Banjir Awal Tahun

Deepe
http://oase.kompas.com/

Malam itu, malam tahun baru. Semua orang merayakannya dengan meriah. Jalanan, restoran, cafe, pub, dan berbagai tempat hiburan penuh sesak dengan orang-orang yang berpesta pora. Kembang api, petasan, semua dinyalakan untuk menyambut datangnya fajar baru.

Tapi aku memilih berdiam di dalam kamar rumah kontrakanku yang sudah hampir lima tahun aku tempati. Aku memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana malam itu. Bukannya tak ingin, siapa tak ingin bersenang-senang dan berpesta-pora. Hanya saja aku tidak suka dengan sifat ke sementaraannya.

Aku bukannya tidak bersyukur atas nikmat kesenangan yang disisipkan Tuhan dalam hidup kita. Tapi aku selalu merasakan kekosongan yang dalam saat piring dan gelas dibersihkan, dan musik serta suara tawa berubah menjadi kesenyapan. Sementara beban hidup tidak pernah berkurang, bahkan semakin membungkukkan punggung. Lagi pula, melepaskan kepenatan tidak harus dengan pesta teriring musik yang keras menghentak-hentak, dengan suara tawa dan canda berlebihan, ada banyak cara yang dapat dilakukan. Seperti yang aku lakukan ketika itu. Duduk menghadap jendela dengan segelas kopi di atas meja kecil. Menatap nanar dahan-dahan pohon jambu yang saling bergesekan, juga daun-daunnya yang gugur ditiup angin awal tahun yang basah dan menebarkan hawa dingin. Sebuah notebook bersampul merah di atas pangkuanku, sementara pena yang biasa ku gunakan untuk menulis mampir di mulutku.

Sebenarnya aku berniat menulis sebuah refleksi, semacam catatan hidup. Tetapi rasanya susah sekali menemukan kalimat yang tepat. Ini mungkin karena tidak ada lagi yang bisa aku tulis tentang hidupku. Apa yang istimewa dari hidupku? Dari waktu ke waktu, hari-hari berjalan biasa-biasa saja tanpa sesuatu yang istimewa. Aku masih tinggal di rumah kontrakan yang kecil ini. Masih bekerja sebagai pegawai rendah di sebuah instansi yang gajinya tak seberapa, untuk menambah penghasilan, aku biasanya menulis untuk media. Ah, ternyata susah sekali meraih kesempatan di kota sebesar dan seliar Jakarta ini.

?Kamu itu terlalu baik dan jujur. Orang baik tidak akan berhasil disini,? kata seorang temanku ketika ia menunjukan mobil baru hasil ?proyek-proyeknya? yang entah apa.

Gila!, apa semua orang yang datang kemari lantas harus menjadi macan, serigala, atau singa yang tanpa belas kasih menerkam sesamanya? Kalau sudah begini aku jadi ingat kampung, dimana gotong royong dan kebersamaan masih menjadi hal utama, meski globalisasi sudah merambah ke berbagai sendi kehidupan. Ah, entah kapan aku akan kembali makan masakan bunda dan membantu ayah di sawah warisannya yang tak seberapa luas. Merasakan desiran angin pegunungan yang sejuk dan bermain air di kali, di belakang rumah kami.

Aku menghirup sedikit kopiku yang sudah mulai dingin. Sayup-sayup terdengar suara petasan dan sorak-sorai orang-orang yang berpesta menyambut tahun baru dari tanah lapang di seberang gang rumahku. Percikan kembang api sesekali terlihat menggantikan kerlip bintang yang sama sekali tak nampak malam ini. Ternyata langit lebih tahu situasi, atau kita yang sudah kehilangan nurani?

Malam semakin beranjak ke puncak. Aku masih duduk di depan jendela menatap guguran daun-daun jambu. Kopiku sudah dingin sama sekali, aku memutuskan untuk tidak meminumnya lagi. Pena yang tadi kuhisap-hisap telah berganti sebatang rokok. Udara semakin dingin dan basah.

Angin bertiup semakin lama semakin kencang. Aku menaikan jaketku hingga ke leher. Malam kian pekat, awan hitam bergulung-gulung. Dari kejauhan aku dapat melihat kilat sesekali menjilati langit disusul suara gemuruh guntur. Wah, tampaknya akan hujan malam ini, gumamku. Sorak-sorai orang yang berpesta tahun baru perlahan mulai menghilang.

Aku menghembuskan asap rokokku perlahan, sementara hujan mulai turun setetes demi setetes. Perlahan curahannya semakin deras seperti di tumpahkan dari langit. Air mulai masuk membasahi meja kecil di depanku, masuk ke dalam cangkir kopiku, dan menciprati notebookku yang masih ku pangku. Bergegas aku bangkit dari kursi dan menutup jendela. Menutup lagi satu babak hidup. Kupandangi curahan air yang turun di permukaan kaca. Kosong kembali melingkupi perasaanku. Aku menghela napas panjang. Kumatikan rokokku. Suara hujan yang benturan dengan genting rumah terdengar nyaring seperti nyanyian seriosa. Aku mematikan lampu. Naik ke atas ranjang dan memutuskan untuk tidur.

Aku terkesiap bangun dari tidurku, ketika terdengar suara guntur yang begitu kerasnya. Aku menekan saklar lampu tapi gelap tetap menyelimuti. Sial! Mati lampu. Dengan meraba-raba aku membuka laci di bawah meja, di samping tempat tidurku. Mencari sebuah senter kecil yang sudah lama tak terpakai.

Nah, ini dia! Seruku ketika aku menemukannya. Cepat-cepat ku nyalakan. Ah, ternyata benda ini masih berfungsi. Cahayanya yang remang menyinari setiap sudut kamar. Astaga! Ternyata air di dalam rumahku sudah setinggi mata kaki. Air mericik dari langit-langit kamar. Pasti genting-genting rumah ini sudah bergeser semuanya.

Dengan sigap aku mengambil tas ranselku dan memasukan semua barang-barang penting kedalamnya. Lalu ku tutupi tas itu dengan potongan kain seprei dan mengikatnya sedemikian rupa agar air hujan tidak merembes ke dalam. Ku sandang tas itu di punggungku lalu bergegas melangkah keluar kamar.

Kres, Bum! … aku tersentak kaget lagi ketika terdengar suara sesuatu tumbang. Entah pohon, entah tiang listrik, pasti sesuatu yang besar. Aku ragu melangkah keluar rumah. Jantungku berdegup kencang. Aku takut. Benar-benar takut. Aku diam mematung di depan pintu.
Guntur sambar menyambar memekakan telinga. Angin bertiup semakin kencang dan tak tentu arah, melibas apa saja yang menghalanginya. Air hujan tumpah tak terkendali. Badai pagi ini benar-benar luar biasa.

Keadaan di luar lebih kacau lagi. Air sudah menggenang setinggi lutut dan terus naik volumenya. Orang-orang berjalan tersaruk-saruk dalam genangan air tak tentu arah. Mereka menuntun sepeda motor yang mogok, memanggul anak-anak mereka di pundak, mengotong orang-orang tua dan jompo, menenteng harta benda seadanya yang masih bisa dan mungkin mereka selamatkan.

Badai semakin menggila. Angin kencang menerbangkan tubuh-tubuh ringkih menggigil dan menghanyutkan mereka dalam aliran air yang deras. Sebentar-sebentar langit menjadi terang karena sambaran kilat, disusul suara guntur yang menggelegar seperti hendak meruntuhkan langit. Sorak-sorai kegembiraan tahun baru berubah menjadi teriak-teriakan histeris kepanikan berbau kematian. Wajah-wajah ceria dalam pesta pora beberapa saat yang lalu berganti kebingungan. Harapan yang mereka tanam dalam hati akan kebaikan hidup di masa depan sirna bersama air mata duka.

Aku masih termangu di halaman rumah yang tak seberapa lebar. Berpegangan erat pada tiang pagar. Pakaianku basah kuyup. Tubuhku menggigil, gigiku gemeretak menahan dingin. Aku kaget. Syok. Terpana dengan semua yang terjadi.

Tadinya aku berharap ini hanya mimpi. Tapi setiap kali guntur bergemuruh aku tersentak dan sadar bahwa aku, terperangkap di depan rumah kontrakanku yang sumpek. Di tengah badai awal tahun. Ketika nanti matahari terbit, ketika akhirnya badai ini berhenti, apa yang akan terjadi padaku?. Matikah aku?. Hidupkah aku?. Dan bagaimana aku akan melanjutkan hidup?.

?Hei, kau! Sedang apa bengong di situ. Cepat mengungsi!? Aku sadar dari lamunanku oleh teriakan itu. Ternyata air sudah mencapai pinggangku, Gila!. Aku tidak tahu harus pergi kemana. Tampaknya sudah terlambat untuk pergi ke tempat lain. Bisa-bisa aku mati tenggelam di tengah jalan. Ditengah kepanikan itu tiba-tiba terbersit ide di kepalaku, aku akan naik dan menyelamatkan diri di atap rumahku. Mudah-mudahan air tidak sampai ke atas.

Dengan tertatih-tatih aku berjalan melawan arus air yang deras. Berpegangan erat pada tiang pagar sampai ke tembok pemisah antara rumahku dan rumah sebelah yang tidak terlalu tinggi. Kuraih bagian atasnya, lalu perlahan-lahan aku angkat tubuhku. Pelan-pelan juga aku menitinya sampai tepat berada di batas antara tembok ini dengan atap rumahku. Ini bagian yang sangat sulit, jarak antara tembok pembatas dan atap rumah memang cuma sekitar 90 centimeter, tapi dalam keadaan licin seperti ini aku harus ekstra hati-hati. Apalagi tanganku sudah mulai mati rasa. Terpeleset sedikit saja aku pasti jatuh. Iya kalau aku langsung menghantam air, kalau menghantam tembok pembatas ini, habislah aku.

Aku menyingkirkan dua buah genting terlebih dahulu, agar aku bisa berpegangan pada kayunya. Aku menghentakan tubuhku sedikit, menahannya, lalu pelan-pelan mengangkatnya. Dengan hati-hati aku meniti jejeran genting licin itu. Setelah sampai di atas aku mengambil posisi duduk yang aman, menunggu dengan cemas akan nasibku. aku berdoa dengan segenap tenaga yang tersisa agar petir yang terus saja menyambar-nyambar tidak menghantam tubuhku sudah tak mampu lagi merasakan apa pun. Setiap detik mengantarkanku mendekati kematian karena rasa dingin yang teramat sangat. Dibawah sana orang-orang menggapai-gapai dalam luapan air bah, berteriak parau meminta bantuan. Mata mereka menatapku penuh harap, tapi apa yang bisa aku lakukan, aku sendiri sudah menyerah ?

Badai perlahan-lahan mereda menyisakan rinai. Angin sudah tak lagi ganas. Azan subuh lamat-lamat menggema mengisi langit entah dari surau di mana. Pelan-pelan ku buka mata dan mendapati diriku masih disana, diatas rumah kontrakanku yang tenggelam sampai ke batas atap, sama seperti rumah-rumah lainnya. Kampungku telah berubah menjadi lautan kecil. Lapangan tempat pesta tahun baru beberapa jam lalu sudah tak terlihat lagi.

Tak ada lagi orang-orang yang hilir mudik mengungsi. Aku tidak tahu bagaimana nasib mereka. Hening menyelimuti bumi. Hanya terdengar suara arus air yang mengalir deras, membawa apa saja diatasnya. Aku tercenung, ketika tiba-tiba mataku melihat sesosok mayat mengapung tengkurap bersama kayu, tiang listrik, dan sampah. Mayat itu menggengam botol bir di tangan kanannya. Dari tato di lengannya aku tahu itu adalah Godam, preman pasar yang setiap bulan selalu memalak uang gajiku. Ah, akhirnya mati juga dia. Mudah-mudahan semua anak buahnya juga mati tenggelam, sehingga tidak ada lagi yang menggangguku. Aku menarik napas panjang lagi.

?Hei!? Tiba-tiba ada yang menyapaku. Ternyata tetangga sebelah rumah.
?Kau mengungsi di sini juga??
?Aku tidak tahu harus kemana?? jawabku sekenanya.
?Tapi kau masih beruntung, bisa membawa sebagian barang. Aku tidak. Aku pergi menonton dangdut tahun baru, begitu pulang tahu-tahu rumahku sudah tenggelam. Satu-satunya yang tersisa, ya hanya pakaianku ini,? katanya sambil menunjuk pakaiannya yang basah kuyup.

Aku hanya tersenyum simpul. Badai sudah benar-benar berhenti. Rinainya pun sudah tak terasa lagi. Pagi sudah datang, tapi langit masih saja gelap. Sepertinya matahari tak akan muncul sampai pertengahan siang nanti, atau bahkan tidak akan muncul sama sekali. Mataku nanar mentap cakrawala luas yang gelap itu dengan perasaan yang sangat ajaib kosongnya*. Tubuhku menggigil hebat. Kapan aku turun dari sini?.

01/01/06

* Kalimat penutup yang di gunakan almarhum Mohammad Diponegoro dalam cerpennya ? perasaan yang sangat ajaib kosongnya ?. Kalimat ini saya ambil dari cerpen Seno Gumira Aji Darma ?Seorang wanita dengan tato kupu-kupu di dadanya.?dari buku kumpulan cerpen ?Negeri Kabut.?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *