Ekonom yang Batal Jadi Sastrawan

Hartono Harimurti
http://www.suaramerdeka.com/

BANYAK orang sukses dengan profesi yang tak pernah dicita-citakan sejak kecil. Demikianlah yang terjadi pada Mohammad Chatib Basri. Ekonom muda dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tersebut awalnya malah bercita-cita menjadi sastrawan. ”Saya itu senang pada seni dan sastra. Saya menyukai seni drama. Saat SMA saya sedang senang-senangnya,” kata pria kelahiran Jakarta, 12 Agustus 1965 ini.

Kesenangan Chatib pada dunia seni dilatarbelakangi oleh keluarga yang berdarah seni. Chatib mengaku mendapat dukungan dari sang paman. Yaitu seniman dan penulis skenario terkenal Asrul Sani.

Namun perjalanan menjadi seorang ekonom yang berlatar pendidikan dan pengalaman internasional diawali oleh dorongan orang tua. ”Saya sebenarnya ingin kuliah di Fakultas Sastra atau apa saja yang berkaitan dengan budaya dan seni. Namun orang tua saya sama dengan orang tua pada umumnya, ingin anaknya memilih profesi yang benar dan menjadi orang sukses. Untuk itulah saya diminta memilih sekolah yang jelas, yang mempunyai prospek baik,” kata bungsu enam bersaudara dari pasangan Chairul Basri dan Nurbaiti tersebut.

Saat menentukan fakultas yang akan dipilih, Chatib merasa lebih sreg pada politik. Ini berdasarkan pertimbangan saat itu ilmu ekonomi itu sulit dan rumit jika dibandingkan dengan ilmu sosial lain. Dan itu tentu akan menyulitkan bila memaksakan diri kuliah di bidang itu.

Saran dari temannyalah yang membuat Chatib memilih Fakultas Ekonomi UI. ”Teman-teman akrab saya bilang, pilih saja Fakultas Ekonomi pada pilihan pertama, baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Ini untuk strategi saja biar bisa diterima di UI,” kata pria keturunan Minang yang justru jadi anak Jakarta ini.

Nasib berkata lain, dia malah diterima di Fakultas Ekonomi UI. Mulailah bibit-bibit sebagai peneliti bersemi.

Dosen Pandai
Semula Chatib mempunyai niat biasa-biasa saja mengikuti perkuliahan di fakultas ekonomi. Namun setelah mengikuti kuliah yang diasuh dosen-dosen pandai, dia termotivasi menjadi pandai. ”Saya ingin menjadi mereka, dan bertekad harus bisa, serta jangan pernah merasa sudah pintar. Semangat itu timbul saat pertama mengikuti kuliah para profesor dan pakar-pakar top,” kata pria berkaca mata ini.

Akhirnya dia lulus dari Fakultas Ekonomi UI dengan membanggakan, dan selanjutnya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang master (S2) di Australian National University di Canberra. Selepas master, Chatib meneruskan ke jenjang PhD (S3) di tempat sama.

Saat kuliah di Australia, dia juga tetap aktif mengamati perekonomian di dalam negeri. Tulisan atau analisisnya kerap menghiasi berbagai media massa di Ibu Kota. Setamat S3 dia mengabdikan diri di FE UI. Dia kemudian bergabung dengan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI). Di lembaga yang didirikan oleh Prof Dr Sumitro Djojohadikoesoemo tersebut diab mendapatkan jabatan strategis sebagai Direktur Riset LPEM UI.

Walaupun tidak menjadi seorang sastrawan, namun Chatib tetap senang membaca karya-karya sastra. Penggemar bulu tangkis dan squash ini merasa perlu menambah inspirasi dari karya sastra seperti novel untuk memperkaya tulisan atau analisis ekonomi.

Dia mengaku siap tidak populer dengan pemikira yang dinilai mendukung kebijakan pemerintah, yaitu menaikkan harga BBM. ”Kalau mau populer ya jadi saja penyanyi, artis, atau pelawak. Yang saya lakukan adalah meneliti. Hasil penelitian yang saya yakini benar itu harus saya katakan kepada publik. Kalau sesuatu hal salah yang akan saya katakan salah. Itu prinsip saya.”

Belum lama ini Chatib menikah dengan Dana Iswara. Dia bertemu dan terpaut hati pada istrinya yang mantan penyiar RCTI, Metro TV, dan TV7 ini saat sama-sama kuliah di Australia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *