Suara Marginal Burung Merak

Indra Darmawan
http://www.korantempo.com/

Rendra konsisten menyuarakan perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan.

JAKARTA — Suaranya menggeletar liris. “Dengan sajak ini, bolehkah aku menyusut keringat dingin dari jidatmu?” katanya. Sejurus kemudian, tangannya menangkup wajah bulat yang menyelingi geraian rambutnya yang sebahu. Pria berkaus merah dilapis kemeja krem lengan pendek Eiger itu tak lagi bisa sembunyikan tangisan dari dasar hati.

Ruapan kepedihan itu sangat terasa, saat Willybrordus Surendra Broto Rendra membacakan puisi Perempuan yang Tergusur di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat malam, pekan lalu. Pada acara “Rendra Baca Puisi” itu kita masih dapat merasakan kegusaran penyair Rendra terhadap situasi sosial saat ini.

Rendra memang sudah tak muda lagi. Usianya sudah lewat dari 70 tahun. Namun, energinya saat tampil di panggung masih terasa kuat. “Saya kagum dengan staminanya,” ujar Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, yang hadir di acara itu.

Lantunan kata Rendra masih menyihir. Muatan syair-syairnya pun masih tetap konsisten menyuarakan keadilan sekaligus tajam menyerukan perlawanan terhadap penindasan. Beberapa puisi barunya membuktikan hal itu.

Misalnya Jangan Takut, Ibu!, yang ia buat di Hamburg, 30 September 2003. Dedaunan yang berjatuhan di musim gugur di Jerman justru melangutkan hati dan pikiran Rendra pada kondisi Tanah Air.

“Ada gubernur sarapan bangkai buruh pabrik/ Bupati mengunyah aspal/ Anak-anak sekolah dijadikan bonsai/ Jangan takut, Ibu!/ Kita harus bertahan/ kerna ketakutan/ Meningkatkan penindasan”.

Kritik atas salah urus negara juga muncul pada Maskumambang (2006). “Bangsa kita ini seperti dadu/ Terperangkap di dalam kaleng hutang/ yang dikocok-kocok oleh bangsa adikuasa tanpa kita berdaya melawannya/ Semuanya terjadi atas nama pembangunan/ yang mencontoh tatanan pembangunan di jaman penjajahan”.

Namun, syair-syair Rendra adalah rekaman lagu kehidupan. Di sana ada tangis, tawa, cerita cinta, dan pengalaman rohaninya. Ada Pertemuan Malam (2003), yang bercerita tentang pengalaman mimpinya, saat tak sadarkan diri karena sakit keras. Ada tawa getir kisah celaka kaum pengutang dalam Kasbon (1998).

Selain itu, ada curahan kerinduan mendalam saat jauh dari kekasih hatinya, Ken Zuraida, di hutan Warangan dalam Barangkali karena Bulan (2003). “Aku tulis sajak cintaku ini/ karena tak bisa kubisikkan kepadamu/ Rindu mengarungi Senin, Selasa, Rabu, dan seluruh minggu/ Menetes bagaikan air liur langit yang menjadi bintang-bintang”.

Tapi tak perlu diragukan, hati Rendra memang akan selalu terpaut pada nasib kaum pinggiran. Seperti apa yang ia abadikan dalam beberapa sajak lawas, yang ia bawakan malam itu, Rick dan Corona, Blues untuk Bonnie, Mencari Bapa, dan Nyanyian Angsa. Dan tak terkecuali pula pada sajak-sajak barunya.

“Ternyata, di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana/ semak yang berduri bisa juga berbunga/ Menyaksikan kamu tertawa karena melihat ada kelucuan di dalam ironi/ diam-diam aku memuja kamu di dalam hati ini” (Perempuan yang Tergusur).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *