Calon Ibu

Janu Jolang
http://oase.kompas.com/

Saat mendengar dokter kandungan itu berkata bahwa bayiku sungsang, aku berpikir ini pasti operasi sesar. Sembari tangan kiri menunjuk ke arah monitor USG, tangan kanan dokter lelaki muda itu menggeser-geser alat scanner pada perutku yang buncit. Aku sedikit malu ketika kain penutup yang melingkari perutku tergeser ke bawah dan menampakkan sedikit bulu kemaluanku yang menyembul dari cawatku. Beginilah wanita waktu hamil, serba repot. Posisi tulang belakang melengkung ke depan menahan rahim berisi bayi, perutpun melembung seperti balon, menyesaki rongga di bawah pusar. Daerah yang tadinya tertutup rapat akhirnya tersembul. Perutku membesar, cawatku jadi terlalu sempit.

Suamiku yang duduk di depan meja dokter tampak gelisah memperhatikan ucapan dokter. Sepertinya dokter itu penjelmaan dukun-dukun sakti di jaman mitologi, yang kata-katanya merupakan mantra ajaib sebagai penawar keresahan. Tersugesti saran dokter, ia kemudian menguatkan hatiku dan menyuruh aku untuk sering – sering senam nungging. ” Iya, siapa tahu si jabang bayi mau muter ke posisi yang sebenarnya untuk lahir “, kata suamiku mengulangi nasehat si dokter. Aku tidak merasa ucapan suamiku itu sebagai penyemangat diriku.” Kalau dalam dua minggu posisi bayi masih melintang, tak ada jalan lain kecuali operasi sesar”, kata dokter lelaki itu.

Dan masa-masa penantianku membawa ujian mental yang cukup berat bagiku. Hampir setiap orang yang kujumpai, kurasakan selalu bercerita tentang perempuan yang gagal dalam operasi sesar. Mereka seolah – olah menakutiku, si calon ibu kemudian meninggal karena pendarahan hebat, karena tekanan darah ngedrop, karena keteledor dalam penanganan kelahiran, atau salah obat, dan sebab – sebab lainnya. Bahkan saking cemasnya, ibu mertuaku menyarankan agar perutku “diputar” saja oleh dukun bayi, perempuan tua yang tinggal di pinggir kota dan biasa menangani bayi – bayi sungsang dalam kandungan. Suamikupun mengiyakan saran itu.

Ide itu aku tolak mentah-mentah. Aku tidak mau membahayakan bayi dalam kandunganku. Saran dokter untuk senam “nungging” dan didukung suamikupun hanya beberapa kali kulakukan. Bagaimana tidak kuhentikan, naluriku mengatakan bahwa anakku tidak akan “berputar” pada posisi sebenarnya. Tubuhku kecil, panggulkupun kecil. Apalagi setelah aku nungging, bayiku tidak gerak – gerak dalam waktu yang cukup lama. Stop! Jadi aku putuskan no nungging, no pijit. Pokoknya operasi sesar. Apa yang akan terjadi, terjadilah.
****

Hari-hari kelahiran anak pertamaku makin dekat. Aku semakin cemas. Suamikupun kelihatan pontang-panting cari pinjaman uang untuk biaya operasi sesarku. Kemarin dia pinjam ke kantor tempatnya bekerja dan hanya mendapatkan setengah dari keseluruhan biaya operasi. Aku cemas, jangan-jangan sampai waktunya nanti lahir duit belum terkumpul. Coba kuhubungi perusahaan tempatku bekerja, ternyata jawabannya malah berbelit, ” Bulan depan baru ada uang,” jawaban bosku kurang masuk akal, lagi pelit. Alasannya yang bilang uang kasnya kosong, duitnya dipinjam rekanan, sampai tagihan macet membuat darahku mendidih. Suamiku kemudian menenangkanku. Ia mengambilkan air putih dan membelai – belai perutku.

Aku diam saja. Tak bereaksi.
Kemudian suamiku berbisik sambil tangan masih di perutku. Katanya kalau anak yang kukandung jadi dioperasi tanggal 17 Agustus, maka senanglah ia karena hari itu bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Hari itu akan diperingati oleh berjuta-juta rakyat Indonesia. Hari pembebasan dari penindasan penjajah. Semangat kepahlawanan inilah yang diharapkan melekat pada si jabang bayi serta membawa berkah dan inspirasi bagi seisi rumah.

Aku tersulut dengan ucapan suamiku. Apa hubungannya kekurangan uang dengan hari kemerdekaan Indonesia? Kutepiskan tangan suamiku dari perutku. Dengan nada tinggi aku berpendapat, “Di saat kita cemas kekurangan biaya untuk operasi, kau malahan berandai – andai anak kita lahir tanggal 17 Agustus.”

Kepalaku tiba-tiba pening, darah seperti mengalir deras ke kepalaku. Muka rasanya kaku. Lantas suamiku buru – buru minta maaf atas kesalah pahaman itu. Suaraku sepertinya masih tinggi. “Yang hamil aku,” tersenggal nafasku menyebut,” pe-rem-pu-an!!! “Aku yang telah susah payah ke sana kemari membawa 12 kilo beban diperutku. Aku yang merasa mual dan muntah – muntah mencium bau tubuhmu, minyak rambutmu, asap rokokmu. Dan aku yang akan mempertaruhkan nyawaku saat bayi yang ada di dalam perutku ini lahir. Laki – laki memang hanya enaknya saja.”

“Stop, cukup, cukup. Kata – katamu selalu menyakitkan,” suamiku selalu menyela begitu, barangkali dia memang nggak mau memperpanjang masalah.
“Kata – katamu selalu membuatku emosi.”
Ia pergi meninggalkanku dengan membanting pintu. Akhir-akhir ini emosiku semakin memuncak. Barangkali bawaan si jabang bayi. Atau memang aku yang terlalu sensitif, mudah marah.
***

Tanggal 16 Agustus, sehari sebelum jadwal operasi sesar, aku ditemani ibu mertuaku check up di rumah sakit ibu dan anak yang terbaik di kotaku. Suamiku tidak bisa menemani, ia sedang ke rumah pamannya untuk cari pinjaman uang. Setelah itu ia akan ke kantor Palang Merah mencarikan darah untuk kebutuhan operasiku.

“Selamat malam nyonya,” seperti biasa dokter kandungan itu menyapaku ramah. Disebelahnya, ada seorang wanita tengah baya berpakaian perawat, berwajah manis, sedang membereskan perkakas prakteknya. Kudengar gosip dari ibu – ibu di luaran, suster itu adalah istri sang dokter. Dahulu istrinya hanya mengurus soal administrasi dan keuangan rumah sakit miliknya itu. Kini setelah mengetahui si dokter main gila dengan beberapa pasiennya di ruang praktek, istrinya ikut mengurusi soal kebidanan.

Dokter kandungan itu mempersilahkanku berbaring. Sementara itu istrinya membantuku naik ke pembaringan, menyiapkan alat tensi darah, stetoskop dan memeriksa denyut nadiku.

Tak lama kemudian suster – istri dokter itu selalu berkata mesra kepada suaminya, “Honey, tensi nyonya ini amat tinggi.”

Dokter mendekat ke pembaringan dan bertanya kepadaku, “Nyonya merasa agak stress menjelang kelahiran ini?” Ia lantas mengambil alat seperti corong memanjang dan menempelkan ke perutku, ia sibuk mencari-cari detak jantung jabang bayiku.

Ada suara degup jantung keras keluar dari sebuah kotak di atas pembaringanku. Suaranya berdegup kencang seperti laju kereta meniti rel. “Nyonya, bayinya sudah ingin keluar, ” kata si dokter datar, “Saya siapkan kamar rawat sekarang juga. Nanti nyonya bisa istirahat dahulu, sembari saya akan turunkan tekanan darah nyonya.”

Aku cemas, “Bagaimana bayinya, dok?”
“Detak jantungnya terlalu cepat,” kata si dokter, “kondisi ini kalau terlalu lama bisa membahayakan bayi nyonya. Saya sarankan operasinya dipercepat. Tidak usah khawatir, saya akan persiapkan semuanya yang terbaik buat nyonya dan bayi nyonya.”
***

Sebetulnya aku belum siap mental untuk menjalani operasi sesar. Diperberat lagi proses operasinya dipercepat, maka inilah saat – saat yang tidak menyenangkan dalam hidupku. Lambungku terpaksa dikuras karena kurangnya jam puasa sebelum operasi. Selang plastik dimasukkan lewat hidung, susah dan sakitnya minta ampun. Demikian pula bulu kemaluanku dicukur habis. Aku ngeri kalau membayangkan pisau – pisau bedah itu akan menyayat perutku. Sepertinya jarum jam di dinding menggelinding begitu cepat, aku gugup, cemas, dan takut. Akankah aku masih hidup setelah operasi? Atau aku akan mengalami pendarahan hebat? Atau tekanan darahku yang tinggi akan membahayakan jiwaku? Dan aku akan mati? Lantas bagaimana nasib bayiku yang lahir sebelum masanya? Akankah ia normal? Ataukah ia harus masuk inkubator dengan bantuan oksigen di hidungnya? Kemana suamiku? Ia tak kelihatan batang hidungnya. Disaat aku ketakutan, ia selalu tak ada. Aku akan menjadi calon ibu.

Beberapa jam kemudian aku di geledeg menuju ruang operasi. Roda-roda pembaringanku mencicit didorong perawat. Pandanganku kosong ke langit-langit atap lorong rumah sakit. Kubayangkan aku sedang menuju ke suatu tempat yang menakutkan, tempat dimana upacara pengorbanan akan dilakukan. Diujung pintu masuk ruang operasi, kulihat ibu mertuaku menanti sambil menangis, menciumiku serta memelukku. Ini adalah penantian cucu pertamanya. Disebelah terlihat suamiku, dengan pandangan seperti kekhawatiran berlebihan akan diriku dan bayi di perutku. Ia terlihat rapuh. Wah, saat – saat seperti ini yang bikin aku nggak tahan mental. Betul mereka kasih support kepadaku, tetapi bagi kebanyakan orang, cara memberikan support yang demikian pasti tidak begitu membantuku. Mungkin paling baik dengan ucapan dan tindakan yang mencerminkan rasa optimis, jangan malah menangis. Aku akan menjadi calon ibu.

Dan tibalah suasana asing kamar operasi. Begitu mencekam. Bau bauan obat antiseptik, dinding hijau porselen, pisau bedah, jarum suntik, tang penjepit, dan lampu sorot melingkar mengarah padaku. Aku demikian takut melihat pisau – pisau tajam itu. Seolah ia adalah sesuatu yang hidup, bertenaga, berkuasa, untuk mencabik – cabik tubuh tak berdaya. Seolah ia adalah pisau ajimat dalam sebuah upacara pengorbanan, dan aku sebagai korbannya. Sekujur tubuhku gemetar hebat.

Ketiga dokter lelaki dan dua perawat perempuan mulai mengelilingiku. Yang kukenal hanyalah si dokter kandungan dan istrinya. Aku sangat malu ketika salah satu perawat itu mulai melepas baju atas dan kain yang menutup bagian bawah tubuhku. Aku ditelanjangi dalam keadaan masih sadar sesadar – sadarnya. Duh, aku pikir masih bisa mengenakan baju dan kain itu. Aku tak bisa membayangkan apa yang ada dalam benak dokter – dokter itu ketika di depan mereka ada sesosok wanita telanjang tak berdaya. Ketakutanku menguasai segenap tubuhku. Bayangan pisau – pisau tajam itu muncul lagi. Sekujur tubuhku gemetar hebat. Ketika melihat aku yang telanjang, apakah mereka merasa kikuk? Atau malu? Bak malunya anak sholeh melihat wanita yang bukan muhrimnya? Atau barangkali etika kedokteran yang membuat mereka bersikap wajar. Tapi laki – laki, terkadang punya keusilan dalam menilai tubuh perempuan. Biarpun tubuhku tengah hamil tua, barangkali mereka menikmati tubuh yang telanjang ini.

Dokter anestesi kemudian membekapkan selang bius ke hidungku. Sebentar kemudian dia mengajakku ngobrol, tanya macam-macam ini – itu. Mungkin dia ngecek, aku masih sadar atau sudah lelap, tapi semua itu tidak aku gubris. Aku sudah terlanjur malu, emangnya enak dalam keadaan telanjang diajak ngobrol.

Dan lecutan cahaya kemudian menyilaukan mataku. Tiba-tiba pula terang berubah jadi gelap. Aku tersedot dalam pusaran jurang begitu dalam. Itulah saat terakhir aku bisa mengingat sesuatu. Ketakutan dan kecemasan yang aku rasakan sebelumnya hilang begitu saja. Aku tidak ingat lagi wajah cemas mertuaku, kekurangan biaya operasiku, nasib bayiku, sosok suamiku, istri dokter itu, dan perut buncitku. Aku dalam mimpi indah, tenang dan nyaman.
***

Entah sudah berapa lama aku terlelap, tiba-tiba kudengan gemeritik suara pisau bedah. Aku takut, sekujur tubuhku gemetar hebat. Aku coba menggerakkan badan, menghindar dari pisau – pisau itu. Ternyata tidak bisa, terlalu berat. Kucoba membuka kelopak mata juga tak bisa. Aku sadar sesadar – sadarnya bahwa aku masih di meja operasi. Mungkin pengaruh bius itu kurang mempan di tubuhku. Tapi kenapa aku tidak merasa sakit? Aku dengar ada suara tangis bayi di sudut ruangan, itu pasti bayiku. Ya bayiku telah lahir, tapi apakah ini sudah masuk tanggal 17 Agustus? Kudengar suara-suara dokter sibuk menjahitkan benang di perutku. Ya aku sadar tapi tak bisa membuka mataku.

Tiba-tiba kepalaku berputar sangat cepat. Aku mual. Di antara pertengahan sadar aku berteriak sekuat tenaga. Seperti dilempar dari awan gemawan, jatuh menuju lorong gelap dalam kecepatan amat tinggi. Aku meneriakkan nama seseorang, dan (maaf) itu bukan nama suamiku. Dia mantan pacarku, Frans.

Sepersekian detik kemudian gambaran berubah. Aku melewati lorong seperti gua jaman purba, remang berdebu, seingatku berwarna marmer kecoklatan. Tiba-tiba aku melewati tempat yang tinggi jatuh ke tempat yang rendah. Sangat cepat, aku berteriak ketakutan. Ya, rasanya seperti naik roller coaster. Setelah itu seperti tertindih batu sangat besar. Aku tak bisa bernafas.

Kurasakan badanku tersedot susut menjadi kecil. Di ujung lorong gelap, samar – samar kulihat sosok besar berjubah hitam. Mukanya tertutup bayangan, memegang pisau di tangannya. Kakiku gemetar hebat. Suaranya menggema menimbulkan daya angin dahsyat. Aku tercekat, nafasku sesak. Ia mulai mengejarku dengan langkah cepat tak bersuara, sepertinya melayang. Aku berlari kencang melewati lorong – lorong yang bercabang. Kuikuti salah satunya, ternyata buntu. Dan bayangan itu makin mendekat. Aku berbalik arah dan lari. Nyaris bayangan itu mendapatkanku.

Aku terus berlari. Lorong bercabang itu tiada akhirnya. Sepertinya aku terjebak dalam rumah labirin, tak ada jalan keluar, berputar terus berputar. Akhirnya aku terjerembab, tergolek tanpa daya. Ketakutanku kian memuncak. Bayangan berjubah itu kian mendekat dengan pisau terhunus. Aku tak kuasa mengelak, pisau itu akan merenggutku. Dan tiba – tiba semuanya gelap. Aku tak ingat apa-apa.

Samar – samar kurasakan seluruh tubuhku perih. Bagian kemaluanku perih sekali. Terdengar ramai suara orang berdengung seperti di pasar. Tiba – tiba kilau cahaya memasuki mataku yang masih terpejam. Apakah bayangan hitam itu masih di dekatku? Kucoba membuka mata. Walau kabur kulihat ada bayangan di situ. Ia mendekat ke arahku sambil mengulurkan tangannya. Anginnya sampai ke tubuhku. Ternyata bayangan itu mendiang ibuku.

Aku menangis kencang. Aku marah, benci, baur rindu. Ingatanku kembali ke masa kecil. Gerimis sore waktu itu adalah hari terakhir aku melihat ibuku. Beliau meninggalkanku. Aku tidak tahu penyebabnya. Mungkin ia marah padaku? Kala itu ibu bersitegang dengan nenek, tapi aku tidak tahu masalahnya. Barangkali aku biang keladinya? Aku diam meringkuk di kamar seraya mendengar nenek meneriakkan kata – kata kotor. Selanjutnya kudengar isak tangis ibu diantara hardikan nenek. Aku takut sekali.

Berhari – hari aku meratapi kepergian ibuku. Apakah ia marah padaku? Aku sungguh sosok yang rapuh setelah itu. Hari demi hari aku lalui dengan kesedihan mendalam. Ayahku sudah tiada, kini ibu telah meninggalkanku. Tak ada lagi sosok yang memberiku sekedar perhatian, sekedar kasih sayang, dan tempat untuk bergantung. Sebaliknya, semua tiba-tiba memusuhiku. Lebih – lebih nenek, ia adalah figur pemarah. Sering dengan alasan yang tak kumengerti ia marah padaku. Ketika kutanyakan pada nenek kemana ibuku pergi. Ia tak mau menjawab. Sekali lagi aku merajuk ingin bertemu dengan ibu. Nenek malah marah dan menamparku. Hatiku sedih sekali.

Barangkali aku memang anak kecil yang bandel, atau anak yang suka berbantah, atau aku memang menuruni sifat pemarah nenek, aku tak tahu. Pernah suatu hari ia pukulkan gagang sapu berkali – kali ke punggungku hanya karena aku menggambar setangkai bunga mawar di tembok ruang depan. Cara memukulnya kuingat persis seperti memukuli kucing yang mencuri ikan. Setelah itu aku dikunci dalam gudang yang pengap lagi gelap. Entah berapa lama aku di sana, perutku terasa lapar, dan pakde kemudian mengeluarkan aku dari gudang. Hari telah petang.

Lain hari, aku menemukan segepok kertas di laci meja nenek. Kertas itu lalu kubuat main uang – uangan bersama temanku. Peristiwa selanjutnya terjadi, dan itulah awal yang menjadikan aku mengerti apa arti dendam dikemudian hari. Tiba – tiba nenek muncul dari pintu dan menendang perutku sekencang – kencangnya. Aku terjerembab kesakitan. Kulihat sorot mata merah berapi – api, mencengkeram leherku, dan menamparku membabi buta. Dalam ketakutan, aku melihat nenekku seperti orang gila yang mengamuk. Apa salahku? Kenapa membenciku? Belum puas juga rasanya nenek memukuliku, bahkan setelah temanku menjerit-jerit, ia tetap mengayunkan tangannya ke mukaku sambil menghardik dengan kata – kata yang menyakitkan. Ya, sorot mata berapi – api itu, pukulan bertubi-tubi itu, dan kata-kata yang menyakitkan itulah yang terus melekat di batinku. Selalu membayang hingga kini.

Kekerasan demi kekerasan yang diperagakan nenek lama kelamaan mematikan syaraf – syaraf perasaku. Batinku beku. Aku mulai membangun kerajaanku. Setiap dinding benteng kubangun dengan pahit getir pengalamanku. Lantas kusiapkan prajurit berpedang dan berbusur panah sebagai amarahku. Maka kuperangi mereka satu persatu yang membenciku. Satu kata kubalas dua kata, satu pukulan kubalas dua pukulan, dan andaikan aku tak mampu melawannya maka akan kukutuki musuh – musuhku biar mati mengenaskan. Kebenaran adalah pengalamanku, dan pengalamanku adalah panglimaku.

Aku kemudian terhempas ke jurang dengan kecepatan cahaya. Sempat kudekap batang licin untuk menahan hempasan. Kuikuti liukan putaran batang itu sambil menahan ketakutanku yang berdesir – desir. Sampai di pangkalnya ternyata ular yang besar sekali, barangkali Anaconda. Aku menjerit ketakutan.

Dan aku siuman, tapi masih dalam kesadaran yang lemah. Mataku tak bisa kubuka, badanku tak bisa kugerakkan. Rasanya seperti ditindih batu yang sangat besar. Napasku sengal, tercekik, aku merintih. Kudengar suara mertuaku menyebut asma Tuhan, ia menuntunku untuk bersama – sama mengucapkannya. Aku mengikutinya pelan – pelan, sambil merintih ketakutan. Ada tangan hangat menggenggam jemariku, aku merasa nyaman. Tanpa sadar kusebut nama Frans, dan ia bukan suamiku. Berkali – kali nama itu terucap hingga berhenti ketika kudengar suara mertuaku menyebut asma Tuhan. Suara itu menyelinap lirih di telingaku.

Aku lelah, aku letih. Telah berapa lama aku terombang – ambing dalam alam sadar, tidak sadar dan setengah sadar, lewat peristiwa yang begitu cepat berganti. Kukuatkan menyibak kelopak mata, remang – remang kulihat orang – orang mengelilingiku. Aku sudah berada di pembaringan kamar rawat inap. Penglihatanku mulai nampak jelas. Ada suamiku, mama mertuaku, paman suamiku, adik suamiku, bibiku, dan sepupuku. Semua memperhatikanku. Pandangan mereka nampak kosong, tak ada ekspresi sedikitpun. Mungkin kalau ada, sekilat perasaan sedih terlihat di sudut mata mereka. Mama mertuaku menitikkan air mata.

“Anak kita lahir tanggal 17 Agustus kan?” suaraku lirih kepada suamiku.
” Tidak,” dia menjawab kelu. ” Tanggal 16 Agustus pukul sebelas limapuluh ”

Dan wajah orang – orang yang mengelilingiku menundukkan kepalanya.
****

Ruang praktek dokter jiwa itu tampak sepi. Di ruang tunggu, seorang wanita muda berparas ayu sedang menggendong bayinya. Tergambar jelas wanita muda itu punya problem kejiwaan yang berat. Raut wajahnya kuyu, sinar matanya kosong, tarikan nafasnya berat. Ia tampak menanggung beban berton – ton dalam hidupnya. Barangkali pula ia mempunyai problem rumah tangga yang tak mungkin diselamatkan. Hubungan dengan suaminya makin memburuk. Ia tak tahu pasti apa penyebabnya. Dirasakan kejadian demi kejadian mengalir begitu cepat tanpa ia bisa memaknai, tanpa ia bisa meyakini. Rasanya seperti terhanyut arus sungai deras, tanpa ia bisa menggapai tepian. Dalam hati kecil ia ingin memperbaiki hubungan. Ia ingin mengakhiri pertengkaran. Ia tak ingin mereka saling membenci.

“Silakan masuk nyonya,” dokter jiwa itu berkata dengan sopan. Wanita muda itu kemudian meletakkan bayinya ke tempat tidur yang telah disediakan. Lantas ia berbalik menuju sofa pembaringan untuk menjalani terapi.

Dokter jiwa itu kemudian memulai percakapan dengan ringan, sopan, dan suara halus yang menyejukkan hati. Terdengar lirih musik instrumentalia mengalun lembut memenuhi ruangan. Wanita muda itu terlihat mulai nyaman dalam pembaringan. Dengan mata terpejam ia mulai menjawab pertanyaan ringan yang diajukan. Kadang ia tertawa lembut, kemudian suaranya berubah manja, dan menceritakan sesuatu dengan lancar tanpa beban. Sepertinya ia adalah pribadi yang periang, manja, dan terbuka. Dokter jiwa itu membiarkan pasien bebas dalam pengembaraan jiwa.

Tak lama entah punya kekuatan magis apa, dengan nada halus dokter jiwa itu mampu membuat tubuh wanita itu menggigil. Barangkali tekanan-tekanan yang ada di kedalaman hati wanita muda itu terkuak. Tubuhnya goncang, ia ingin menolak tapi tak kuasa. Keping – keping trauma wanita muda itu berada di dasar jurang jiwa, tak tersentuh, terkubur, dan tiba – tiba melonjak ingin keluar.

Suasana hening, tiba-tiba ia terisak bercampur takut. Ia bangkit dan memeluk lutut erat – erat. Tubuhnya menggigil, rahang mengencang, mulut terkatup, dan sorot matanya menerawang. Barangkali gambaran yang ia ucapkan telah membangkitkan ingatan lama. Sesuatu yang buruk pernah terjadi. Wanita berparas ayu itu punya trauma masa kecil yang pedih.

Si dokter jiwa itu dengan tekun mencatat. Dalam tumpukan file pasien tertulis bahwa si pasien pada masa kecilnya kerap mengalami penyiksaan jasmani oleh neneknya. Pasien gampang tersinggung, pemarah, bermusuhan, siap bertengkar, dan cenderung anti sosial. Dalam catatan yang ditandai kurung buka tutup, dokter itu menuliskan karakter perlawanan itu sebagai hal yang natural secara keturunan atau karena cara pasien bertahan terhadap perlakuan – perlakuan kasar. Karena setelah itu, si pasien juga mengalami penganiayaan seksual dan sadistis oleh Pakdenya. Tetapi perlawanan itu tak tampak pada diri pasien.

Perbuatan itu terjadi saat dia berusia 6 tahunan. Hal itu sering dilakukan Pakdenya saat rumah kosong atau malam hari ketika suasana sepi. Pasien diancam dengan sebilah pisau dan akan dibunuh jika ia menceritakan kepada nenek atau orang lain. Pasien telah kehilangan ayah dan ibunya, ia kehilangan kasih sayang serta keterlibatan seorang ayah dalam hidupnya. Hal ini dimanfaatkan oleh Pakdenya. Pasien lemah dalam menghadapi eksploitasi yang dilakukan Pakdenya. Pasien membutuhkan kedekatan dan perhatian untuk mengatasi perasaan cemas, rasa takut, rasa nyeri, dan frustasi yang dialami.

Akhir-akhir ini bayangan Pakdenya sering muncul dalam diri suaminya. Perubahan fisik suaminya yang bertambah gendut, keringat yang bau tengik, serta kini memelihara brewok telah mengingatkan wanita muda itu pada Pakdenya yang menjijikkan.

Hanya kepada si ahli jiwa itulah ia bisa melepaskan perasaan dihantu-hantui yang mencekam. Sepertinya si ahli jiwa itu adalah obat mujarab yang harus diminum ketika sakitnya datang. Ia menjadi kecanduan. Kini wanita muda itu terbaring lelah di atas sofa pembaringan, setengah tertidur. Seolah ia baru saja mengakhiri pengembaraan jiwa yang melelahkan. Seolah ia baru saja mengakhiri mimpi buruk yang menakutkan. Dan wanita berparas ayu itu kembali pada kesadaran dunianya.

Tiba-tiba terdengar tangisan bayi di pojok ruangan. Suara bayi itu membuyarkan kenyamanan istirahat wanita muda itu. Dengan reflek ia bangkit dan berkata kepada dokter jiwa itu, ” Frans .., bayi kita menangis. Aku akan menyusuinya dulu.”

Jakarta, Juli 2004. Washington, DC Desember 2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *