Kebudayaan bukan Semata Kesenian

Soni Farid Maulana
http://pr.qiandra.net.id/

TUMBUH dan berkembangnya kebudayaan di Indonesia dewasa ini, tidak hanya berada di tangan seniman dan pemikir seni, tetapi juga berada di tangan para politisi dan pelaksana negara. Berkaitan dengan hal itu, salah besar kalau ada yang beranggapan bahwa urusan para politisi adalah dunia politik semata, yang sama sekali tidak bersentuhan dengan kebudayaan dalam arti yang seluas-luasnya.

Jika kebudayaan hanya diartikan semata-mata kesenian, anggapan ini salah besar. Kebudayaan tidak hanya berurusan dengan kesenian, tetapi juga dengan sendi-sendi kehidupan lainnya dalam membangun bangsa dan negara yang kini porak-poranda dilanda berbagai krisis, mulai dari krisis ekonomi hingga krisis moral.

Demikian dikemukakan penyair Saini KM pada acara “Syukuran 70 Tahun Saini KM” yang digelar oleh Forum Sastra Bandung di GK Rumentang Siang Jln. Baranang Siang No. 1 Kota Bandung, Senin (4/8).

Hadir dalam acara tersebut, penyair Acep Zamzam Noor, Juniarso Ridwan, Yesmil Anwar, Ahda Imran, Lukman Asya, Nenden Lilis Aisyah, Wahyu Goemilar, Yopi Umbaran, Semmy A., Wilson Nadeak, Khaterina, dan sejumlah seniman lainnya, baik seniman tari maupun teater di Kota Bandung.

Diselenggarakannya acara syukuran yang berlangsung selama dua jam itu merupakan acara penghormatan para penyair Bandung khususnya dan Jawa Barat pada umumnya kepada penyair Saini KM yang selama 20 tahun lebih telah mengabdikan dirinya sebagai “guru” bagi para penyair di Indonesia lewat rubrik Pertemuan Kecil yang diasuhnya di HU Pikiran Rakyat.

Saini KM mengatakan, melihat kenyataan hidup dewasa ini, tak pelak lagi bahwa persoalan-persoalan kebudayaan tampaknya tidak mendapat perhatian serius dari para politisi dan penyelenggara negara. Jika pun ada perhatian, hanya sekadarnya, tidak sungguh-sungguh dalam membangun citra dan martabat bangsa ini sebagai bangsa yang unggul dalam berbagai bidang kehidupan.

“Kepada para penyair, saya mohon bekerja dengan tulus dalam melahirkan karya-karyanya. Mari kita bangun kebudayaan bangsa dan negara ini yang kini tampak compang-camping di hadapan kita,” kata Saini KM.

Maraknya tindak pidana korupsi yang melibatkan anggota DPR dan DPRD, menurut dia, hal itu menunjukkan bahwa perkembangan dan pertumbuhan kebudayaan di negeri ini tidak lagi diperhatikan. Paling tidak, para koruptor sudah melupakan moral, etika, dan nilai-nilai lainnya yang bersumber pada agama dan hukum adat.

Potong tumpeng
Acara dibuka dengan pemotongan tumpeng oleh Saini KM yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh penyair Yessi Anwar, yang belakangan ini lebih populer dipanggil Yesmil Anwar, pakar hukum yang juga akademisi.

Dalam sambutannya, Yesmil Anwar mengatakan, kepenyairan Saini KM dalam perkembangan dan pertumbuhan sastra Indonesia modern tidak diragukan lagi. Hal yang membuat kehidupan sastra di Bandung menjadi tumbuh dengan amat subur pada zamannya adalah berkat ketekunan Saini KM mengasuh rubrik Pertemuan Kecil di Pikiran Rakyat.

“Jadi, dalam pandangan saya, baik penyair Saini KM maupun Pikiran Rakyat, sama-sama punya andil yang tak terkira nilainya dalam menumbuhkembangkan kehidupan seni khususnya dan kebudayaan pada umumnya di Indonesia. Penyair Saini KM adalah guru kita semua dalam banyak hal,” ujar Yesmil Anwar.

Hal yang sama juga dikatakan Ketua Forum Sastra Bandung Dr. Ir. Juniarso Ridwan, M.Si. “Saini KM adalah peletak dasar kepenyairan di Bandung. Kiprahnya dalam menumbuhkembangkan bibit kepenyairan di Bandung khususnya dan di Indonesia pada umumnya, tidak hanya lewat rubrik Pertemuan Kecil tetapi jauh sebelum itu dilakukannya lewat lembaran Kuntum Mekar. Apa yang dilakukan Saini KM, buahnya mulai bisa dipetik pada hari ini,” kata Juniarso Ridwan.

Sementara itu, penyair Acep Zamzam Noor mengatakan, yang perlu diteladani dan dipelajari dari tulisan-tulisan Saini KM lewat Pertemuan Kecil yang kini sudah dibukukan oleh penyair Agus R. Sardjono adalah tentang sikap menjadi penyair yang tulus ikhlas.

“Ada banyak orang yang bisa menulis puisi tetapi ia belum tentu bisa disebut sebagai penyair. Menulis puisi itu harus ikhlas, karena ia merupakan panggilan jiwa. Sikap santun dan sikap-sikap lainnya yang menumbuhkan daya kreatif di dalam kerangka kepenyairan itu adalah inti dari ajaran Saini KM di rubrik Pertemuan Kecil,” ujar Acep menjelaskan.

Paling tidak, begitulah Saini KM telah hadir ke tengah-tengah kehidupan masyarakat Jawa Barat, dan tanpa pamrih telah turut serta membangun kebudayaan di negeri ini. Saini KM pada sisi yang lain, tidak hanya dikenal sebagai penyair dan penulis lakon naskah drama, tetapi juga dikenal sebagai cendekiawan Sunda yang telah banyak menyumbangkan berbagai buah pikirannya, baik di forum lokal, nasional, maupun internasional.

“Justru yang saya sangat sayangkan saat ini adalah ketika Saini KM tidak lagi aktif menulis sehubungan dengan kesehatannya, pada ke mana pakar-pakar sastra di perguruan tinggi? Mengapa mereka tidak mampu mencetak penyair seperti Saini KM,” ujar penyair Lukman Asya yang dalam dunia kepenyairan di Bandung lahir setelah Pertemuan Kecil ditutup, sehubungan dengan kesibukan Saini KM yang saat itu diangkat menjadi Direktur Direktorat Kesenian pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) di Jakarta tahun 1995.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *