‘Menyatukan’ Nusantara dalam Pesta Sastra

Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika

Salah satu keputusan penting dan paling strategis dari International Poetry Gathering dalam Pesta Penyair Nusantara 2008 di Kediri, awal Juli 2008 lalu, adalah diteruskannya iven tersebut sebagai forum tahunan para penyair di Nusantara — Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand dan Filipina.

Keputusan tersebut sangat strategis, karena dapat ‘menyatukan’ para penyair — dan pecinta sastra — se Nusantara dalam semangat bersastra yang sama, yakni membangun peradaban masyarakat yang maju, moderat, adil, demokratis, religius, dan berjati diri, lewat sastra.

“Kami, wakil dari Malaysia sepakat untuk meneruskan iven ini sebagai tradisi tahunan, karena dalam iven ini sastrawan Indonesia dan Malaysia dapat bersatu untuk bersama-sama membangun peradaban Nusantara, tanpa terpengaruh persoalan politik dan konflik kepentingan,” kata SM Zakir, Sekjen Persatuan Penulis Nasional Malaysia (PENA), yang menjadi salah satu panelis gathering tersebut.

Sejak pertama kali diadakan di Medan — oleh Laboratirium Sastra Medan serta Dinas Kebudayaan dan Priwisata Medan — tahun 2007, gathering menjadi mata acara terpenting pesta sastra tersebut, selain seminar internasional, workshop proses kreatif, dan panggung baca puisi para penyair Nusantara.

Tahun lalu, Pesta Penyair Indonesia Medan 2007 sempena The 1st Medan International Poetry Gathering telah menetapkan iven ini sebagai forum (wadah) bersama para penyair Nusantara, dan akan diselenggarakan setahun sekali secara bergilir di daerah-daerah serta negara asal para peserta.

Dalam gathering di Medan itu pula nama pesta penyair ini disempurnakan menjadi Pesta Penyair Nusantara …, The … International Poetry Gathering. Tanda titik-titik (…) diisi tahun pelaksanaan, dan kali keberapa serta di kota mana iven tersebut diselenggarakan.

Sehingga, di Kediri, nama iven ini menjadi Pesta Penyair Nusantara 2008, sempena The 2nd Kediri International Poetry Gathering. Dan, tahun depan, akan menjadi Pesta Penyair Nusantara 2009, sempana The 3nd Kualalumpur International Poetry Gathering, karena telah disepakati tahun depan akan diadakan di ibukota negeri jiran, Malaysia.

Sejarah
Dengan kesepakatan strategis tersebut, berarti Kediri telah ikut mencatatkan sejarah penting atas tradisi tersebut, dan berjasa ikut mempertahankannya.

Karena, dengan ‘Kesepakatan Kediri’ itu, tradisi tahunan tersebut dapat terus bergulir untuk mencari bentuknya yang makin sempurna dan memberikan manfaat yang makin besar bagi tradisi kreatif dan kehidupan sastra di Nusantara.

Maka, impaslah sudah, jerih payah ketua panitia pelaksana Khoirul Anwar yang tetap bertekad melaksanakan pesta sastra tersebut sesuai rencana, meskipun sempat mengalami kecelakaan yang fatal dan masih harus memakai tongkat sampai acara tersebut selesai, serta sempat menghadapi kesulitan berat dalam mencari dana untuk biaya acara.

Juga tidak dapat dilupakan kerja keras Jack Ponadi Efendi Santoso sebagai sekretaris panitia, Subardi Agan sebagai editor dan pembantu utama di balik layar, serta Sarah Serena selaku anggota panitia ad hoc yang rela hijrah sementara dari Jakarta ke Kediri meski masih pengantin baru.

Meskipun terkesan kurang perfect dalam memanaj acara dan sempat mengecewakan beberapa peserta, penghargaan yang setimpal tetap patut diberikan atas tekad, ketabahan dan kerja keras Khoirul Anwar dan kawan-kawannya tersebut. Tentu, juga penghargaan kepada pihak-pihak yang akhirnya membantu pelaksanaan pesta sastra tersebut, seperti walikota Kediri, bupati Kediri, rektor Unik (Universitas Kediri — bukan Universitas Islam Kediri), direktur DohoTV, sejumlah anggota DPRD Kediri, serta berbagai pihak lain yang turut menyukseskan acara tersebut.

Penghargaan yang tinggi patut pula diberikan kepada para pembicara seminar dan workshop, pembaca puisi, anggota tim adviser dan ad hoc, serta para peserta dari berbagai daerah dan negara tetangga di Nusantara, yang tetap bersemangat untuk hadir meski harus membiayai perjalannya ke Kediri dengan isi dompet sendiri atau harus meminta bantuan dana dari sana sini atas upayanya sendiri.

Memang masih begitulah realitas kehidupan sastra di Nusantara, khususnya Indonesia. Iven-iven penting sastra masih sulit untuk mendapatkan sponsor dan pendanaan yang cukup dari pemerintah, sehingga harus dilaksanakan secara bergotong-royong — susah-senang dipikul bersama oleh para sastrawan, penyair, apresian, dan mereka yang terlibat di dalamnya.

Karena itu, tidak berlebihan jika mereka disebut sebagai para ‘pejuang sastra’ yang dedikasi dan semangat juangnya untuk ikut membangun peradaban bangsa lewat sastra lebih tinggi dibanding pejabat negara, pegawai negeri dan angkatan bersenjata. Mereka bukan saja para pahlawan tanpa tanda jasa, tapi juga tanpa gaji bulanan.

Maka, sampai bertemu lagi di Kuala Lumpur tahun 2009, hai para pejuang sastra! Dalam sastra kita bersatu, bersama, serasa dan sejiwa!( )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *