Puisi-Puisi Satmoko Budi Santoso

http://sastrakarta.multiply.com/
BERSAMPAN KE TEPI PARANGTRITIS
(Versi Lain atas Hikayat Bujang Tan Domong)

bagai si domang yang suatu hari singgah
terantuk di tanggul sialang kawan, dusun betung,
sungai bunut, tanjung sialang, dan tanjung perusa
aku berlayar. limbung terbangun dari tepian samudera hindia
menumpang sampan dayung bercadik

“lupakan si raja lalim, si panjang hidung,” emakku merengek
menghela galah galau, melontar sepah dendam
sumpah seranah atas kampung halaman
(berlayar, berlayarlah aku ke seberang, parangtritis yang merindu
atas nama basah angin, kelepak camar dan mega-mega)

seperti terkisah dalam hujuman
pantai, teluk, Bandar-bandar dan semenanjung telah kulayari
kucari kampung hunian, tempat istirah dan berserah
tanah dusun yang kuharap tertundukkan, memperpanjang usia
memasrahkannya pada buah tertumbuhan
pauh, rambai, durian, cempedak, maupun macang

kukunyah buah-buahan itu, seperti mengunyah kenangan yang kekal dalam almanak
serat hari, kelupasan kalender. lenggang waktu bagaikan langgam
dendang pantun dan gurindam. di pinggiran tanah dusun itu kutengadah
memandang langit kebiruan yang rimpuk, tersepuh kabut, tersepuh mega
sore yang murung mengingatkan pada tepi pantai parangtritis
nun di jauh risik seumur bocah, emakku tersak setengah berbisik,
“berlayarlah domang, jangan sesempat maksud kembali?”

Yogyakarta, 2005

Catatan: Bojang Tan Domang adalah sastra lisan sebagai tradisi nyanyi panjang yang dikembangkan masyarakat Petalangan, puak atau suku asli yang ada di Riau. Dari hikayat Bujang Tan Domang ini pula tersidik keyakinan tentang akar sastra Melayu, yang menjadi embrio pertumbuhan bahasa dan sastra Indonesia, sampai kini.

HIKAYAT PEMBURU GADING
-Sesobek Kisah tentang Lamban, Rumah Panggung Khas Lampung

ebok yang tertatih, sepagi dini masih menimpuk gading
melawan keriap nasib yang mengeripun sorot matanya mengabur
di tengah undakan papan rumah panggung
ebok memandang sebongkah kebun di kejauhan, tempat gerumbulan pepohonan hitam

bagai menjagal harap, empat puluh hari ebok duduk di tengah undakan
sampai mengelupas angka-angka pada kalender
menghitam serupa bakaran kayu di hutan belakang rumah

ebok yang bermata jelaga
tak menolak berkawan dengan para pemburu bermata gelap
menyangkurkan nyali pada sepasang gading: sekerat harga diri

ebok yang diam membatu direnggut waktu
menimbun gading dan senapan di bawah rumah
menggantikan panenan padi, lada, dan kopi
menjaga jarak atas maksud baik dan maksud buruk

di tengah undakan rumah panggung
ebok memandang nanar para pemburu berkelebat

Yogyakarta, 2005

Catatan: ebok (Bahasa Lampung): ibu.

PADA ASIN PANTAI YANG SAMA
– Terbaya dan Pasir Putih

pada asin pantai yang sama
tak mampu kau sembunyikan serpih sisik ikan
di sela batu, pun gerumbul tertumbu karang

pada asin pantai yang sama
adalah jejak kaki yang tersesap julur lidah laut?

dulu, seorang anak pernah menggambar perahu
di tengah gundukan pasir pantai
katamu, perahu itu tak pernah karam dilayarkan gelombang
namun, seriang waktu yang membubu
menunjam pagut kelir arloji
perahu bergoyang senyalang angin
merobek kain senyalang angin
merobek kain kibas layar

uncu berkalung manik-manik itu masih berteriak di kejauhan
menari gambar yang memburam
melantak digerus ombak

Yogyakarta, 2003-2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *