Khotbah di Bukit Prosa

Asarpin
http://www.lampungpost.com/

NOVEL Bilangan Fu (2008) mengantarkan Ayu Utami meraih penghargaan Khatulistiwa Literatur Award (KLA) 2008. Bilangan Fu bagaimanapun layak meraih penghargaan itu.

Berbeda dengan kedua novel Ayu sebelumnya, Bilangan Fu tidak mengejar bahasa imaji yang berima, kendati beberapa tempat masih tersisa. Novel ini banyak mengungkai kisah-kisah mitologis yang, selain mengenai kosmologi dan kosmogoni, juga mengaduk-aduk matematika, geometri, fisika, agama, dan tafsir tentang Tuhan sebagai satu dan nol yang rumit.

Sejak halaman muka, kita dipertontonkan rajutan berbagai narasi yang hampir mati atau sudah mati, tapi berhasil dihidupkan kembali melalui jalinan kisah-kisah kejadian yang kadang mengandung alegori mistik, motif mitos, mimpi, dan fantasi. Semua ditakik dari aneka khazanah melalui riset yang tiada bandingnya bagi sebagian besar novel Indonesia.

Beragam masalah yang dinarasikan itu sampai juga kepada masalah tiga yang bukan menguak tabir, melainkan ikut merundung sebagian besar para pengarang: Modernisme-monotheisme-militerisme (yang oleh penulisnya dengan ringan disingkat 3M). Dari sini lalu kita diajak menjelalah spiritualisme dan rasionalisme, estetika kesatupaduan dan estetika hibrida, tentang kalender Masehi, Hijriah, dan Jawa purba. Lantas mengembara dalam ceruk-ceruk ilmu falak, ilmu bumi, fisika, biologi, filsafat, dan psikologi.

Novel ini tidak cuma melukiskan peristiwa nyata atau seolah-olah nyata seperti dalam novel-novel realis, tapi metafora dengan kekuatan isi. Pola-pola geometris di tangan Ayu dipintal menjadi pola perlambangan yang berisi tapi bukan pilihan estetik. Berbagai jalinan kisah seakan menggemakan suara lonceng abad tengah yang bangkit dari dalam tiap nurani para tokoh. Barang kali inilah sebuah kekosongan yang mesti ditebus dengan kesendirian dan kehilangan. Sunya kata orang Hindu. Cifr kata Arab.

Dengan novel ini kita diajak memasuki rawa-rawa tersembunyi melalui mitos penciptaan semesta. Dalam perjalanan memasuki hamparan luas intertektualitas, kita bersiap dikejutkan berbagai kisah dalam Kitab Kejadian.

Kitab ini adalah kitab pertama dalam Alkitab, yang pada mulanya tidak merumuskan Tuhan sebagai satu. Demikian pula agama Hindu India sebelum Masehi, memiliki konsep mengenai kekosongan, ketiadaan, nihilis.

Konsep itu terkandung pada kata shu-nya, dengan lambang spasi kosong dan titik dan lingkaran nol. Lalu lama kelamaan konsep filsafat Hindu itu bermetamorfosis menjadi bilangan 0 (nol) yang ditemukan bersamaan dengan numerasi, sistem penomoran. Inilah lambang yang kemudian dijadikan sampul novel Bilangan Fu.
***

Keberanian Ayu menjelajah berbagai bidang liputan yang jauh di luar sastra, sangat pantas jika novel ini disandingkan dengan novel tetralogi Pram. Selain memuat teori fisika yang segar, khususnya soal atom dan infinitesimalitas (nilai yang mahakecil yang mendekati nol tetapi tidak sama dengan nol), novel ini mengangkat permasalahan seputar jagat raya.

Barangkali yang paling dominan, di luar persoalan psikologi, masalah matematika dan geometri. Ada bilangan mistik dengan membagi yang tak sama dengan membelah, sebaliknya, membagi di sini sekaligus memiliki sifat penggandaan: Jika aku membagi nyawaku kepada 12 anggota, aku mengalikan nyawaku dengan 12, di mana pada saat yang sama, nyawaku tetap satu. Inilah rumusnya: 1:a = 1xa = 1, dan a bukan satu.

Bisa jadi matematika bisa membuat orang terasing dan terpencil, tapi ilusi matematis sebagai logis dan pasti hampir tidak bisa dipakai untuk Tuhan di sini. Tuhan yang Maha Esa itu warisan matematika yang dilacurkan ilmu antropologi dan perbandingan agama yang kelak melahirkan teori revalasi yang terkenal dengan nama monoteisme itu. Kata “ehad” dan “ahad” dalam bahasa Ibrani dan Arab itu, kata Ayu, sama-sama berinduk Semit.

Eka adalah satu dalam Sanskrit. Esa adalah satu dalam Islam. Ini pendapat saya. Sedang pendapat Ayu, terutama mengenai Kitab Kejadian awalnya belum merumuskannya sebagai Tuhan.

Kepada Abraham ia merumuskan dirinya sebagai “Akulah Tuhan” atau “Allah Yang Mahatinggi” atau “Allah Yang Mahakuasa”. Lalu Ayu menegaskan: Satu yang dirumuskan tanpa konsep nol adalah satu yang dirumuskan bukan dalam mentalitas matematis, melainkan mentalitas metaforis. Satu yang dirumuskan tanpa konsep nol adalah satu yang sekaligus memiliki properti nol.

Inilah, saya rasa, yang dicari-cari tokoh Ayah melalui pendekatan dan lakunya yang sulit dimengerti dalam bilangan “satu yang juga nol” itu. Siapakah Ayah yang dimaksud Ayu di situ? Mungkin ayah Esau dan Yakub dalam kisah Kitab Kejadian.

Menanggapi kisah keluarga Ishak itu, Ayu menafsirkan begini: Belum ada rumusan eksplisit tentang keesaan Tuhan seperti kelak dalam wahyu kepada Musa. Bahkan dalam kisah Esau dan Yakub yang panjang umur itu, kata Ayu, telah muncul persoalan nama, yakni manusia ingin mengetahui Tuhannya. Namun, Tuhan tidak mau mengungkapkan nama-Nya. Kebilangan dan kenamaan ini pula yang jadi inti novel ini.
***

Demikianlah. Kearifan di atas memberi renungan yang tidak mudah. Kisah dalam Kitab Kejadian menegaskan bahwa Tuhan bukan seperti dalam konsep monoteisme, yang memaksakan konsep satu yang matematis kepada nol yang mistis. Zero yang spiritual adalah yang kosong sekaligus penuh, tidak berupa, tidak terbatas, tidak berbanding, dan maha. Penemuan angka 0 dan 1 konon merupakan revolusi dalam pikiran manusia.

Saya pernah baca juga tentang bilangan nol dari kitab sastra yang dikarang orang Jawa. Kitab Bumi Manusia.

Nol itu keadaan suwung, kata Pram. Sebuah kosong. Seperti telur yang tinggal cangkang. Dari sebuah cangkang kosong, terjadi awal lagi. Dari awal terjadi mengembang sampai puncak, angka 9, kosong, berawal lagi dalam nilai yang lebih tinggi, belasan, ratusan, ribuan, kosong, dst. Kami tahu juga, betapa tidak berartinya sistem desimal tanpa nol, bukan?

Karena Tuhan sebagai satu, bisa jadi bahwa kosmos berubah menjadi chaos karena manusia sendiri terlampau lancung menerapkan yang puitis dan metaforis secara matematis dan geometris, dan yang spiritual menjadi yang rasional. Padahal “pikiran rasional membentangkan sebuah garis pembatas terhadap konsep seseorang dalam hubungannya dengan kosmos”, tulis John Forbes Nash–matematikawan “gila” peraih Nobel itu. Itulah “selingan-selingan rasionalitas yang dipaksakan kepada kita untuk memahami dunia”.

Modernisme, selain syarat dengan keyakinan yang pasti, juga syarat dengan kekhawatiran mendalam akan kelangsungan umat manusia karena kemajuan ilmu pengetahuan telah jauh-jauh hari menyandarkan rasionalisme dalam ketinggian yang bikin cemas jutaan manusia. Orang terlalu sadar dengan satu, rasa gandrung pada ruang dan bentuk, padahal itu hanya ilusi.

Tidak banyak yang sadar isi, yang mau menyangga Kitab Suci dengan puisi-prosa dan menjadikan kesetaraan secara tidak tampak antara dongeng tua dan Kitab Suci. Bisa jadi bahwa Esau dan Adam berhubungan dengan Saturnus dan Titan–bulan kedua Saturnus–adalah Yakub sekaligus musuh Buddha dan Iblis, sebagaimana fantasi John Forbes Nash ketika sedang berada di ambang delusi.

Boleh jadi matematika merupakan ungkapan nalar yang bersahaja, dan ada lambang-lambang unik dan cantik, konvensi-konvensi yang teguh, ringkas. Tapi, agama, iman, Tuhan jika didekati secara matematis-logis atau melalui pola-pola geometris atau nalar matematis, barangkali akan kehilangan aura estetis. Tak ada kata pasti untuk agama, iman, dan Tuhan. Karena kalau demikian adanya, sama saja dengan 3M yang mendesakkan yang rasional kepada yang spiritual atau mendesakkan kemurnian kepada yang campuran, etika tunggal, dan estetika hibrida. Dan makna tauhid bukan sebuah tamsil.

Pernyataan bahwa “Tuhan itu esa” terkesan sebagai tauhid yang tidak berhubungan dengan Tuhan karena kalimat itu menyatakan jumlah bilangan yang meniscayakan adanya kondisi yang terbatas.

Yuda dalam kitab Bilangan Fu seperti metamorfosis Mansur yang meninggalkan guru darwis dan beralih berguru kepada iblis. Seandainya tidak ada iblis di surga, mungkin takkan ada perintah untuk membaca karena Kitab Suci sendiri mungkin tidak ada.

Seandainya tidak ada Yuda yang bergelar “si iblis” itu, apa arti Parang Jati dan orang-orang Farisi dan tokoh-tokoh lain.

Dari sini kita diajak masuk ke ceruk-ceruk tersembunyi perihal pemanjatan tebing yang bermetamorfosis menjadi pemanjatan suci: Sacred climbing! Di sini Parang Jati seperti mengulum senyum yang menyembunyikan sesuatu, tapi bukan bertanda sebagai sinis, melainkan kritis; senyum naif yang kanak-kanak dan bukan senyum orang tua yang munafik.

Akhirnya, novel ini mengungkai hal-hal yang tidak selesai. Tentang Khotbah di Bukit Prosa, tentang Surat Musa, tentang Kitab Kejadian dan Kitab Kejatuhan, dan di atas semuanya adalah tentang gugatan seorang feminis atas sains yang patriarkat:

“Matematikawan adalah orang yang sangat eksklusif. Mereka menempati suatu dataran sangat tinggi dan memandang rendah semua orang lain. Ia membuat hubungan mereka dengan perempuan sangat rumit”. Luar biasa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *