Malam Menggelepar di Tanjungkarang

Alex R. Nainggolan
http://www.suarakarya-online.com/

Udara dingin malam jatuh semaput merajut tubuh Pedro. Ia merasa nyerinya menusuk sampai ke tulang, barangkali kemarau telah sampai di akhir Juni ini. Tapi ia tetap saja berjalan, menelusuri jalan Tanjungkarang yang sebenarnya sudah akrab baginya. Ia ingin menuntaskan sesuatu, di kepalanya telah lama bertungkai pelbagai rencana: mungkin ke tempat hiburan malam, menenggak bergelas-gelas bir, mencari perempuan yang bisa menemaninya sebentar, atau bila segalanya tak satu pun yang terpenuhi, ia akan melamun sendiri, berdiam di dalam sunyi, menyimak kota Tanjungkarang yang dibalut warna-warni cahaya lampuan.

Ia melihat di ujung jalan, malam menggelepar, sepertinya semakin sunyi, barangkali siap-siap untuk masuk ke peraduan, ke dalam tidur yang panjang.

Ia masih saja berjalan. Mobil yang dikendarainya terus saja melaju, membelah udara. Ia merasa angin masih saja menampar dirinya, menelusup lewat jendela, yang tak bisa disingkirkan. Ia teringat pada kekasihnya yang baru saja menangis. Ya, beberapa jam lalu, ia baru saja bertengkar dengannya. Hanya karena ia tak menjemputnya pulang kemarin malam.

“Sialan! Benar-benar lucu, masak karena hal semacam itu saja ia menangis. Cengeng betul perempuan itu,” umpatnya.

Ia tak paham, mengapa perempuan selalu saja berminat untuk diperhatikan yang berlebih. Hal lain yang membuat dirinya makin bingung, bila ini merupakan pertengkaran yang paling besar terjadi. Barangkali memang perempuan seperti sebuah teka-teki, sebagaimana percakapan yang didengarnya dalam film Biola Tak Berdawai.

Acapkali cinta hadir dengan berbagai kemungkinan yang tak bisa diterka dengan lugas. Sebuah getar yang ajaib, yang bisa menyedot atau sekadar menelantarkan. Terkadang lewat cinta, keajaiban datang tak terduga, seperti rajutan temali yang mengikat dua insan untuk terus bersama. Seakan-akan menawarkan kenangan tersendiri.

Kini ia berkelana, memasuki ruang-ruang sesak di dalam kota. ia menghisap sebatang tembakau, menghembuskannya ke luar jendela. Suara radio di dalam mobil sayup-sayup sampai, membuatnya tak lagi menyimak alunan lagu secara penuh. Dan udara dingin malam terus saja menjulur, seperti lidah yang sebeku es tengah menjilat beberapa bagian tubuhnya. Ia ingin memutar setir mobil ke arah taman kota, atau ke daerah pantai, mungkin akan ditemukan perempuan-perempuan muda yang menawarkan kehangatan tubuhnya. Tetapi urung, akhirnya ia cuma bisa berjalan ke arah bundaran gajah saja. ia membayangkan patung gajah-gajah itu benar-bermain bola di tengah kota. Saling membagi bola dengan belalainya. Ia melihat kiri-kanan jalan yang lengang, sudah pukul setengah dua belas malam saat itu. Ia merasa kota ini semakin malam, semakin mati.

Ingatannya mengembara ke Jakarta sewaktu liburan kemarin, di sana berbeda, pikirnya, makin malam, makin liar *). Jakarta selalu saja hidup, biarpun di saat malam. Ah, mungkin ini hanya perasaan dirinya saja, pikirnya. Ia membuang puntung rokok itu, masih bersinar, dan berpijar dengan nyala merahnya saat jatuh ke atas aspal hitam. Lagi-lagi, ditemukan malam semakin menggelepar. Ia jadi makin bimbang. Ia melihat malam jadi seorang raksasa, yang sedang duduk di antara cakrawala, jubahnya yang hitam itu berumbai, dan menutupi seluruh langit. Tetapi raksasa itu menggelepar, diam, tak bersuara.

Pikirannya tiba-tiba dikejutkan oleh klakson mobil dari belakang. “Hei, cepat! Jangan melamun kalau nyetir mobil!” umpat orang di dalamnya. Aneh, padahal sebelumnya ia tak melihat mobil di belakang lewat kaca spion. Ia menepi ke kiri, dan membiarkan mobil di belakang untuyk melewatinya. Sepintas ia sempat melirik dari bening kaca, wajah orang yang mengemudi mobil tersebut. Masih muda, sepantaran dirinya, dan barangkali kesepian sama seperti dirinya, baru saja berselisih dengan kekasihnya. Kemudian, mengendarai mobil malam-malam begini melintasi Tanjungkarang. Ya sama seperti dirinya, terkadang kesepian begitu menyakitkan.

Ia melintasi Jalan Diponegoro, melewati rumah-rumah yang dengan ukuran lumayan besar. Kembali ia dihadapkan kenangan pada kekasihnya yang kembali berdenyar. Meski baru saja ia menemui dirinya yang tengah hambar. Sungguh, sebetulnya ia seorang lelaki yang tak tahan melihat air mata jatuh dari kelopak mata perempuan. Ia kembali menakar-nakar, berapa lama mereka menjalin hubungan, adakah sesuatu yang tak lengkap ditemui pada diri perempuan itu? Bagaimana orang bisa mengenal orang lain? Seberapa lama? Ia menghitung waktu, ia seperti melihat hari-hari sempit menjelma jadi parit yang terus mengalir. Tanggalan berganti, pagi kembali datang, matahari datang menagih janji. Ia melihat kelebat tahun yang berulangan, seperti pembakaran besar, api unggun, tetapi ia tak mendapatkan apa-apa. Sedangkan ia merasa dirinya tinggal abu dan arang. Hitam dan berlalu.

Ia seperti ingin menggambar lagi hitamnya malam. Tetapi tetap saja ia bertemu pada wajah kekasihnya yang ditinggalkannya tadi, menangis sendirian. Malam mendadak jadi lebar di matanya, serpihan peristiwa pelan-pelan datang, bagaimana mereka tertawa bersama, bercakap-cakap, dan bercumbu. Ia merasa udara dingin malam yang masuk ke celah jendela, melemparkannya pada bau parfum yang kerap digunakan kekasihnya. Mendadak matanya berkaca, ada rindu yang menyergap tanpa ia pahami dari mana datangnya. Padahal malam masih seperti raksasa besar dengan jubah hitamnya yang memeluk langit, tertidur dengan pulas.
***

Pedro bertemu dengan perempuan itu pada akhir bulan Juni, dua tahun yang lalu. Pertemuan yang ganjil di sebuah acara konser musik, kebetulan perempuan itu bersebelahan dengannya. Saat lagu mengalun dibawakan oleh penyanyinya, mereka berdua bersenandung, sesekali melirik, dan menukik ke dalam kehangatan bola mata. Ya bola mata adalah sihir yang memukau. Sebuah dunia pertama di mana manusia membaca orang lain.

Maka dunia mereka berdua berubah. Kemana-mana berdua, duduk berdua di kafe lama-lama. “Aku sudah malas mencari hubungan dengan orang lain. Lebih baik memperbaiki hubungan dengan seseorang yang dicintai saat ini, ketimbang berpisah,” ucap si-perempuan di suatu waktu.

Memang, di antara mereka berdua memiliki kesamaan. Dalam bidang apapun, sehingga tak ada yang patut direwelkan, perselisihan antara mereka juga jarang terjadi. Paling-paling kalau sudah begitu, esok harinya mereka akan bercanda lagi, saling berbagi cerita, dan tertawa bersama. Tetapi ini lain, Pedro seperti tak lagi mengenali kekasihnya itu. Ia merasa ini pertengkaran yang terhebat yang ditemui. Ia menebak, sehabis ini hubungan mereka akan berakhir. Sama seperti ajang kampanye yang berakhir setelah sesumbar janji berlalu, setelah pemilu dilaksanakan. Baru kali ini, Pedro melihat kekasihnya menangis. Air mata itu seperti tak patut mengalir dari pelupuk mata yang indah. Semestinya tak terjadi! Air mata yang membuat batinnya bergetar. Di mata itu pertama kali Pedro kepincut dengan bola matanya, semestinya tak begitu! Seharusnya bukan air mata yang menetes di situ, yang membuat diri perempuan itu tak lagi cantik.
***

Jalanan makin legam. Malam makin menggelepar. Pedro merasa ia mesti menghubungi ponsel kekasihnya, meminta maaf, kemudian ia memutar mobil ke arah rumah kekasihnya. Ia masih sempat mengingat-ingat, keinginannya tadi, ke tempat hiburan malam, menenggak bergelas-gelas bir, mencari perempuan yang bisa menemaninya sebentar. Ia hardik pikiran itu sambil setengah mengumpat, “Aku akan berusaha setia padamu!” Malam masih saja menggelepar di Tanjungkarang, seperti menggelar pelbagai kemungkinan.

Bandarlampung, Juni 2004

Catatan: *) diambil dari judul lagu Flowers.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *