbuka karena aku menyukai angin sisa gerimis yang dialirkannya. Aku menuangkan minuman kesayanganku ke dalam sebuah gelas lalu duduk terdiam menatap langit basah yang hanya sebingkai jendela. Aku mulai mengambil waktuku sejenak untuk mengenang pria itu.
***

TIGA hari yang lalu, aku masih bertemu dengan pria itu. Kala itu, kami sedang duduk-duduk di bar langganan sekadar untuk menghangatkan badan dengan segelas bir murahan. Tak ada aroma kematian yang dapat kucium darinya waktu itu. Ya. Tak banyak lagi kawan-kawanku yang tersisa. Aku sudah hidup selama 79 tahun dan teman-temanku banyak yang sudah mati. Dan, bagi aku yang masih diberi umur panjang ini, aku dapat merasakan apakah teman-temanku masih akan hidup lebih lama atau sebentar lagi akan mati. Orang lanjut usia seperti aku punya indera seperti itu. Ya. Tak ada bau kematian yang dapat kuendus ketika kami bercakap-cakap.

Kami sempat bertukar cerita. Ia berbagi kabar bahwa adik perempuannya akan mengunjunginya di akhir pekan ini. Telah lama ia tak bersua dengan adik satu-satunya itu, karena semasa muda, hidup mereka dipisahkan oleh sebaris tembok dingin. Dan, setelah keruntuhan tembok pun mereka hanya sempat bertemu sekali dua kali. Ia bercerita sambil mengangguk-angguk kecil tanda senang dan antusias sambil membetulkan kacamatanya yang selalu melorot.

Aku juga membalasnya dengan sebuah berita, bahwa sebentar lagi aku akan berangkat menuju pantai di Brazil, di mana matahari bersinar sepanjang waktu, dan gadis-gadis berwarna tembaga berseliweran di hadapanku. Apakah kamu akan bercinta dengan salah satu dari mereka, tanyanya. Aku menjawab, tentu saja. Aku akan bercinta dengan salah satu dari gadis-gadis berwarna tembaga itu. Dan kami akan bercinta sepanjang hari di bawah sinar matahari emas dan di atas hangatnya hamparan pasir yang kemilau.

Kami tertawa. Betapa menyenangkan bahwa kami masih berani merajut mimpi. Bagi pria-pria lanjut usia seperti kami, terkadang berita yang sederhana atau sekadar impian yang sudah pasti tak mungkin, sudah sangat menyenangkan kami. Ketika ia mengeluh tentang badannya yang sakit karena dinginnya cuaca, aku akan berkata; sabarlah. Musim panas akan datang sebentar lagi dan sakit-sakitmu akan hilang dengan sendirinya. Dan ia mengangguk-angguk tanda setuju seolah-olah yakin masih akan hidup hingga musim panas datang. Atau ketika aku mengeluh tentang harga tiket kereta bawah tanah yang semakin mahal, dengan mimik yakin dan serius ia berkata; tenanglah. Kelak aku kaya raya, akan kubelikan sebuah mobil khusus untukmu. Ya. Kami masih mengharapkan masa depan. Tetapi apalah yang pasti ada di masa depan selain kematian?

Minuman di gelasku tinggal separo. Apa lagi yang dapat kukenang dari seorang sahabat pria, yang telah dikubur dalam gerimis pagi tadi?
***

SEPULUH tahun yang lalu, kami bertemu di sebuah bangku taman. Kala itu, malam terasa lebih terang dari biasanya dan aku sedang berjalan-jalan menikmati angin musim panas. Ia datang begitu saja dan duduk mematung di sebelahku. Rambutnya berwarna keperakan dan semuanya mengarah ke belakang seolah-olah baru diterpa angin kencang. Kacamatanya melorot hingga ke puncak hidung. Tiba-tiba ia sudah bercerita tentang dirinya yang tak sempat meneteskan air mata ketika istrinya meninggal dua hari karena ia terlalu sibuk mengurusi pemakamannya. Dan aku bercerita bahwa aku baru saja berjalan-jalan dan tak punya istri yang meninggal untuk diurusi pemakamannya. Ia tertawa dan katanya itu adalah tawanya yang pertama dalam sebulan itu. Sejak itu kami sering bertemu dan saling berbicara. Setelah agak lama dan mulai saling mempercayai, kami berani membuka diri dan sering membicarakan dunia yang telah kami lewati. Tentang sebuah kekuatan mahabesar yang pernah dihimpun oleh seorang pria pendek berkumis persegi. Tentang semua perang yang telah kami lalui. Tentang kami yang sanggup segera berdiri dan bekerja menyingkirkan puing-puing kekalahan perang, hanya dengan tangan kosong dan alunan musik Beethoven. Kami juga berbicara tentang sebuah tembok dingin yang membelah sebuah kota menjadi dua negara. Tentang impian dan kenangan yang terputus di belahan sini dan sana. Tentang kehilangan kami dan apa yang telah kami hilangkan. Kami terus berbicara hingga mendapati mata kami mengalirkan air mata. Bukan, bukan, katanya sambil terisak-isak. Bukan aku yang terlalu sibuk mengurusi pemakaman istriku, tapi karena hatiku yang sudah lama kering dan membatu. Wajahnya memerah karena memendam emosi yang sangat.

Aku juga menangis. Aku tak tahu apa yang aku tangisi, tapi kupikir aku ingin menangis. Aku kemudian berdiri dan menunjukkan sebuah tato SS dengan sederatan angka di lengan kiriku. Aku pikir, baiklah kalau ternyata ia adalah musuhku dan harus membunuhku saat ini juga, tak masalah karena aku sebenarnya sudah sangat lelah dan ingin tidur saja. Sahabatku terperangah, dan dia berdiri seraya melepaskan mantel dan melemparkannya jauh, sebelum akhirnya menggulung lengan baju kirinya dan menunjukkan tanda yang sama kepadaku. Sejak itulah masa lalu kami mengalir deras bagaikan pintu air yang dibuka untuk mengalirkan kenangan pahit.
***

KAMI adalah tikus. Tikus-tikus yang diselundupkan dari Timur ke Barat. Bertahun-tahun kami menyelinap, mengorek, menggali, mengerat, dan menggigit. Bahkan kalau perlu kami tak segan untuk membunuh. Tak ada kata gagal dalam kamus kami. Kami sudah terbiasa bergerak dalam senyap dan gelap. Kami bergerak tanpa suara. Sepatu kami tak berjejak dan jari-jari kami tak bersidik. Tak seorang pun yang menyadari kehadiran kami dan kami seolah menguap begitu saja beserta sejumlah informasi rahasia. Kami adalah tikus. Tikus dengan sederetan angka. Kami tersebar di mana-mana. Di perkampungan yang paling kumuh hingga gedung yang paling mewah. Dari ceruk karang di tengah laut hingga celah dalam tebing yang paling tinggi. Di rumah sahaja seorang petani di pinggir desa hingga apartemen mewah seorang foto model di tengah kota. Kami licin dan pintar berkelit. Kami dapat meloloskan diri lebih cepat dari musang yang berlari. Kami sanggup mengingat sederetan kode asing dalam benak kami tanpa boleh menuliskannya selama berhari-hari. Kami sanggup tidur dengan mata terbuka lebar. Kami terus bekerja dan bekerja.

Segala yang ada di Timur telah digunakan untuk memeras kami. Aku telah meninggalkan kekasih yang kucintai, dengan janji kembali yang tak pernah kutepati. Bahkan aku tak pernah bisa mengingat wajahnya dengan jelas. Kenapa aku mampu mengingat itu semua sedangkan wajah orang yang kucintai tampak begitu samar-samar? Aku bahkan tak mampu mengingat siapa diriku sebenarnya. Pantulan wajahku pada cermin di pagi hari tampak begitu asing.

Sahabatku separo rela meninggalkan rumahnya di Timur, dengan harapan tidak ada yang mengganggu adik perempuannya selama ia mau berkerja sama. Ia, aku, dan ribuan tikus lainnya, bergiliran menyeberangi tembok dingin, dengan impian dapat memberi kehidupan yang lebih baik. Dengan secuil harapan untuk dapat menikmati udara yang lebih baik dan tidur yang lebih lelap di malam hari.

Tapi tembok itu kemudian runtuh. Semuanya berubah. Kami bukan tikus lagi. Tak ada alasan lagi untuk terikat pada Timur. Semua bersuka cita. Kami bebas. Seharusnya kami bergembira. Tapi kami terkejut. Kami berlarian kocar-kacir di bawah matahari. Kami diburu. Isi kepala kami menjadi sangat berharga. Mereka menjatuhkan kami dari ketinggian dengan harapan kepala kami akan pecah terburai. Mereka menabrak kami di tengah kegelapan malam dan melindas tubuh kami begitu saja. Bagi kami yang tertangkap hidup-hidup, mereka lantas mencoba membuka batok kepala kami dan mengorek-ngorek isinya. Mereka menjepit lidah kami dan berharap kami menyebutkan nama. Mereka menyetrum kemaluan kami dan memaksa kami menuliskan angka. Sisa-sisa dari kami yang ada di luar mencoba bertahan. Perlahan, kami akan dibiarkan mati sia-sia. Kami tak mampu lagi menggigit dan mengerat. Kami hanya mampu bertahan hidup dengan mengais dalam terang. Mengais dan terus mengais.

Kami begitu ingin menghilangkan masa lalu kami. Kami ingin melenyapkan sederetan angka di lengan dan membuang sebagian isi otak kami. Aku ingat, suatu ketika di musim dingin, sahabatku membujukku untuk menempelkan batang besi yang telah dipanaskan di perapian hingga merah membara ke lengan kirinya. Aku melakukannya dengan satu gerakan cepat dan erangan suaranya terdengar begitu miris memilukan. Ia kemudian melakukan hal yang sama terhadapku dan itu membuatku sadar, betapa kami ternyata sudah begitu tua. Sederetan angka menghilang dan digantikan bekas luka yang melepuh. Namun kami tetap tak menemukan cara untuk membuang sebagian isi kepala kami.

Aku menenggak habis minumanku dalam sekali teguk. Badanku sudah terasa lebih hangat. Jika tembok itu tidak hancur, pria itu masih hidup sampai sekarang. Dan aku tidak kehilangan seorang sahabat hari ini.
***

GERIMIS mulai turun lagi dan aku bangkit untuk menutup jendela. Senja mulai turun dan bersembunyi di balik gedung-gedung tinggi. Aku harus ke flat temanku, mencari sesuatu yang dapat menghubungkan aku dengan adik perempuannya. Aku turun dan melangkah keluar ke jalanan. Sepasang kekasih yang lewat berhenti sebentar untuk berciuman di bawah temaramnya sisa-sisa senja. Aku terus berjalan melintasi perkampungan yang padat, dengan gang-gang yang sempit dan air bekas cucian yang merembes ke jalanan. Hari sudah gelap dan gerimis seolah-olah hanya terjadi di bawah sorotan lampu jalanan ketika aku sampai di depan gedung flat sahabatku. Aku hendak melangkah masuk ketika seorang pria bergegas keluar dari gedung tersebut. Ia berhenti dan menatapku lama. Di tangannya ada sebuah buku kecil hitam yang selama ini kukenal sebagai buku catatan pribadi sahabatku. Kami saling berpandangan dan tiba-tiba aku merasa tubuhku gemetaran. Tanpa sadar tangan kananku merayapi lengan kiriku. Mata pria itu terlihat murung, tapi ia terus menatapku. Ia mengacungkan payung yang ada di tangan satunya ke hadapanku dan…

SSssshhh…

Sesuatu menyembur dari ujung payung dan mengenai wajahku. Dan sebelum tubuhku ambruk menyentuh tanah, hidungku mencium bau buah persik. Bau yang menyelimuti kematian sahabatku dan kematianku sendiri. (*)

Surabaya, 14 Oktober 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *