Puisi-Puisi Marwanto

http://sastrakarta.multiply.com/
Dari Ruang Kerjaku
Mozart pun Mengalun Sendu

Violin menyayat. Menari-nari lalu
menyusup ke sel-sel darahku
Dari pusaran sejarah, ikan-ikan yang
Berenang

“Ajari aku mengeja simponi 40,” katanya
Membuka pagi ini

Pintu berderit. Siapa gerangan datang
pada waktu cicit kutilang di teras depan
masih selugu itu (mengetuk hati
menuntun rasa)
lalu matanya melantun, eine kleine nacht musik
Meniti setiap kata dalam tak. Memilih
setiap huruf di atas tuts. Sebagai burung
memberi salam pada gunung-gunung

“Aku ingin
aku ingin sekali merenung,
daripada murung,” desahnya
dibarengi dentuman piano (rondo
alla turca)
“Kemudian setelah Mozart mengusirku
setelah kata-kata mencambukku
akan kutantang hari,” serunya
di muka cermin

Memungut raga, yang tertinggal kemarin

Kulonprogo, 1997

Hujan pun Menjadi Madu
di Pagi Tahun Baru

Hujan pagi ini menjadi madu di hatiku
Segelas kenikmatan, telah terlalui begitu tentram
Bersama rintihan jiwa yang sunyi
membekas beberapa pesan dan arti
Dan kalau kemarin masih ada lembar yang lalai
niscaya waktu akan mengetuk penaku ? berdiskusi,
lalu membuat catatan kaki

Hujan pagi ini menyambutku bagai madu
Serangkaian diktat, akan membuat peta dengan khidmat
Bersama belaian ayat yang setia
mengarungi beribu alamat di semesta
Dan kalau ada jalan harus ditempuh tanpa peta
niscaya berkah telah menunggu disapa ? bercengkerama,
lalu bersetubuh mukswa

Kulonprogo, 2002

Sesobek Nota untuk Indonesia

Bagaimana mengeja irama perkutut
pada desing peluru yang menebar maut
Indonesia, pagimu tak lagi embun sejuk
dengan kicau burung bersaut-saut
Sebab berita-berita yang datang
selalu mengucapkan selamat makan dengan senapan
Lalu esok hari tiba-tiba siang terik-telak
Kami pun segera mengeja irama gagak
Kulonprogo, 2002

Alamat

Maafkan, sudah lama aku
Tak mengunjungimu
Mungkin sebulan,
ah kiranya lebih
sebab jiwa ini tinggal perih
Atau setahun,
Karena hati ini mulai rabun
Ai? kalau tak salah
Bahkan telah berabad-abad
Rindu-rindu tersayat
Hendak mengunjungi tambatan kalbu
Namun salah alamat
: seingatku, dari perempatan kota batu
Lurus saja ke timur sembilan kilometer
(awas di situ banyak tempat angker!)
Lalu ada lapangan bola di kanan jalan
Nah, dari gang di samping lapangan itu
Aku biasa menuju rumahmu
Tapi, mengapa gang itu kini buntu?
“Maafkan, itu alamatku sewindu lalu?”
Bunyi sms darimu.

Kulonprogo, 2007

Maut

Maut dicatat setiap pagi
Bersama nota belanja pasar
Dan anak-anak yang pergi ke sekolah
dengan tegar naik sepeda mini
Ah, jangan lupa pula ini
: kakek yang giginya tinggal tiga
protes uang tembakaunya dipotong
buat komisi petugas retribusi
Maut lupa dicatat
Saat kakek ingin belajar lagi
Naik sepeda mini

Kulonprogo, 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *