Trubador Gila

Abidah El Khalieqy
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

TAK seorang pun tahu dari mana asalnya. Di mana kampung dan alamat rumahnya. Orang-orang hanya melihat tubuh kurus, melayang-layang bagai daun kering ditiup angin. Kadang barat kadang timur, kadang utara kadang selatan. Menggeremang dalam gendang telinga. Bersyair bagai pujangga. Menyanyi dan menari bersama anak-anak, dari rumah ke rumah, dari lapangan satu ke tengah lapangan lain. Bocah-bocah naik di pundaknya, merengeknya lari sebagaimana kuda. Gadis-gadis menjadi girang, memandang kucir di rambut gimbalnya. Dan orang tua, yang melahirkan gadis dan bocah-bocah itu, mengelus dada. Entah apa terpikir dalam benak mereka.

“Serupa benar dengan orang gila. Dari puak mana ia berasal?”

Trubador gila menyeringai. Junun. Memainkan alis mata naik-turun. Namun bocah-bocah tetap saja berkerumun.

“Nyanyi Junun! Nyanyi! Padamu Negeri!”

Sesekali Junun menuruti. Menyanyikan lagu “Padamu Negeri” dalam versinya sendiri. Mengubah syairnya dengan kata-bata ngilu sekaligus lucu. Sampai Anak-anak melonjak. Membubung gembira ke angkasa. Dan Junun menangkapnya, membawa kegembiraan ke taman-taman kota.

Ke dalam impian masa lalu yang menganga.

Sepotong bambu runcing ditaruh miring, ditiup dan dipukul dengan bilah bambu yang lain. Maka loncatlah si kecil dan menari di atas papan. Menyanyi dan menari. Siapa kalah siapa menang. Junun meraih kemenangan. Namun ia sembunyi dan memberi kemenangan itu bagi bidadari-bidadari mungil yang bergerombol di halaman rumahnya. Halaman permainan. Lalu lintas nyeri ingatan.

“Inilah rumahku. Kepedihan dan keterasingan itulah tanah airku,” bisik Junun dalam sunyi.

Dan kini, rumah itu telah rapuh. Peta koyak terlipat ombak. Junun menepi di kota pantai. Memberi hatinya sebutir tablet yang masih sisa bagi jiwa, sekerat dunia bocah yang masih ramah. Tak peduli hari, tak peduli waktu. Berputar seperti mesin pemintal. Trubador Junun berkeliling. Mencari jejak kaki cinta. Tapak-tapak Laila di pinggir samudra Hindia. Tajam penciumanya, mengendus harum kesturi dan berkabar pada telinga sebuah negeri.

“Negeriku dijarah ombak! Batu-batu pecah, menumpuk di empedu! Siapa ngatur lalu-lintas darah di nadiku? Bedebah!”.

Junun teriak. Melanglang jejak hari dari pagi hingga pagi kembali. Kereta waktu berjalan tanpa stasiun dan tujuan. Namun ia tetap gembira dan membagi senyum pada siapa suka. Terus menyanyi dan menari dikitar simponi. Seorang teman dari Negeri Matahari menghampiri, lalu berbisik: harakiri! Junun tertawa. Mengacungkan bilah bambu ke udara. Ngakak bagai si gila.

“Aku tertawa maka aku ada,” Junun bersimbah suka.

“Jika kau pergi, kampung jadi sepi. Memang!” kata Ibu yang sempat memperhatikan gerak-geriknya.

“Tak ada sepi. Karena sepi telah mati sejak dulu. Dar-der-dor! Dar-der-dor! Orang-orang berlari. Sebagian sembunyi, sebagian jadi bangkai!”

Junun menggedor jantung di pagi waktu, di punggung hijau perawan wangi. Bukit biru penyimpan emas dan perak. Juga lumpur dan minyak. Wajah Junun berkeringat oleh embun lembu dan kuda perang. Paras mewah negerinya tersaput luka siapa suka. Siapa mau berburu dengan topi baja. Dengan mata yang awas dan culas. Lalu terkokanglah senjata, melindas-lindas getaran cemas. Tidak di kiri, tidak juga di kanan. Tidak di depan, tidak juga di belakang. Semua jalan telah dikepung. Dan Junun mengapung, terjebak di tengah arus yang panas.

“Pun tak ada cemas di sini! Cemasku pada mulia hidup, membusuk! Menanti jarum suntik mati. Uhuk-uhuk!”

Tapi Junun tidak menangis. Walau berputar dalam bau amis. Bersenyawa masuk di belantara rumbia, di atas delapan roda meninggalkan kota. Entah ke mana. Tak ada yang menanti tak ada yang menyuruh pergi. Ia belok melintas simpang gelap. Suara pelatuk menyeruduk telinga. Jiwanya setenang malam memagut Laila dalam keremangan cahaya. Bulan kabur di langit barat. Ada lagu haru yang suka ditiru bibir kelu.

“Junun namaku. Gila jalanku. Sebab jika waras, telah bersarang lima puluh peluru di dadaku.”

“Jadi kau pura-pura gila biar selamat, gitu?” desak seseorang kawan.

“Keselamatan itu keajaiban Tuhan. Seperti jagung di ladang. Biji jagung busuk tak menumbuhkan apa-apa selain ulat-ulat di relung kesengsaraan. Hidup hanyalah menunda, menunda makan, kawan. Aku pingin makan, tapi orang-orang memintaku hiburan. Tapi tak apa, memang Junun namaku. Trubador kampung yang dermawan pada semua orang, termasuk padamu.”

“Pada Laila kali?”

Mendengar kata itu, Junun terbanting. Tengkurap di gardu ronda. Ingatan tentang tentang masa lalu pergi tiba-tiba karena Laila. “Tapi siapakah Laila? Dan siapa pula aku?” Trubador gila mengucek mata. Tak mampu mengusir sunyi. Malam larut sendirian. Tergeletak badan di atas papan barak luka, gardu kayu tuan dermawan.

Pusing kepala. Mawar harum menggoda lamunan Junun untuk menyinta. Dan cinta itu membawanya berlarut dalam tapak maut. Hutan legam. Detak cinta yang raib dibalik cadar rimba. Bisa juga Junun jatuh cinta, seperti jatuh bangun melawan duka.

Junun berdemo sendirian. Memaki malam tanpa bintang. Menata tarian indah di balik gemuruh dada. Whirling Dervish.

Trap! Trap! Yak!

Dan kini, matahari menyalak kembali. Anak-anak merubung cintanya bagai lalat derita. Bocah kecil minta ia menjadi kuda. Menari dan menyanyi. “Katakan padaku aku menyintaimu dan dustaiku/ wahai kau penghaus minumku/ bagi cintamu berapa banyak perindu/ memanjang hidup dalam siksamu/ Duhai yang menikamku dengan kelewang rindu…”

Plak! Plak! Tepuk tangan anak-anak! Membubung Junun dalam suwung. Bersyair, meliuk semesta anyir.

“Ini negeri telah mati. Mati jugakah engkau, Laila?”.

Keheningan merayu sepi pangeran gila. Anak serambi mengaji. Balkan. Balkan. Aroma cinta kitab suci menggeliat. Nurani mampat. Kehidupan jalan di tempat. Junun berputar, membiar anak-anak dalam permainan.

“Aku rindu dipeluk Ibu, dipangku keabadian.”

Anak piatu berteriak. Menyanyi dan menari. Menyimpan masa depan dalam ketiak. Trubador gila merana. Membayang negerinya jadi kuda tunggangan. Perdamaian membawa hidup di titik nol. Tapi Junun bersuka karena hidup jalan di tempat. Menyanyi dan menari dalam sunyi. Mengutuk negeri sendiri, memuji Laila. Mencari kehidupan abadi.

?Aku menyanyi karena bapakku tertembak mati. Aku menari karena ibuku terbawa tsunami. Di manakah hidupmu kini, Laila?. Tak ada umpama beratus puisi. Aku menunggumu di kelok pantai ini.”

Plak! Plak! Tepuk tangan anak-anak!

Tuak t?aime, candu simpanan dari abad berdebu, jadi minuman di tengah permainan. Ransum ketan hitam, membunuh ribuan orang. Mabok laut, mabok maut, membawa pulau jadi oleng. Kota tua miring ke kiri.

Tapi Junun, trubador gila ini, otaknya miring ke kanan. Menguji perlawanan dengan nyanyian. Revolusi sambil menari. Meneteskan airmata tanpa teman. Sebab teman, banyak yang gila melebihi kegilaannya.

“Kau hanya pura-pura gila. Mari ikut kami.”

Senapan lapuk, jejak kaki sepatu kulit harimau, menerkam.

“Apa salahku? Adakah pasal hukum yang melarang orang berpura-pura gila? Ini melanggar hak azasi.”

Tangan Junun dilingkar ke punggung dengan kasar. Borgol mengunci pergelangan.

“Kau telah membunuh pembunuh bapakmu dengan sebilah bambu.”

Saksi mati. Alibi terbang ke awang-awang. Membawa trubador gila ke balik jeruji.

“Jangan ngacau di sini. Bisa patah lehermu nanti.”

Dendang keparat di ruang gelap.

Dan hanya Laila, hanya Laila yang bisa menemani. Negeri dermaga paling rindu. Hujan peluru dan batu. Orang pergi menghilang dari ingatan. Ibu kota jadi hantu. Rahasia dunia, sang dermawan mahaduka itu!

Walau bertahun telah ditunggu, Laila tak mampir Serambi. Trubador gila membeku, ngungun sendiri di balik jeruji. Kota tua berganti rupa. Berganti segala yang pernah berkuasa. Masih adakah mariyuana?

Yogyakarta, 2006/2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *