Sajak-Sajak Iyut FItra

http://www.padangekspres.co.id/
PADA AGITASI SUNYI
?16 februari; fina sato

waktu yang tersepuh menjalar jua ke jalan-jalan. sepotong tahun patah
tua mengusung nama-nama. sebelum ruh, sebelum orang-orang ternganga pada ada
kau lihatkah ia lewat?
siapa bertanya ketika matahari mulai tinggi, bulan-bulan rawan,
hari terbuhul dalam hitungan
dan kalender kusam itu. irama gegap pertarungan. membantai nasib demi nasib
kita bersimpuh di tepinya. adakah sebagai
pemenang?

lalu lilin terbakar
lalu langkah rasa hambar
tiuplah, ?dari adam, usia tak lebih dari debu

bekas percintaan. atau catatan alamat-alamat tak lengkap
beragam salam dijahitkan serasa asin. serasa lepuh
jejak-jejak rengkah digagal waktu. siang malam lisut di pergantian dalam derap-
derap orang tersesat
wajah jadi sederai cermin pecah. o, pengembara lunglai yang ingin sampai!
di tabuh subuh rapuh, hanya sisa detak jam-jam lamban. mengusung usia
menjadi harapan tersepuh yang menjalar
ke jalan-jalan
kau lihatkah ia lewat?

(dan kaulah yang bertanya pada agitasi sunyi; belum usaikah perjalanan?)

Payakumbuh, Februari 2007

PENUMPANG-PENUMPANG MUSIM

di bandara. jadwal keberangkatan yang sesak
sunguh kubenci warna tiket. panggilan terakhir dan gegas
penumpang-penumpang musim
aku tinggalkan kotamu, wahai tualang yang mencuri kesepian. lorong
di hatiku adalah orang-orang yang tak saling sapa. tujuan jadi tak penting
kau dengar ada jurang yang runtuh dan ruruh
di siang sempat kau datang. di penungguan tepi jalan
lama kuharap cium perpisahan. tapi permata kecil, sebuah janji tak lunas
kau hanya mengantar gemetar yang tambun; sesia yang menahun

tak perlu berlambaian, tualang

kuhitung petak-petak mengecil. sawah-sawah
sayup kekanak terbuai serunai. impian kita saat dulu bermain
aku ingin jangkrik bulan. tangkap ia sebelum senja
sebelum pelangi menyungkup kota, kutunggu engkau di taman bunga
duh, tualang. aku pergi bagai layang-layang
waktuku genting untuk terluka. biar kupesan keasingan ini seribu musim
sebab tahun-tahun telah rabun

bernyanyilah, tualang

di titian itu. ketika burung-burung terbang dan aku makin jauh
tulislah rambut panjangku dalam sajak-sajakmu. gerai rahasia
hidup digagal nasib
bila sempat pulang. kubawakan sebuah cerita, tentang tiket yang menyesal
kupesan

Payakumbuh, 2007

SAJAK SENJA

kumasuki lembah itu. cuaca tak lagi berteguran
senja adalah perpisahan paling gawat
kita saling berpinjam waktu. dalam tahun-tahun kelabu
kau dengar langkah kanak-kanak di kaki bukit itu. daun-daun kering
di tangannya. legenda puti sari banilai di puncak harau ditarikan
pangeran, tambatkan kapalmu ke tepi. sebentar lagi malam di sini berduri
tabuh yang serupa hantu-hantu
sipongang dari dinding lengang, uir-uir. senja kan melipat
menajam galau

lama kusetubuhi waktu di rentang harimu
peluk yang bertukaran
jemari
tak sedikit cerita menabung airmata; aku mencintai senja
rembang itu melemparku ke awang-awang. di langit kelelawar bergerombolan
bukankah hidup untuk saling meninggalkan?

kumasuki lembah itu. baumu terasa lengkap
kayu-kayu basah. anak sungai mengalir ke hilir
lihat, kapalku lepas. gelombang menampar tapi tunggulah di pelabuhan
aku pernah mendekap lama. sampai musim tanggal
ruruh dari kalender. di kaki bukit itu kanak-kanak terus bertarian
dalam legenda
senja, adalah kesepian paling sempurna

Payakumbuh, 2007.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *