Kesaksian Para Sahabat untuk WS Rendra

Benny Benke
http://www.suaramerdeka.com/

Aku mendengar suara/ Jerit makhluk terluka, luka, luka, hidupnya/ Orang memanah rembulan/ Burung sirna sarangnya, sirna, sirna, hidupnya/ Orang-orang harus dibangunkan/ Aku bernyanyi, menjadi saksi.

TEMBANG ”Kesaksian” yang dinyanyikan Aning Katamsi dan Trie Utami dengan iringan Jockie Soeryoprayogo (organ), Sawung Jabo (gitar akustik), Totok Tewel (gitar), Doddy Katamsi (bas), dan Inisisri (drum), menutup perayaan ulang tahun WS Rendra.

Lebih dari seribu orang yang memenuhi arena Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, turut menyanyikan lagu karya pimpinan Bengkel Teater itu. Penyair, budayawan, sastrawan, dan aktor kelahiran 7 November 1935 di Jayengan, Solo itu pun hanya tersenyum haru disamping kawan dekatnya, Adnan Buyung Nasution dan Panda Nababan.

Rampung sudah rangkaian perayaan ulang tahun ke-70 Rendra yang dilangsungkan 27 – 29 November 2005. Puncak acara bertema ”Menimbang Gerakan Kebudayaan Rendra” diawali dengan pemutaran film dokumenter perjalanan hidup dan karier Rendra. Film produksi Yayasan Lontar sepanjang 33 menit ini mengisahkan nukilan sepak terjang Si Burung Merak.

Setelah pemutaran film dokumenter, secara bergilir kawan-kawan dekat Rendra membacakan sajak-sajak buah karyanya. Diawali tampilan Panda Nababan yang membacakan sajak ”Aku Tulis Pamflet” ini, Ratna Riantiarno (Surat Kepada Bunda Tentang Calon Menantunya), Renny Djayusman (Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta), Wowok Hesti Prabowo (Orang-Orang Miskin), Haris Kertorahardjo (Kangen) dan Jajang C Noer (Perempuan yang Tergusur).

Setelah itu tampillah para personil Kantata Takwa, minus Setiawan Djodi dan Iwan Fals. ”Ini adalah Kantata Takwa minus Iwan dan Djodi. Selamat ulang tahun mas…” kata Sawung Jabo memberi salam dam selamat ulang tahun kepada guru dan kawannya itu.

Selanjutnya, tembang-tembang yang berangkat dari syair-syair Rendra seperti ”Sogokan”, ”Paman Doblang”, ”Sajak Pertemuan Mahasiswa”, ”Rajawali” dan ”Kesaksian” menyulap suasana tak ubahnya konser akbar dadakan yang membuat semua yang hadir memberikan tepuk soraknya.

Dan di atas panggung, di antara koor tembang ”Kesaksian” yang masih mengalun, disamping Adi Kurdi yang menuntun keseluruhan acara, Rendra dengan haru berujar, ”Terima kasih atas kedermawanan saudara-saudara yang hadir disini. Semoga anugerah usia ini semakin membuat saya berserah pada Yang Widi, Tuhan Yang Maha Esa”.

Penghargaan
Willibrodus Surendra Broto yang kemudian dikenal dengan nama WS Rendra pernah kuliah di Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, namun tidak sampai tamat. Dia kemudian memperdalam ilmunya di American Academy of Dramatical Arts, AS (1964-1967). Kembali ke Tanah Air, Rendra membentuk Bengkel Teater di Yogyakarta.

Sebelumnya pada 1964, suami Ken Zuraida ini mengikuti seminar internasional di Harvard, AS. Dan pada 1971 dan 1979 mengikuti Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda. Sajak-sajaknya pernah dibacakan di sejumlah kota besar dunia seperti di Amsterdam, Berlin, Koln, Hamburg, Melbourne, Sidney, New York, Moskow dan Leiden.

Karya drama WS Rendra berjudul Orang-Orang di Tikungan Jalan meraih Hadiah Pertama Sayembara Drama Bagian Kesenian Kementrian P dan K, Yogyakarta, tahun 1954. Pada tahun yang sama ia pergi ke Moskow, Rusia. Tahun 1956 cerpennya mendapat hadiah dari majalah Kisah. Tahun 1957 mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN untuk kumpulan sajak Ballada Orang-Orang Tercinta (1957).

Sastrawan ini juga meraih berbagai penghargaan antara lain Hadiah Sastra Horison (1968), hadiah Pertama dari Yayasan Buku Utama Departemen P dan K untuk bukunya ”Tentang Bermain Drama” (1976), Anugerah Seni dari Pemerintah RI atas karya ”Drama Mini Kata” (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1974). Rendra juga pernah mendapatkan Habibie Awards untuk perannya dalam dunia sastra dan budaya.

Sedangkan karya-karya monumentalnya antara lain ”Empat Kumpulan Sajak” (1961, 1978), ”Ia Sudah Berpulang” (1963), ”Blues untuk Bonnie” (1971), ”Sajak-Sajak Sepatu Tua” (1972), ”Potret Pembangunan dalam Puisi” (1980). Kumpukan sajaknya terdiri atas ”Orang-orang dari Rangkasbitung”, ”Mencari Bapa”, ”Penabur Benih”.

Sajak-sajaknya telah dialihbahasakan ke berbagai bahasa, antara lain Ingris, Belanda, Prancis, Jepang, dan Rusia. Rendra juga menerjemahkan drama-drama monumental ke dalam bahasa Indonesia, seperti Sophokles Oedipus Sang Raja (1976), Oedipus di Kolonus (1976), dan Antigone (1976). Selain itu juga melahirkan karya saduran; Perampok, dan Kereta Kencana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *