Pengarang Buya Hamka, Terus Bekerja Sampai Pensiun di Surga

Ngarto Februana
http://www.ruangbaca.com/

Berpendidikan formal hanya sampai kelas dua sekolah dasar, semasa hidupnya Prof. Dr. Hamka telah menulis 113 buku.

Hadiah itu ia terima pada ulang tahun ke-70, dalam sebuah acara kenduri di Aula Masjid Agung Al Azhar, 18 Februari 1978. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan Hamka, menerima bingkisan ulang tahun berupa buku Kenang kenangan 70 Tahun Buya Hamka.

Salah satu penulis buku setebal 288 halaman itu, Yunan Nasution, menceritakan kebiasaan Buya-panggilan akrab Hamka-mengarang pada siang hari, sekitar pukul 11.00 sampai 13.00. Dengan nada sedikit bercanda, Yunan lalu berkesimpulan: “Rupanya inspirasi yang dipancarkan melalui sinar matahari hanya dapat menembus pikiran orang-orang yang berkepala botak.”

Masih menurut cerita kolega Hamka di Pedoman Masyarakat itu, Buya kutu buku, daya ingatnya sangat kuat. Mengetik cuma dengan empat jari, tapi cepat.

Tidak hanya dikenal sebagai penulis produktif, Hamka juga seorang ulama, aktivis politik, sastrawan, dan akademisi. Di bidang yang terakhir disebut, ia pernah menjadi dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, ia rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta, dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta.

Selain itu, Buya adalah seorang wartawan, yang diawali dengan menjadi penulis untuk harian Pelita Andalas, lalu pada 1926 ia mendirikan jurnal Muhammadiyah pertama, Chatibul Ummah. Sepuluh tahun kemudian, Hamka mendapat tawaran menjadi editor kepala jurnal Islam yang baru terbit di Makassar, Pedoman Masyarakat. Ia juga pendiri dan pemimpin majalah Panji Masyarakat, serta pemimpin majalah Gema Islam.

Tahun ini, tepat seratus tahun kelahiran Buya, orang kembali mengenangnya lewat serangkaian acara. Yayasan AL Azhar, yang menjadi tuan rumah perhelatan ini, menggelar sejumlah diskusi dan seminar yang mengupas pikiran, pandangan hidup, dan sumbangan Buya bagi dunia Islam dan sastra Tanah Air. Di Jakarta, akan dibuka pula perpustakaan Buya dan situs yang khusus menyediakan buku-buku karangan Buya. Sebagian besar di antaranya kini memang sudah susah didapat di pasaran. Nun di kampung halamannya di Minangkabau sana, akan digelar pula sejumlah acara hingga Juni nanti.

Hamka dilahirkan di Negeri Sungai Batang, di sebuah rumah di pinggir Danau Maninjau di tanah Minangkabau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908. Ibunya bernama Shafiyah. Ayahnya Syeikh Abdul Karim bin Amrullah-yang dikenal sebagai Haji Rasul-seorang ulama pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau. Haji Rasul tercatat sebagai orang pribumi pertama yang mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Pendidikan formal yang sempat ditempuh hanya sampai kelas dua sekolah dasar. Tatkala berusia 10 tahun, Hamka belajar agama dan mendalami bahasa Arab di Sumatera Thawalib di Padang Panjang-sebuah pesantren yang didirikan sang ayah.

Pada masa muda–seperti pernah ditulis Tempo–Hamka anak nakal yang bikin ayahnya hampir putus asa. Karena sang ayah sudah tidak sanggup lagi, dikirimlah si Malik-panggilan Hamka pada masa kecil-ke seorang ulama besar, Syaikh Ibrahim Musa, di Bukittinggi. Tapi Malik lebih suka jadi wasit sepakbola, penyabung ayam, pendekar silat bahkan jadi jockey di Payahkumbuh.

Masa “kebengalannya” itu tak berlangsung lama. Ia kemudian lebih serius belajar, tidak hanya agama, tetapi juga politik pergerakan. Pada usia 16 tahun, ia merantau ke Jawa untuk berguru kepada tokoh pergerakan di Yogyakarta seperti Ki Bagus Hadikusumo, HOS Tjokroaminoto, RM Soerjopranoto, dan K.H. Fakhruddin. Kemudian ia sempat belajar berorganisasi ketika tinggal bersama iparnya A.R Mansur di Pekalongan, Jawa Tengah. Sekembali dari Jawa, ia menerapkan ilmu yang ia timba dari Jawa dengan mendirikan Majelis Tabligh Muhammadiyah di Padangpanjang.

Periode penting yang bisa dikatakan sebagai titik balik kehidupan Buya untuk masa berikutnya adalah menunaikan ibadah haji pada 1927. Tidak hanya melaksanakan rukun Islam yang kelima lima, ia juga menimba ilmu ke beberapa tokoh di Mekah. Sekembali dari Mekah, ia ke Medan untuk bekerja sebagai guru agama di Perkebunan Tebing Tinggi. Sempat pulang ke Padangpanjang, tapi ia balik lagi ke Medan.

Hijrahnya dari tanah Minang ke Medan-konon karena sang ayah memaksa Malik menikah dengan wanita pilihannya-membawa Hamka kepada periode kehidupan baru. Mula-mula ia bekerja sebagai guru agama pada 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan.

Pada masa ini pula Hamka mulai menulis buku-buku agama, antara lain.Khatibul Ummah (yang ditulis dalam huruf Arab, Si Sabariah, Adat Minangkabau dan Agama Islam. Tahun-tahun berikutnya Buya mengarang roman adat, antara lain Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936), Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1937), Merantau ke Deli (1940).

Tenggelamnya Kapal van der Wijck mencuatkan namanya, tidak hanya di Indonesia, tapi juga sampai Malaysia. Di Indonesia roman tersebut dicetak 14 kali, di Malaysia 9 kali. Roman ini sebelum terbit sebagai buku, dimuat bersambung di mingguan Pedoman Masyarakat, majalah mingguan yang dipimpinnya. Cerbung ini ditunggu-tunggu baik oleh agen maupun pembaca yang tidak sabar menunggu episode selanjutnya.

Roman ini sempat dituduh sebagai hasil plagiat karena memiliki kemiripan dengan karya sastrawan Perancis, Alphonse Karr, yang kemudian disadur ke dalam bahasa Arab oleh pengarang Mesir, Musthafa Luthfi Al Manfaluthi. Atas tuduhan itu, kritikus H.B. Jassin menegaskan bahwa Hamka bukan plagiat.

Hamka seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu. Melalui bahasa Arab yang dia kuasai, Hamka mempelajari karya-karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Bahkan dengan bahasa Arab pula, ia mengkaji karya Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre. Karya-karya Karl Marx yang dia baca juga berbahasa Arab.

Filsafat dia pelajari, selain sastra, sejarah, sosiologi dan politik. Bahkan ia menulis beberapa judul buku filsafat seperti I>Filsafat Ketuhanan, Falsafah Hidup (cetakan pertama 1940, cetakan XII Juni 1986). Falsafah Hidup merupakan satu dari rangkaian empat buku karya Hamka yang diberi judul Mutiara Filsafat. Tiga lainnya adalah Tasauf Modern, Lembaga Budi, dan Lembaga Hidup.

Falsafah Hidup sengaja dipersembahkan kepada gurunya, A.R. Sutan Mansur. “Tuan! Inilah kitab dari hal hidup dan rahasianya, sopan santun dan budi di dalam Islam…,” demikian tulis Hamka di halaman persembahan buku itu. “Pelajaran-pelajaran itulah yang lekat dalam hati saya. Itulah bekal saya berjuang di medan hidup….”

Pada 1950, keluarlah buku tulisan Hamka berjudul: Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah. Dalam buku itu tampak sekali kedekatan Hamka dengan bundanya, Shafiyah, yang dia katakan, “Ibuku cantik.”

Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, Hamka diangkat menjadi Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia. Ketika Presiden Soekarno menyuruh Buya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi), Buya meletakkan jabatan itu. Masyumi kemudian dilarang oleh pemerintah pada 1960.

Tanpa dasar serta alasan tuduhan yang jelas, pada 27 Januari 1964 ia ditangkap persis ketika sedang memberi pengajian kepada seratusan ibu-ibu di bulan Ramadhan. Ia kemudian mendekam dua tahun di penjara, bersama para tahanan politik lainnya, seperti Muchtar Lubis. Pemerintah Soekarno menuduh Hamka pro-Malaysia.

Belenggu jeruji besi tak berarti mengungkung pikirannya. Karena banyak waktu luang selama di dalam penjara, Hamka menyelesaikan tafsir Alquran, yakni Tafsir Al-Azhar (30 juz), yang diakui sebagai karya terbaiknya. “Saya tidak bisa membayangkan kapan saya bisa menyelesaikan tafsir ini kalau berada di luar,” ujarnya suatu ketika.

Di masa Orde Baru, Hamka pernah menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dari 1977 sampai 1981 dan imam besar Masjid Agung Al Azar. Karena nasihat-nasihatnya tidak diindahkan pemerintah, Hamka pun mundur dari MUI.

Setelah keluar dari penjara, Hamka dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Hamka menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Al Azhar Kairo (1958) dan dari Universiti Kebangsaan Malaysia (1974).

Di luar ketokohan dalam berbagai bidang, sebagai manusia, Hamka menjalani kehidupan normal dan “sangat biasa”. Hampir setiap hari, di rumahnya banyak tamu. Bukan saja tokoh-tokoh besar, tapi orang-orang sangat biasa. Para tamu itu datang untuk meminta nasihat, dari soal-soal agama, sampai ke masalah perkawinan. Bahkan Buya sering diminta untuk mengakadnikahkan pasangan-pasangan yang mau menikah. “Saya sampai harus lari ke luar kota kalau ingin istirahat,” katanya suatu ketika. Mereka yang akan menikah tampaknya jadi mantap sekali kalau diwejang, apalagi kalau dinikahkan, oleh Hamka.

Hamka menikah, berkeluarga, dan beranak cucu. Dengan istri pertama, Siti Raham, Hamka dikaruniai 10 anak, 22 cucu.

Siti Raham meninggal pada pertengahan 1972. Setelah menduda satu tahun delapan bulan, Buya memutuskan untuk tidak berlama-lama hidup kesepian. Pada usia 65 tahun–saat itu tujuh dari sepuluh anak-anaknya telah menikah–Hamka menikah lagi dengan janda asal Cirebon, Siti Chadidjah (waktu itu 48 tahun), pada Agustus 1973. Anak-anaknya yang mencarikan jodoh untuk sang buya. “Itu ulah anak-anaklah,” kata Buya pada acara ulang tahun Tien Soeharto, September 1978.

Siti Chadidjah adalah aktivis Aisyiah, organisasi wanita di bawah PP Muhammadiyah.

Ada satu cerita romantis ketika calon pengantin bertemu untuk pertama kali. Hamka berkata, “Saya ini apalah. Dulu kan suaminya Pangeran dari Cirebon.” Lantas apa jawab Chadidjah? “Itu dulu. Sekarang ini mana ada Pangeran yang melebihi Buya.”

Keromantisan itu makin asyik oleh curahan amal bakti sang istri. Sebelum menikah, Chadijah pernah bertekad begini: ” Kalau Buya ada beramal pada masyarakat, izinkanlah saya beramal pada Buya.” Nah, amal itu dibuktikan dengan mencurahkan waktunya hanya untuk mengurus sang Buya sampai-sampai Chadijah tak sempat lagi mengurus Aisyiah.

Buya gemar makan enak, dari durian, masakan padang, dan masakan arab yang telah di-padang-kan. Tak heran jika Buya hafal restoran-restoran yang menyajikan makanan enak.

Pada usia senja, Buya ditimpa berbagai penyakit: darah tinggi, diabetes, sehingga sejak itu ia tidak lagi menyentuh makanan enak itu, seperti lemang dan durian. Tapi, ia bilang, “Saya sudah puas makan enak,” kata Buya kepada Tempo ketika beristirahat di RSPP Pertamina, pada 1978.

Walau sakit, semangat bekerjanya masih menyala. Bahkan ia sempat berujar bahwa setelah sembuh ia akan tetap bekerja seperti biasa. Baginya tak ada kata pensiun selama masih hidup. “Pensiun seorang Muslim setelah dia mati. Ada hadis Nabi: orang beriman tidak akan berhenti bekerja sebelum pensiun. Pensiunnya itu di sorga.”

Akibat terkena serangan jantung pada 17 Juli 1981, ia harus kembali dirawat di RSPP Pertamina. Lima hari kemudian, 24 Juli 1981, Hamka mengembuskan napas terakhir pada usia 73 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan, yang diantar ribuan pelayat, di antaranya Ali Sadikin, Emil Salim, dan Menmud Koperasi saat itu Bustanil Arifin.

Jasadnya memang telah dikuburkan 27 tahun lalu, tapi pemikirannya, keteladanannya, dan buku-bukunya terus hidup hingga kini. (Berbagai Sumber).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *