Puisi-Puisi Mahwi Air Tawar

Di Malam Lain Pada Sebuah Ujung

Malam pertama: kita bertemu di sela waktu
menyibukkan jarumnya pada setiap putaran
lalu melelehkan gerimis dari kisi jendela
tempat kamu gantung jam dinding

tahukan kamu? tirai jendela rumahmu
(hadiah ulang tahun, dari jejak usia yang fana)
waktu tak selalu merindukan tidurmu
dan terus bergerak mengarak nafasmu
melompat ke luar pagar tanpa kau duga
melewati jedah istirahatmu yang fana pula

Malam kedua: kita saling membuang pandang
ke bubungan

entah kapan, matahari melucuti lapisan awan
tak perlu lagi menunggu ketukan berulang
tanpa harus selangkan pandang
pada busur jam yang terus memburu jejakmu
di jalan setapak bercabang
kita mesti ke luar
meniti keluh: meski peluh membengkakkan sel tubuh

di malam yang lain: kita bersepakat

menyulut api, lalu memadamkannya
saat waktu menggetarkan tangga rumah
yang belum kita perbaharui warna catnya

jogja, 2006

Metamorfosa

semenit, seusai perjamuan; ada yang merayap dari sudut
retak dinding rumahmu, kau diam di sebalik pintu, terpaku
saksikan pelepasan para tamu sesudah melepas penat
kau hitung jejak satu-satu

kuyakini tak ada yang tertinggal, detak jam tanggal
tepat pukul satu ada yang ganjil, bisikmu
nafasmu, barangkali
kau pun membandingkannya dengan langsir matahari
ada yang menyusup dan berbisik lewat bebayang
semenit lalu; ke mana nafas berhembus?
kau diam menghitung jejak
tiada sisa
hanya denyutmu singgah di setangkup roti sisa perjamuan
pun di sebalik dinding rumah tatapmu tambat
dengan segala ingatan kalap, dan semenit
kau terasa kehilangan segala sesuatu yang tak nyana kau tunggu
rumah singgah, adakah telah menampung segala ingatan?

ngijo/jogja-rumahpoetika, 2006-2007

Dendang Cinta Lima Belas Purnama

i
memantrai hari-hari dengan segenap
rahasia hembus nafas. ada yang mengapung dari ceruk laut
menjaring cahaya purnama. bukan percik api tenung. tapi kilau karang-
sesaat mengapung mengarak riak menuju muara tempat sampan dikandaskan

oh, dendang cinta lima belas purnama. saksikanlah, berdiri di tepi pantai
memahat sepi, membidik arah angin: agar asin garam lebur pada sisik kulitku-kulitmu
agar cahaya purnama tumpah

di simpang jalan tak berujung
yang senantiasa bingar oleh erang panjang
bukan dendang cinta lima belas purnama
namun letih lantaran panen berujung malang
dan mengapa kita begitu enggan menabur bunga persembahan
di halaman panjang
rumahku
rumahmu
sebelum purnama diarak kabut
dan upacara kematian dilangsungkan?

ii

berdiri di tepi pantai, bersedekap menghimpun nafas ombak
dalam gegas langkah penabur kembang
malam semakin panjang
mengendap di gubuk-gubuk
persingahan para nelayan
ada yang bersijingkat saat angin terpintal
Dari sela tungku api ikan pindang
menisik dalam derap langkah
menoreh kisah metafora luka
tubuhku
tubuhmu
sebelum rahasia semesta
terjaring jala cinta
dan dendang cinta lima belas ditembangkan

jogja, 2007

Biografi Sunyi

sunyi, angin mensedekapkan sepi
abjad-abjad berlesatan selepas
kidung kematian didengungkan
huruf-huruf basah
nafasku-
nafasmu
hanyut dalam jejak rahasia
yang fana
pasrah-
berserah
di lubuk waktu
tanpa gumam
sebelum malam
mensedekapkan kita
pada kalam subuh
pagi, tiba-tiba menepi
dalam semadi waktuku
yang fana

ngijo, 2007

Penghujung Musim

hujan turun
di simpang jalan
bulan dihimpun angin

di tegalan
seorang lelaki menggigil
mengais tangis
hujan mengelus ubun-ubun: diam-diam
bulan menuntunnya ke ujung malam

lelaki itu, besijingkat
sekarung rumput ia jinjing
tanggalkan ladang dan semak
menghimpun harap
panen jagung tak berujung malam

ngijo, 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *