KEBERPIHAKAN DAN NETRALITAS

Peluncuran dan Diskusi Buku Antologi Cerpen Hingga Batu Bicara Jakarta, Perpustakaan Nasional, 8 Desember 1999

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sastra pada hakikatnya merupakan refleksi pengalaman. Pengejawantahannya sa-ngat mungkin berdasarkan pengalaman lahiriah (sensation) atau pengalaman batiniah (re-flexion). Dalam bahasa yang lebih umum, pengalaman itu mungkin saja berdasarkan peng-alaman objektif semata-mata atau mungkin juga terpaksa harus diperkaya dengan pengalam-an imajinatif dan pengalaman intelektual.

Satu pengalaman lagi yang tidak jarang menggelisahkan para pengarang adalah pe-ngalaman religius (mitis). Para penyair sufi, umumnya merefleksikan pengalaman dan pere-nungan religiusitasnya lewat tembang-tembang puitik (puisi sufistik). Demikianlah, sastra bisa menampilkan salah satu dari pengalaman itu atau sekaligus mengungkapkan semua pengalamanan tersebut.

Semua pengungkapan itu, bagi sastra niscaya merupakan hal yang sah-sah saja, ber-gantung pada tuntutan karya itu sendiri. Perjalanan ke Akherat, Djamil Suherman atau Javid Namah, Mohammad Iqbal tentu bukanlah berdasarkan pengalaman objektif pengarangnya, karena mustahil Djamil pernah merasakan kematian dan bergentayangan di alam kubur, sama halnya dengan Iqbal yang tidak mungkin pernah menggelandang dari planet yang satu ke planet yang lain dan berdialog dengan para tokoh yang sudah sekian lama meninggal dunia. Cerpen-cerpen Danarto sebagian besar cenderung merupakan perpaduan dari pengalaman imajinatif dan pengalaman religiusitasnya. Mengingat imajinasi terbebas dari ruang dan wak-tu dan religi atau masalah-masalah keimanan sering kali tidak memerlukan logika, maka yang kita jumpai adalah dunia jungkir balik.

John Steinbeck, Ernst Hemingway, Pearl S. Buck atau Pramoedya Ananta Toer dan Umar Kayam adalah para pengarang yang mengandalkan pengalaman objektif sama pentingnya dengan pengalaman intelektual. Wawasan pengetahuan menjadi sama penting dengan observasi dan pencermatan atas objek yang hendak diangkat dalam karya sastra. Boleh dikatakan, hampir semua pengarang besar, sama sekali tidak mengandalkan bakat alam. Mereka senantiasa menyerap dan mengembangkan gagasannya lewat pengetahuan. Intelektualitas menjadi sumber kekayaan gagasan dan daya hidup kepengarangannya. Hanya dengan itu, mereka tidak cepat kehabisan ide, bahkan selalu memperbarui karyanya dengan gagasan baru dan tema yang lebih problematik.
***

Antologi cerpen Hingga Batu Bicara karya tiga Srikandi muda ?Helvy Tiana Rosa (enam cerpen), Maimon Herawati (empat cerpen), dan Setiawati Intan Savitri (tiga cerpen), sungguh memperlihatkan keseriusan mereka dalam menempatkan intelektualitas sebagai ba-gian penting dalam karyanya. Sikap ini merupakan modal besar yang niscaya akan mencebur-kan mereka pada kekayaan gagasan, konflik-konflik problematik, dan keanekaragaman tema; tentu juga dengan berbagai aspeknya.

Dari satu sisi, pilihan ketiga cerpenis itu atas persoalan yang dihadapi bangsa Pa-lestina ?seperti tersurat dalam subjudul antologi cerpen ini ?Kumpulan Cerpen Palestina? misalnya, menuntut ketiganya untuk meluaskan wawasannya mengenai berbagai persoalan yang bersangkut-paut dengan negeri itu. Dalam beberapa hal, seperti perjuangan gerakan intifadah, spionase Zionis Israel, penyerangan lewat bom diri, dan beberapa istilah asing (Inggris, Arab, Perancis) dan teknis (je ne te quite jamais, Izzudin Al Qossam, Al, Katsa, Bodel, Sayan, Unit Kidon, safe house, dll.), memperlihatkan kesungguhan yang mengagum-kan akan usaha mereka dalam mengangkat tema Palestina. Tanpa kerja keras, mustahil mereka memahami ?atau sedikitnya mengerti? konteks istilah-istilah tersebut.

Jika dikatakan dalam penutup buku antologi ini, bahwa ?buku ini adalah buku sastra pertama tentang Palestina yang ditulis oleh pengarang Indonesia,? memang demikianlah adanya. Secara tematis, ia telah ikut memperkaya tema khazanah kesusastraan Indonesia. Meskipun demikian, tidak elok pula jika kita mengabaikan aspek lain dalam konteks estetika kesastraan. Tema besar atau tema apapun niscaya hanya sekadar menambah ?kosa kata? jika ia tidak menjadi sebuah monumen. Artinya, dalam estetika kesastraan, tema bukanlah segala-galanya. Dalam hal ini, kunci berhasil-tidaknya pengangkatan sebuah tema, jelas sangat ber-gantung pada bagaimana pengarang menggarapnya. Sebagai cerpenis muda, persoalan peng-garapan inilah yang agaknya perlu pembenahan.
***

Helvy Tiana Rosa menampilkan enam cerpen. Dari keenam cerpen itu, cerpen perta-ma, ?Hingga Batu Bicara? yang kemudian menjadi judul antologi ini, terkesan lebih matang. Boleh jadi hal itu disebabkan oleh penggunaan bentuk pencerita ?Aku? yang menjadi tentara Israel, sehingga kutukan terhadap Israel terpaksa harus melalui tokoh Aku tadi. Meski begi-tu, peristiwa mimpi yang dialami tokoh Aku ?yang mengingatkan pada cerpen Fudoli Zaini, ?Batu-Batu Setan?? secara tersirat masih memperlihatkan kuatnya keberpihakan pengarang. Demikian juga ketika tokoh Aku menggambarkan apa yang telah dilakukan ayahnya sendiri. Perhatikan kutipan berikut:

Ya, aku menyaksikan sendiri! Ayahku telah membunuh ayah gadis itu! Teman-teman ayahku menelanjangi sebelum membunuh ibunya dengan keji, hngga darah bercipratan di mana-mana dan tentara yang lain mengobrak-abrik tempat ini dengan bengis.

Selepas cerpen ini, kita akan melihat tokoh-tokoh yang secara dikotomis berdiri pada dua kutub yang berbeda; pejuang PLO ?Hamas? dengan citra yang begitu positif dan tentara Israel (Zionis) dengan citra yang sangat negatif. Pertentangan dua kutub inilah yang mendominasi keseluruhan antologi cerpen ini.

Sebagai sebuah antologi cerpen yang digarap dengan tuntutan keluasan wawasan ?intetelektualitas? sikap keberpihakan pengarang, mestinya tetap dinyatakan dalam kerangka objektivitas. Pernyataan yang bersifat personal, sebenarnya dapat saja diungkapkan dalam bentuk impersonal.

Dalam hal ini, betapapun sastra merupakan karya subjektif pengarang, gambaran du-nia yang diciptakannya, mungkin saja justru sebaliknya. Jadi, simpati atau antipati, bisa saja digambarkan secara sebaliknya. Sayangnya itu tidak terjadi dalam antologi cerpen ini. Aki-batnya, tokoh-tokoh hadir secara karikaturis; hitam-putih. Jika ada perubahan karakter se-perti yang terjadi pada diri tokoh Zahwa atau Kareem dalam cerpen ?Je Ne te Quite Jamais, Palestine? karya Helvy Tiana Rosa atau tokoh Michael Benyamin (Ben) dalam cerpen ?Operasi Laut Tengah? karya Setiawati Intan Savitri, perubahannya digambarkan tanpa me-lalui proses yang meyakinkan.

Untuk membangun sebuah citra ?positif atau negatif? dengan menampilkan tokoh hitam-putih dalam karya populer atau noevl terbitan Balai Pustaka sebelum merdeka, dalam banyak hal memang efektif. Tetapi dalam kondisi sekarang, apakah cara demikian masih diperlukan. Dalam cerpen ?Bara Shafiyah? atau secara mencolok dalam cerpen ?Zainab dan Kucing-Kuncingnya? misalnya, kita disuguhi heroisme para pejuang Hamas di satu sisi, dan kepengcutan dan kedunguan tentara Israel di pihak lain. Akibatnya, kucing pun bisa begitu pintar dan mampu mengalahkan tentara Israel. Apakah cara penggambaran demikian justru malah mengganggu? Apa memang demikian faktanya?

Kasus yang sama juga terjadi pada cerpen ?Kadet 13? karya Setiawati Intan Savitri. Awal cerita yang tertata rapi dengan trik-trik spionase yang sering dijadikan salah satu kekuatan cerita detektif, terkesan dipaksakan pada akhir cerita ketika bom sudah dipasang dalam Kabah. Kegagalam dalam operasi yang digambarkan dalam cerpen itu memang sah-sah saja. Begitu juga pesan pengarang yang hendak menggambarkan turunnya ?tangan Tuhan? adalah bagian dari licentia poetica. Dalam peristiwa apapun dalam kehidupan yang sebenarnya, tangan Tuhan sangat mungkin terlibat. Tetapi persoalannya bukanlah terletak di sana. Cerpen ini ?dan secara keseluruhan cerpen-cerpen dalam antologi ini? telah memilih genre yang menuntut berlakunya logika formal. Maka menjadi tidak logis ketika ada peris-tiwa irasional memasuki wilayah itu.

Cerpen ?Antara Depok dan Tepi Barat? karya Maimon Herawati, juga memperlihat-kan kasus yang lain lagi. Kontras yang diperlihatkan antara para pemuda pejuang Hamas dan beberapa mahasiswa yang tinggal di Depok, terkesan hendak menyelusupkan kritik sosial atas perilaku brengsek mahasiswa teler. Tetapi kritik sosial itu seolah-olah jadi mubazir, karena titik berat fokus pencerita adalah Palestina. Akibatnya, kritik sosial itu jadi menyeru-pai tempelan belaka. Dengan demikian, jika gambaran kritik sosial itu dihilangkan, ia sama sekali tidak mengganggu keseluruhan cerpen itu.
***

Mesti diakui, bahwa kecenderungan cerpenis muda adalah adanya godaan emosional untuk berpihak pada tokoh-tokoh yang digambarkannya. Dalam antologi cerpen ini pun, ketiga Srikandi juga tergelincir pada godaan itu. Di sini, netralitas pengarang menjadi pen-ting justru untuk menyembunyikan sikapnya; keberpihakannya. Dalam hal yang menyangkut netralitas, Seno Gumira Ajidarma agaknya sangat piawai, meski sesungguhnya kita (pemba-ca) digiring untuk berpihak. Dalam konteks ini, penyelimutan sikap dan keberpihakan penga-rang, ditandai dengan lepasnya keikutcampuran pengarang dalam cerita. Seno seolah-olah sekadar menyajikan sebuah potret buram, dan kita (pembaca) tanpa sadar telah diajak untuk tidak menyukai potret itu.

Cara lain untuk menggiring pembaca pada pemihakan, bisa saja dilakukan dengan ca-ra penggambaran yang tragikal atau paradoksal. Ahmad Tohari, misalnya, acapkali menyaji-kan ironi yang tragis. Penggambaran wong cilik dengan akhir yang tragis, justru malah mem-buat kita jadi simpati terhadap nasib wong cilik. Joni Ariadinata yang memperdayakan para gelandangan, gembel, anak-anak jalanan, dan orang-orang ternista, justru bermaksud me-nampar kepongahan orang-orang berada.
***

Terlepas dari sejumlah catatan kecil itu, Hingga Batu Bicara secara meyakinkan memperlihatkan potensi besar pada diri ketiga cerpenis wanita itu. Jika cara pengolahan yang mengandalkan wawasan ini terus dipertahankan, ada beberapa kemungkinan yang dapat dibangun oleh ketiganya itu.

Pertama, memasuki wilayah cerita detektif. Tidak dapat lain, mereka mesti paling tidak mencermati karya-karya Sherlock Holmes dan Agatha Christie. Meskipun sudah ada S. Mara Gd yang menghasilkan novel-novel mirip karya Agatha Christie, ketiga Srikandi cerpenis ini, masih punya kemungkinan plus dalam hal keseriusannya meluaskan wawasan pengetahuannya.

Kedua, memasuki wilayah sciene fiction sebagaimana yang dilakukan HG Wells dalam The Time Machine, Aldous Huxley dalam Brave New World atau Clive Cartmill dalam Deadline. Di Indonesia, karya-karya jenis itu sejauh pengamatan, belum ada. Oleh karena itu, patutlah bidang ini menjadi bahan pertimbangan.

Ketiga, memasuki wilayah novel politik. Dua novel George Orwell, yaitu 1984 dan Animals Farm merupakan contoh yang baik, bagaimana kebencian terhadap ideologi ter-tentu (komunisme) digambarkan secara simbolik (Animals Farm) dan mengerikan (1984). Jadi, jika ketiga cerpenis ini begitu benci terhadap Zionis Israel, mereka tidak perlu melon-tarkan caci-maki, tetapi cukup dengan penggambaran bagaimana jika dunia ini dikuasai oleh Zionis Israel, dan apa saja akibat-akibat yang ditumbulkannya.

Demikianlah, catatan kecil ini tidaklah dimaksudkan sebagai utopia atau memberi pengharapan yang berlebihan. Jika ketiga cerpenis ini tetap konsisten dan serius menggarap bidang ini, bukan tidak mungkin dari tangan mereka akan lahir karya monumental. Antologi Hingga Batu Bicara, sungguh telah memperlihatkan adanya potensi ke arah sana. Sebalik-nya, jika mereka cukup puas dengan karya ini, maka karya-karya berikutnya sangat mungkin sekadar menambah kosa kata dan tidak menjadi sebuah monumen. Kini, persoalannya tinggal memilih. Menyitir sebuah iklan pewangi: Kesan pertama sungguh menggoda, setelah itu terserah Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *