Merantau dalam Ruang dan Waktu

Judul buku : Perantau
Pengarang : Gus tf Sakai
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Maret 2007
Peresensi : M. Arman A.Z.
http://www.lampungpost.com/

Di beberapa daerah di negeri ini, merantau adalah tradisi, umumnya bagi kaum lelaki. Jika dulu merantau dilatarbelakangi sejumlah alasan (melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, menimba pengalaman, mencari kerja, dan sebagainya), sekarang merantau lebih identik dengan faktor ekonomi.

Merantau, ditilik dari konteks sosial geografis saat ini, bukan lagi proses perpindahan seseorang dari kampung halaman (desa) ke tempat lain (kota), dari tempat kering ke tempat yang lebih menjanjikan. Merantau bahkan sudah melampaui batas ekonomi dan politik. Sempitnya lapangan pekerjaan memaksa banyak warga Indonesia merantau ke negara lain dengan cara legal maupun ilegal.

Para perantau itu tentu saja tak bisa disalahkan. Adalah kewajiban mereka mencari nafkah untuk keluarga. Adalah hak mereka untuk berusaha mendapatkan kehidupan yang lebih baik bila tak ada lagi yang bisa diharapkan di kampung halaman. Peribahasa “hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang” sudah mereka buang ke tong sampah.

Merantau tak lagi identik sebagai urusan pria. Kaum wanita pun kini berbondong-bondong merantau ke daerah lain bahkan ke luar negeri. Bahkan bisa jadi jumlahnya melebihi jumlah perantau pria. Pilihan mereka, para perantau itu, hanya dua: bernasib mujur atau jadi bulan-bulanan di negeri orang.

Mujur bagi mereka yang bisa bekerja di sektor informal (buruh pabrik, pembantu rumah tangga, atau buruh perkebunan). Sementara bagi mereka yang bernasib malang, sudah kerap kita saksikan di berbagai media massa. Di tipu penyalur tenaga kerja, dikejar-kejar aparat, disiksa majikan, dijebloskan ke tempat pelacuran, diperkosa hingga melahirkan anak, atau pulang dalam peti mati.

Di lain sisi, para pejabat negeri ini, dengan bangga dan tanpa rasa malu mengakui bahwa TKI atau TKW adalah salah satu penghasil devisa terbesar negeri ini. Betapa…

Namun, apakah hakikat merantau itu sendiri? Sesungguhnya, di tengah pertarungan menyambung nasib, jauh di palung batin para perantau itu, ada ruang hampa yang sekali waktu dihembus angin rindu dan kenangan pada kampung halaman, pada tanah kelahiran, pada negeri (yang konon) gemah ripah loh jinawi. Berharap bisa pulang ketika hari raya atau setelah kontrak kerja selesai. Bersua kembali dengan keluarga, menjenguk sanak famili dan tetangga. Mengenang masa kanak-kanak yang riang dan bebas masalah. Menikmati suasana kekeluargaan dalam arti sesungguhnya.

“Perantau” pula yang menjadi judul kumpulan cerpen terbaru Gus tf Sakai, sebuah nama yang sudah familiar dalam ranah sastra mutakhir negeri ini. Karya-karyanya selain tersebar di berbagai media massa dan antologi, juga diabadikan dalam sejumlah buku, antara lain Istana Ketirisan (1996), Sangkar Daging (1997), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), Laba-Laba (2003), Tambo, Sebuah Pertemuan (2000), Daging Akar, Ular Keempat.

Ada yang unik dari sastrawan kelahiran Payakumbuh, 13 Agustus 1965 ini. Selain sosoknya yang mudah dikenali (kepala plontos bertopi, kacamata, dan kumis tipis), dia “membelah diri” saat memublikasikan karyanya. Memakai nama Gus tf untuk karya puisi, dan Gus tf Sakai untuk karya prosa. Sementara mungkin tak banyak yang tahu nama aslinya.

Gus tf Sakai, di sebuah media massa nasional beberapa tahun silam, pernah berpendapat bahwa arti penting dari sastra adalah “melintas”. Sastra bisa mempertemukan manusia dan berbagai macam kompleksitas perbedaannya. Sastra juga bisa mempertemukan beragam bidang, seperti sains, sejarah, psikologi, atau filsafat, karena kemampuannya dalam melintas.

Hanya dengan kemampuan melintaslah, sastra bisa menciptakan sebuah dunia di mana setiap kali membacanya, kita terengkuh semakin dalam lalu mempertanyakan kembali eksistensi kita sebagai manusia.

Pendapat Gus tf Sakai itu tercermin dalam mayoritas cerpen-cerpennya, termasuk yang ada dalam kumpulan cerpen Perantau ini. Gus tf Sakai merekam berbagai aspek kehidupan (sosial, politik, iptek, mitos, fakta atau kejadian sehari-hari, dll.) yang mungkin melintasi panca inderanya, kemudian mengambil jarak dari semua aspek itu, sebelum menuangkannya ke dalam teks sastra (cerpen) dengan sudut pandang, pemaknaan, dan penafsiran yang telah berbeda.

Pada beberapa cerpen dalam Perantau ini, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan seksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas”, mengungkapkan kritik atau sindirian kepada pemerintah pusat yang mengeksploitasi kekayaan daerah. Cerpen ini seakan mengingatkan pembacanya bahwa bukan pada era Orde Baru saja hasil-hasil kekayaan daerah disetor ke pusat (Jakarta). Hal serupa terjadi sejak era Orde Lama, bahkan zaman kerajaan dahulu kala.

Dunia pendidikan tak lepas dari proses “melintas” Gus tf Sakai. Jika belakangan ini, lewat berbagai media massa, kita di buat terhenyak dengan segala macam problematika dalam dunia pendidikan (biaya sekolah mahal, pelajar bunuh diri, tawuran, gedung sekolah mirip kandang sapi, penyelewengan dana pendidikan), maka dalam cerpen “Kami Lepas Anak Kami” Gus tf Sakai menangkap fenomena lain yang mungkin luput dari pengamatan masyarakat, yaitu mengenai kurikulum pendidikan yang diterapkan di sekolah. Tanpa disadari, kurikulum dan metode pendidikan tersebut tidak proporsional lagi, bahkan cenderung membuat anak murid seperti mesin atau robot bernyawa.

Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur demi menghidupi anaknya. Sebuah kisah klise yang kerap kita temui dalam kehidupan nyata, tetapi Gus tf Sakai menggarap kisah ini dari sudut berbeda. Sementara cerpen “Jejak yang Kekal” menceritakan fenomena demonstrasi mahasiswa di Indonesia yang kerap berujung pada kekerasan. Gus tf Sakai meramunya dengan aspek sejarah (arkeologi) dan sains, hingga berujung pada ditemukannya fosil jejak sepatu tentara oleh para peneliti.
***

Dimensi ruang dan waktu tampaknya jadi misteri yang menyimpan keunikan tersendiri bagi Gus tf Sakai. Inilah yang menjadi ladang proses kreatifnya. Mendominasi sebagian besar cerpen dalam Perantau. Amati dan bandingkan saja cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas”, “Tok Sakat”, “Kami Lepas Anak Kami”, “Hilangnya Malam”, “Kota Tiga Kota”, dan “Sumur”. Dalam cerpen-cerpen tersebut akan ditemukan bermacam versi absurditas ruang dan waktu.

Dari duabelas cerpen yang terhimpun dalam buku ini, sebelas cerpen telah dimuat di berbagai media massa nasional dan daerah sepanjang tahun 2003 sampai 2006. Hanya cerpen “Tok Sakat” yang belum pernah dipublikasikan.

Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-Laba (2003). Pemerhati sastra tentu masih ingat bahwasanya Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi tiga penghargaan dalam waktu berdekatan, yaitu hadiah sastra Lontar (2001), penghargaan penulisan karya sastra Pusat Bahasa (2002), juga SEA Write Award (2004).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *